Bagaimana Islam Melihat Dunia? Part 2

Posted by Rizky kusumo On Friday, August 24, 2018 0 comments

           

 

          Anggaplah kita pernah berpergian, naik gunung mungkin atau ke daerah-daerah terpencil. Pada saat itu kita tentunya tidak mengetahui jalan yang akan dilewati. Tentunya lain soal kalau kita mempunyai ilmu kanuragan melihat arah mata angin warisan eyang dan mbahmu. Pasti kalian setidaknya membawa sebuah alat sebagai pegangan petunjuk arah, biasanya alatnya bernama Kompas.

           Kompas inilah yang bisa saya sebut sebagai syariat bagi masyarakat Muslim, sebuah petunjuk jalan dari perjalanan nan panjang. Kompas akan menunjuki manusia disaat gamang jalan mana yang akan mereka lalui. Tentunya bagi para traveler, mereka mau tidak mau haruslah mengikuti arah Kompas tersebut. Kalau tidak, apesnya mereka akan memutar dua kali atau paling buruknya tersesat tidak bisa kembali. Bagi saya itulah guna syariat bagi masyarakat Muslim kurang lebih.

         Tapi mengapa tidak Peta yang digunakan? toh kita pun akan mahfum bahwa letak geografi bumi selalu berubah, semakin memanjang atau memendek. Apalagi bagi tukang babat alas daerah terpencil, peta tentunya semakin tidak berguna, bahkan sekaliber google map pun belum mendeteksi wilayah tersebut. Yang ada tentunya kita melakukan berbagai cara untuk bisa membaca wilayah tersebut, dengan akal ataupun alat bantu seperti kompas. Inilah yang sering digunakan oleh para ulama dan cendekiawan muslim dahulu kala dengan metode ijtihad, yang melahirkan berbagai macam rupa bentuk baik hukum, filsafat, hingga ilmu pengetahuan.

Peta yang Sudah Lapuk Di Abad Modern
 
           Pada saat mudik lalu, sehabis halal bihalal dengan keluarga besar dan menyantap sajian lebaran. Anda coba membongkar-bongkar lemari-lemari eyang dan mbahmu yang se-zaman dengan Jenderal Soedirman. Tak tau apa-apa kita pun menemukan peta yang begitu lapuk, mengambarkan wilayah Jawa dan sekitarnya. Tapi semakin kita baca-semakin puyenglah kita, bukan karena tidak mengerti perkara geografis. Namun, karena begitu banyaknya hal yang berbeda baik nama wilayah hingga rute perjalanan, apalagi setelah kita tahu kalau peta itu ternyata dibuat saat perang diponegoro.

          Masalah Teologi, Hukum sampai praktek ritual menjadi salah satu masalah umat Islam yang melanda belakangan ini. Tidak sedikit hal ini memberikan gesekan bagi internal umat Islam sendiri, baik menimbulkan pelabelan hingga saling bunuh satu sama lain. Belum lagi masalah eksternal umat Islam yang dikepung oleh kapitalisme, neo-imperialisme, bahkan zionisme. seperti kejadian yang dicontohkan di atas, apakah umat Islam masih tetap dengan total menggunakan peta yang sudah lapuk ini, walau terbentur sana-sini? atau meninggalkannya?

          Salah satu pemikir kontemporer Islam, Hasan Hanafi pernah mengungkapkan kegelisahan ini. Bagi pemikir asal Kairo ini masyarakat muslim terbagi menjadi dua saat menghadapi tantangan modernitas. Ada mereka yang masih tetap teguh memegang tradisi yang mengatakan bahwa pemikiran klasik sudah memberikan solusi, baik masa lalu, sekarang hingga masa depan, mereka pun kerap disebut kaum tradisional. Ada juga kaum modern yang menganggap “bangunan lama” sudah harus ditinggal, karena tidaklah bermakna apa-apa. Tapi Hanafi sendiri lebih memilih pendekatan ketiga, bagaimana menggabungkan antara tradisi dan perubahan, lalu mengindentifikasi sehingga menemukan hal yang relevan dengan zamanya.

           Bagi Hanafi sendiri masyarakat Muslim sedang mengalami permasalahan baik di luar dirinya (eksternal) juga dalam dirinya (internal). Mereka (baca : umat Islam) masih mengalami kemiskinan, ketertindasan, dan keterbelakangan. Lalu dari luar pun ada tiga ancaman yaitu Imperialisme, Kapitalisme, juga Zionisme. Kondisi ini haruslah ditanggapi sebagai prioritas bagi masyarakat muslim. Bila tidak tentunya arus dominan yang muncul adalah stereotip baik yang menyudutkan Islam sebagai ‘terbelakang”. Atau pembalasan berupa martir-martir yang bergeriliya di seluruh dunia?

Peta Muslim Masa Depan
 
           Seperti yang sudah saya ungkapkan dalam tulisan bagian pertama , bagaimana mayoritas muslim dibeberapa negara tidak begitu bermasalah dengan demokrasi. Tentunya hal ini bisa terjawab dengan pendekatan pemikiran Hasan Hanafi dan juga pemikir islam kontemporer lain, macam Abul A’la Al-Maududi, Ali S ataupun Sayyid Qutb. Mereka pun tidak setuju dengan pemerintah otoriter yang menggunakan selubung agama, untuk melegitimasi kekuasaan dan penderitaan terhadap rakyat. Sayangnya hingga sekarang masih begitu lazim terlihat di negara-negara mayoritas muslim.

           Hasan Hanafi sendiri memaparkan beberapa hal yang harus dilakukan masyarakat muslim untuk membuat peta masa depannya. Seperti ungkapan seorang Tokoh Pemikir Islam bahwa untuk melawan modernitas tidaklah perlu menjadi barat, atau kalau ingin menunjukan keislaman tidaklah perlu menjadi Arab. Tapi Islam sendiri bisa memberikan jawaban atas solusi tersebut. seperti diungkapkan oleh Hanafi bahwa ada dua metode untuk menafsirkan khazanah Islam klasik
Cara pertama adalah dengan melakukan reformasi bahasa.

           Bahasa sendiri adalah alat untuk mengekspresikan ide-ide sehingga perlu dilakukan reformasi. Sehingga memenuhi fungsinya sebagai media ekspresi dan komunikasi. Reformasi ini dapat dilakukan secara otomatis ketika kesadaran berpaling dari bahasa lama kepada makna dasarnya, kemudian berusaha untuk mengekspresikan kembali makna dasar ini dengan menggunakan bahasa-bahasa yang sedang berkembang. Dengan demikian, makna yang dipegang adalah makna tradisi, sedang bahasanya adalah bahasa yang telah direformasi.

         Sebagai contoh tentang makna dari istilah “Islam’ yang biasanya secara umum diartikan sebuah agama tertentu. Menurut Hassan Hanafi sebaiknya istilah ini diganti dengan “pembebasan” sebagaimana disimbolkan dalam syahadat. Asumsi dasar dari pandangan teologi semacam ini adalah bahwa Islam, dalam pandangan Hassan Hanafi, adalah protes, oposisi dan revolusi. Baginya, Islam memiliki makna ganda. Jika untuk mempertahankan status-quo suatu rezim politik, Islam ditafsirkan sebagai tunduk. Sedang jika untuk memulai suatu perubahan sosial politik melawan status-quo, maka harus menafsirkan Islam sebagai pergolakan-pergolakan.


      Kemudian setelah melakukan reformasi terhadap istilah Islam itu sendiri. Tentunya masyarakat Muslim membutuhkan penyegaran kembali terhadap khasanah ilmu-ilmu klasik. Seperti halnya ilmu tentang Teologi, Ushul Fiqih/hukum dan juga pokok-pokok agama islam. Salah satu yang menjadi wacana dari Hanafi sendiri adalah merubah tujuan yang dari membela keesaan Tuhan, menjadi pembebasan terhadap manusia. Apalagi dengan adanya ancaman yang sudah disebut diatas, terntunya umat Islam butuh rekontruksi agar bisa menjawab tantangan zamanya.

        Lah kok kita mau merecoki Teologi? Kafirkamu… Pasti banyak yang berpikir seperti itu. Tapi pertanyaannya apakah Teologi yang kita ketahui itu merupakan Tuhan itu sendiri? Apakah kita benar-benar mengenal tentang “Tuhan”?Ataukah itu cara para pemikir Islam masa lalu untuk mendefinisikan tentang Tuhan? Karena kalau Teologi merupakan salah satu ilmu tentunya dia akan bergerak secara dinamis, sesuai waktu, tempat dan zaman. Akhirnya setiap zaman harus merekonstruksi hal tersebut terutama masyarakat Muslim sendiri.

       Pada zamannya, ilmu Teologi mampu menjawab tantangan-tantangan yang menyerang akidah masyarakat Muslim. Tapi pada masa kini tantangan itu berubah saat masyarakat Muslim terus menerus menjadi objek serangan, dieksploitasi oleh kapitalisme dan imperialisme. Karena bila kita tidak sadar dan hanya membahas masalah bahwa bumi itu datar? berjenggot atau tidak? repot ngurusi yang produk halal? Karena kalau tidak, kita hanya mencari dan mengejar sesuatu yang tidak nyata, kayak itu tuh yang lagi hits, Khalifah *ehh Pokemon Go.
READ MORE

Bagaimana Islam Melihat Dunia? (Part 1)

Posted by Rizky kusumo On 0 comments

          

 

             Ledakan demi ledakan terjadi, dari mulai Turki, lalu Irak, bahkan kota suci Madinah, juga menyasar ke Indonesia ujung jauh Timur Tengah. Dentuman Bom, lalu diiringi teriakan korban hingga histeris-nya keluarga melihat mayat-mayat kerabatnya,  bergelempangan tanpa daya. Udara pun penat saat manusia ber talu-talu tan, yang (ironinya) kontras, Saat Takbir bersaut-saut an, menyambut hari fitri, suara jeritan, tangisan, kutukan, pun tak pantas ditulikan, di dunia yang tidak hanya hitam-putih.

             Teror sebagai filsafatnya tidak hanya menyerang untuk bertujuan membunuh seseorang atau sesekaum. Tapi lebih dari itu, serangan teror lebih mengarah kepada mereka yang hidup. Memberikan sebuah pesan “kalau mereka ada”, dan “terus berlipat ganda”. Terlepas apapun tujuanya?
              Tapi karena dunia sudah begitu bising memang untuk dimasuki kaum-kaum teror, yang pantasnya hidup di zaman Troya. Membelah masyarakat dunia, terus membelah hingga memunculkan Islamofobia, masyarakat Islam pun terbelah pro dan kontra. Dunia pun terus bising tanpa solusi selain teror-teror dalam bentuk lain, sosial media.

              Pada moment ini kita pun mafhum belaka, bila kaum-kaum atau “karakter”, layaknya Donald Trump, ISIS, atau Ormas jadi-jadian di Indonesia, begitu laku di pasaran. Atau gaya-gaya-an Pluralisme Liberalisme yang begitu daring di media dengan kutubnya masing-masing, serta dianggap mewakili pemikiran Islam. Tapi bagaimana “Islam” itu sendiri melihat dunia? apakah “se-ekstrim” itu? atau malah demokratis? Dunia dan Islam, begitu tak akurkah?

              Ledakan bom terjadi di Baghdad (2/7/2016), bertepatan dengan bulan suci Ramadhan, menewaskan 79 orang serta lebih dari 131 orang terluka. Lalu, menjelang Idul Fitri (4/7/2016), bom meledak di Madinah kota suci. Selang beberapa hari kemudian, Bangladesh (7/7/2016) mengalami hal serupa dengan korban satu orang polisi, kejadian ini menjadi rentetan teror yang melanda negara dengan hutan bakau terbesar di dunia itu. Semua pandangan pun mengarah kepada ISIS sebagai pelaku dengan tujuan sucinya, mendirikan kekhalifah-an.

             Tapi apakah itu merupakan representatif dari seluruh umat Islam? Apakah “kekhalifah-an” merupakan ujung dari “jihad suci” ini? Lalu bagaimana khalifah itu sendiri? Benarkah itu yang disebut “jihad”?

            Jawaban itu semua mungkin ada di ujung langit, berharap turun di ubun-ubun kepala saat sujud atau saat rapel zikir malam hari. Hingga akhirnya yang kita “cari” rupa-rupanya hanya gaya-gaya an ala Hollywood, karena itu yang kita tunggu hanya pandangan ekstrim dengan perwakilan ISIS dan sejenisnya, pada satu sudut. lalu satu lagi para pluralis liberalis yang terlalu tolerannya hingga mencerabut akar-akar. Bak gaya berkoboi-koboi, saling serang satu sama lain.

           Lalu apakah anak-anak korban bom Bangladesh tidak punya hak suara dengan keislamanya? Bagaimana dengan para imigran-imigran Suriah? kalau begitu, bagaimana dengan manusia perahu dari Rohingya, tidak bolehkah mereka bermimpi ke mana agamanya akan dibawa?
Saatnya Muslim Bicara
Buku Saatnya Muslim Bicara!
             Survei Gallup World Poll sepertinya membantah beberapa hal yang berkembang saat ini. menyajikan dalam sebuah buku dengan judul “Saatnya Muslim Bicara!” Gallup World pun membahas hal-hal yang biasanya begitu asing dipertanyakan di dunia muslim. Seperti sistem demokrasi, pendapat muslim tentang terorisme dan kekhalifahan, hingga masalah perempuan muslim yang begitu sensitif di dunia barat. Melibatkan hampir 1,3 Milyar muslim di seluruh dunia, walau survei ini sudah dilakukan 10 tahun lalu, bagi saya sendiri analisa ini masih cukup relevan dengan konteks umat Islam.

Memlih Gurun Pasir atau Lampu Terang Benderang?
 
              Ada banyak hal yang menjadi benturan antara dunia barat dan Islam, baik masalah sosial, ekonomi, hingga budaya. Namun salah satu yang menjadi back bone dari serangan-serangan yang terjadi belakangan ini, merupakan masalah politik. pada satu sisi barat sebagai perwakilan modernitas begitu menjunjung demokrasi sebagai falsafah hidup. Tidak segan hal ini pun dipaksakan kepada negara-negara dunia ke-tiga, baik Asia, Amerika Selatan ataupun Afrika. Salah satu yang begitu teringat dibenak umat Islam adalah peristiwa invasi Irak, Mosul, atau yang belakangan ini terjadi di Suriah.

          Tapi apakah umat Islam sendiri sangat anti kepada “demokrasi” itu sendiri? Seperti yang berhari-hari di analisiskan oleh pakar Timur Tengah barat, hingga melahirkan stereotip “Islam Radikal”.Pendapat barat perihal Islam sepertinya masih terpaku dengan beberapa pemikir seperti Francis Fukuyama, Samuel Huntington, atau Bernard Lewis. Salah satu yang pernah di ungkap Fukuyama berikut,

        “Bukan kebetulan bahwa demokrasi liberal modern muncul pertama kali pada masyarakat barat yang kristen. Karena universalisme hak-hak demokrasi dapat dilihat sebagai bentuk sekuler dari universalisme kristen…. Tetapi, tampaknya memang ada sesuatu mengenai Islam, atau setidaknya Islam Fundamentalis yang mendominasi pada tahun-tahun terakhir ini, yang membuat masyarakat Muslim sangat menentang kemodern-nan”.

          Tapi apakah masyarakat muslim begitu membenci demokrasi? Hal ini terbantahkan dalam survei, sejumlah negara mayoritas muslim seperti Indonesia (90%), Mesir (94%), Iran (93%) ternyata cukup mengagumi beberapa aspek demokrasi ala barat. Diungkapkan disitu bahwa “mereka akan memperbolehkan warga untuk mengungkapkan pendapat, mengenai permasalahan polituk, sosial, hingga ekonomi masa itu”

          Namun, kenapa sistem demokrasi begitu sulit tumbuh di negara-negara mayoritas muslim? Jawabanya ternyata bukan karena agama, tapi lebih kepada sejarah. Barat membutuhkan waktu berabad-abad untuk merubah sistem monarki mereka menjadi seperti sekarang. Sedangkan umat Islam sejak ratusan tahun dijajah oleh kolonialisme. lebih parahnya beberapa negara seperti India, Hijjaz (yg sekarang bernama Arab Saudi) dan sekitarnya, sampai Mesir. Merupakan wilayah yang kemerdekaanya diberikan oleh pihak kolonial. Sehingga kuku-kuku imprealisme pun masih tertanam kuat.

           Tentu saja selain itu proses transisi yang masih terhitung jari (puluhan tahun), pun membuat benih-benih intrik masih terdapat dalam sistem “demokrasi’ mayoritas negara-negara muslim. Tapi kita pun tidak bisa menutup mata dari sikap standar ganda barat dalam hal ini. Saat beberapa pemilu yang berhasil secara demokratis, malah “dibubarkan”. Karena tidak sesuai selera barat itu sendiri. Kejadian Hamas yang memenangi pemilu Palestina atau kejadian Mursi beberapa tahun lalu bisa menjadi contoh. Lalu toh barat tetap santai-santai saja melihat “feodalisme” masih tertanam di negara yang notabene masih sekutunya, ya seperti Arab Saudi.

           Selain itu masyarakat Muslim tidaklah mau menelan bulat-bulat sistem demokrasi barat. Mereka pun berkeinginan adanya syariat-syariat Islam yang menjadi rujukan dalam masalah hukum, ekonomi, maupun politik. Hal ini didasari bahwa dalam agama Islam tidaklah menganut paham sekuler, yang memisahkan antara negara dan agama. Tentulah banyak kontra dari keinginan masyarakat muslim tersebut, terutama dalam masalah pelaksanaan hukum.

            Walau tidak bisa dipungkiri banyaknya tafsir yang berbeda mengenai hukum terutama, juga banyaknya nash-nash yang di “bajak” untuk kepentingan satu golongan. Tidaklah begitu saja membuat barat sebagai arus dominan hingga melarang sistem ini berlaku. Karena layaknya udara yang membuat manusia bisa selalu hidup, syariat adalah daya hidup umat Islam. Lalu bila mayoritas masyarakat Muslim mendukung penerapan syariat, haruskah barat panik?
READ MORE

Negeri Raja-Raja : Palagan (Abadi) Kecoa dan Wanita Tua dengan Gagang Sapu

Posted by Rizky kusumo On Sunday, May 14, 2017 0 comments
      

               

              Wanita tua itu memegang gagang sapunya sementara mangsanya terus berlari mengitari ruangan tersebut. Mangsa yang jelas mempunyai masa dan daya lebih rendah dari sang wanita tersebut terus berjuang agar tidak mati konyol hari ini. Sementara wanita tua dengan gagang sapunya itu terlihat tidak memperdulikan semangat hidup sang mangsa. Dengan kekuatan dan kekuasaan yang dianugerahkan oleh sang pencipta kepadanya. Dirinya menjadi merasa layak untuk menentukan hidup dan mati mangsanya tersebut terutama bila kita tahu siapa mangsanya, karena baginya siapa juga yang peduli terhadap mangsanya itu?

"Tak bisa lari kau jahanam," hardiknya kepada sang mangsa.

            Wanita itu sendiri merupakan penjaga kantin di sebuah kantor lembaga kenegeraan di negeri raja-raja ini. Sementara mangsa yang menjadi sasaran hardiknya tersebut adalah makhluk serangga bernama kecoa. Saya sendiri berada dalam kantin tersebut sejak 5 menit sebelum pertempuran antara wanita tua tersebut dengan si kecoa. Sementara kantin tersebut memang telah ramai seperti biasa dengan muda-mudi, hingga kaum pekerja tentunya tidak ada pengemis ataupun pengamen, Berada di pojok ruangan dengan buku dan satu buah kopi hangat, saya pun mulai memperhatikan pertempuran itu.

             Pertempuran itu sendiri sudah berjalan bertahun-tahun lamanya melewati satu generasi ke generasi lainya. Wanita itu dari yang kudengar merupakan generasi ke-lima dari peletak penjaga kantin di lembaga negara tersebut. Sementara koloni si kecoa jelas lebih tua dari generasi-generasi wanita tua tersebut karena dalam hikayat, serangga termasuk mahluk awal di Bumi. Tapi jelas hikayat bukanlah hukum, tak ada perdulinya. karena semua hal di negeri raja-raja ini bedasarkan akal hingga semuanya harus berlandaskan kesepakatan,

            Pertempuran ini sendiri merupakan salah satu yang abadi karena terlihat mempertemukan antara putih dan hitam. Kalau kita lihat konteksya, kecoa tersebut berada dalam sisi yang hitam, karena kita tahu bedasarkan kesepakatan, kecoa itu kotor dan segala yang kotor berada dalam sisi hitam, berada dalam sisi yang hitam berarti lumrah dibinasakan oleh si putih. Sementara sisi putih itu ada dalam wanita tua dengan gagang sapunya tersebut. Karena siapa yang tidak suka dengan kebersihan? Kebersihan kan sebagian dari iman? Jadi berlandaskan kesepakatan tidak ada perlindungan bagi kecoa tersebut.

"Hihh sayanggggggggg, kecoa," teriak salah satu pengunjung kantin yang kulihat adalah wanita muda.

Sementara kekasihnya memegang tangan sang wanita dan mencoba menenangkan, "tenang-tenang, itu bude lagi mau ngusir," ucapnya berharap bude atau si wanita penjaga kantin tersebut mampu mengusir serangga tersebut. Dan tidak menggangu jalanya waktu makan siang mereka.

"Tidak Mas, saya tidak akan mengusirnya kali ini, akan saya bunuh dia, ingatkan itu nanti," tegas wanita tua itu sembari mencari keberadaan serangga tersebut.

             Saya sendiri hanya pernah melihat lima kali pertempuran antara wanita tua dengan para serangga yang bernama kecoa tersebut. Tapi sepanjang hidupnya jelas sudah puluhan kecoa harus bertarung untuk tidak mati konyol. Selama lima kali pertempuran yang ku tahu pun, tiga pertempuran membuat para kecoa harus merenggang nyawa, sementara hanya dua kali serangga tersebut barhasil lari, mungkin termasuk yang sekarang, Tapi karena dunia terlalu kecil, persilangan antara waktu dengan ruang membuat kecoa tersebut kembali menemukan takdirnya, bertemu dengan orang yang akan mencoba membunuhnya. Tapi ada takdir lain yang si kecoa sadari di depanya, bisa lari dengan bangga atau akhirnya mati konyol dengan gagang sapu.

            Tapi benarkah wanita tua tersebut benar-benar membenci serangga tersebut hingga mati-mati an akan membunuhnya? Apakah dirinya memilih takdir untuk menjadi pembunuh para kecoa selama ini? Ataukah dirinya merupakan salah satu korban sama seperti kecoa yang tidak bisa memilih kebebasanya atau menentukan keadilanya sendiri. Karena selama yang ku tahu hampir mayoritas pengunjung kantin tersebut tidak suka dengan kekotoran terlebih lagi itu kecoa. Tapi tidak semua orang pada ruang itu mau berkotor-kotor mengusir atau membunuh serangga tersebut. Hingga wanita tua itu pun harus mengangkat gagang sapunya lagi bertarung dengan kecoa.

            Karena sekali lagi yang ku tahu, keberlanjutan sebuah tempat makan salah satunya adalah tentang kebersihanya, selama ada hal yang berbau kotor pastilah akan mengurangi kedatangan pengunjung. Berkurangnya pengunjung tentulah berhubungan langsung dengan masalah ekonomi sang wanita tua. Saat ekonomi terus berkurang pada saat itu kehidupan sang wanita tua dengan keluarganya akan terancam. Hingga pada dasarnya sang wanita pun hanya punya pilihan membunuh si kecoa atau mati oleh kejamnya hidup. Lalu hingga sekarang pun saya mengira bahwa sutradara pertempuran itu bukanlah wanita tua dengan objeknya si kecoa. Namun, kesepakatan mayoritas orang yang berada dalam ruangan tersebutlah yang sebenarnya pelaku-pelaku dalam pertempuran tersebut.

           "Budeeee, itu kecoanya," teriak salah seorang konsumen tempat makan tersebut.

           Sayup-sayup teriakan beberapa pengunjung membantu wanita tua tersebut mencari serangga jahanam tersebut. Beberapa dari mereka pun mengangkat bangku untuk memudahkan aksi si wanita tua menyerang kecoa tersebut. Suasana jelas begitu ramai siang hari tersebut dengan dukungan kepada wanita tua untuk memenangkan pertempuran tersebut. Semuanya jelas mendukung wanita tua tersebut hingga membuatnya terus bersemangat. Tentu tidak perlu diperdebatkan, walau negeri raja-raja hidup dengan prinsip demokrasi, jelas hak membela terhadap kecoa tidak pernah ada. Kecoa adalah mahluk yang tidak bisa membela diri, tidak punya hak bicara (jelas memang tidak bisa) atau diperjuangkan haknya. Tidak hingga sekarang saat negeri raja-raja memilih jalan demokrasi sebagai tujuanya.

            Negeri para raja-raja memang memilih jalan demokrasi setelah kungkungan panjang era awan-awan ketakutan. Sekarang semua orang berhak berbicara bahkan yang mati pun layak untuk "diperbicarakan" oleh para penikmat hidup. Semuanya memang punya hak bicara tapi tidak berarti semua terjamin memiliki hak untuk diperdengarkan, Termasuk bagi  kecoa-kecoa itu, mereka tidak bisa bahkan tidak layak didengarkan suaranya. Manusia memang terkadang berkhayal bahwa akhir perjuangan demokrasi ialah membuat sesuatu bisa bebas berbicara. Padahal seharusnya mereka pun harus melucuti kekuatan dari para orang-orang kuat, mereka yang memiliki massa terutama modal. Kemudian memberikan hal tersebut kepada mereka-mereka yang lemah untuk bisa merasakan demokrasi hakiki.

           Tapi siapa yang mau melucuti konsumen dalam kantin tersebut? Kemudian memberikan hal tersebut kepada para kecoa-kecoa itu? Jangankan sejak era awan-awan ketakutan, pada awal-awal negeri raja-raja membuka hutan pun para kecoa jelas tidak punya hak untuk diperdengarkan. Terkadang saya pun berharap para aktivis-aktivis lingkungan itu mau berjuang untuk meningkatkan harkat martabat para kecoa. Setidaknya toh mampu meningkatkanya menjadi salah satu hewan yang layak untuk masuk jajaran sistem produktifitas manusia. Setidaknya membuat mereka mampu mati secara terhormat daripada harus mati dengan gagang sapu setiap kali.

         Tapi saya pun paham bahwa para aktivis jelas pasti berjuang untuk para mereka-mereka yang lemah itu. Masalahnya yang lemah-lemah itu jelas semakin banyak bahkan berlipat ganda dalam skema globalisasi sekarang. Bisa jadi memang para kecoa itu tidak termasuk dalam skema perjuangan golongan yang lemah-lemah itu. Karena itu para kecoa tersebut harus bertarung habis-habis an untuk meperjuangkan hidupnya kelak. Saat para konsumen itu menjadi kaum moralis untuk menekan sang penjaga kantin menyerang kecoa itu. Sang serangga pun mengangkat pundaknya melawan hingga nafas penghabisan.

"Gubraaakkkkkk," terdengar jelas sang penjaga kantin tersebut terjatuh karena terpeleset, rasa sakit dan malu menggelapkan mata sang penjaga kantin,"tutup semua pintu, ambil semprotan serangga," tegasnya dengan lantang.

         Lalu berduyun-duyun anak-anak dari penjaga kantin tersebut keluar dari dapur dan meja resepsionis untuk membantu menghadapi si kecoa. Bala bantuan jelas menjadi salah satu resep ampuh bagi mereka untuk segera menyelesaikan pertarungan. Tidak hanya memberikan motivasi bagi sang penjaga kantin tapi jelas ampuh menghancurkan mental si kecoa tersebut. Karena bagi si kuat langkah awal untuk menghacurkan si lemah adalah menumpulkan sendi-sendi perjuanganya, pertama tentunya bungkam semua saluran mereka untuk bicara, setelah itu perjuangan akan terasa semakin berat, tapi saat perjuangan terus semakin menyebar berbelit menjadi militan, hancurkan harapanya.

"Ventilasi itu mungkin harapanku," mungkin itu yang diucapkan oleh si kecoa saat mulai mengepakan sayapnya dan terbang, tapi penjaga kantin jelas tidak rela mangsanya itu yang sudah jelas-jelas menghinanya lepas dari genggaman.

"Srootttttttttttt....Srottttttttttttt," bunyi semprotan serangga mulai menyerang si kecoa tersebut sebelum menjauh dari jangkauan. Para anak-anak dari si penjaga kantin pun mulai menjaga ventilasi dengan persenjataan lengkap.

        Kecoa itu pun mulai sempoyongan kehabisan tenaga, udara semakin menipis karena tercemar dengan semprotan serangga, ventliasi yang menjadi harapanya pun semakin menjauh. Nyatanya terbang tersebut menjadi salah satu perjuangan terakhirnya. Harapanya mungkin hanya orang-orang yang berada di kantin tersebut. Tapi jelas tidak ada dari mereka yang ingin menjadi pahlawan kesiangan, tentunya setelah masa para pahlawan-pahlawan. Mereka memilih untuk diam agar tidak terlihat lebih kejam, atau mungkin hanya tidak mau repot berdebat, selebihnya mungkin melihat kematian kecoa tersebut akan melepas beban mereka dari umpatan para pembenci kekotoran tersebut, hingga meraka tidak merasa bergabung dengan para pengumapat, karena sekali lagi memang tidak ada yang bisa netral dalam hidup itu sendiri.

        Saya pun berada dalam posisi itu, setelah perjuangan yang heroik dari si serangga tersebut tampaknya ku pun ingin bergelut dalam pertempuran itu. Ingin ku melemparkan buku ku dan menyingkirkan secangkir kopi yang telah habis itu, lalu menggemgam gagang sapu supaya tidak menghantam tubuh lemah si serangga itu. Ingin ku tarik lengan wanita itu, kulucuti kekuatanya dan kepongahan para konsumen yang berkeinginan menghancurkan si lemah itu. Tapi tak dianya awan-awan kekhawatiran malah lebih kuat menariku untuk tetap duduk manis termangu memangku buku serta cangkir kopi.

       Bergulatan itu memang tidak adil, kita tahu itu, tapi masuk ke dalam pergualatan itu tentu menjadi hal yang tidak bijak bagiku. Hal pertama tentunya saat ku ingin mencegah si penjaga kantin untuk memukul si serangga, pastilah tidak hanya butuh teguran halus. Serangan fisik harus dikerahkan, dorong mendorong tentu tidak terhindarkan. Lalu saat kekuatan ku sebagai lelaki lebih kuat untuk melawan si penjaga kantin yang perempuan, tentulah bisa saja ku berurusan dengan Komnas Perempuan. Atau kalaupun kuberhasil menyelamatkan si serangga itu, tak terhitung beberapa label yang akan melekat, mulai dari kecoakers, teman kecoa, Front Pembela Kecoa, Anti-Kebersihan, dan segala berondongan gerombolan-gerombolan istilah-istilah lainya.

       Saat pikiranku masih berada dalam awang-awang, si penjaga kantin itu pun akhirnya melancarkan pukulan pamungkasnya. Pukulan itu pun mengakhiri perjuangan dari si serangga itu untuk tidak mati komyol hari itu. Memberikan nafas lega bagi para muda-mudi dan konsumen lain untuk kembali menikmati santapan romantis. Menyesakan nafas bagi para orang-orang yang menolak kejadian tersebut bahwa perjuangan terkadang tidak semua terbayar lunas di dunia. Tapi semua pun menyadari satu hal dari pukulan si penjaga kantin tersebut. Saat pukulan menghantam tubuh si kecoa, semua darah dan kotoran si serangga pun berhamburan keluar, mengotori baik lantai ataupun baju si penjaga kantin. Selebihnya mungkin kita bisa paham bahwa "kebersihan" yang disepakati oleh manusia itu tetaplah ilusi.

"Yang nyata hanyalah parade kekuatan," ucapku dalam hati sebelum keluar dari kantin tersebut.

      
         





           
READ MORE

Arti Lagu Coldplay - Everglow

Posted by Rizky kusumo On Wednesday, April 27, 2016 17 comments
         
         Sebuah lagu entah bagaimana bukan hanya terlihat indah dari komposisi iramanya ataupun melodinya, tapi harus juga diimbangi dengan kekuatan liriknya yang gahar. Beberapa musisi hanya memiliki yang pertama kadang juga hanya begitu istimewa karena kemampuan mengelola lirik. Tapi hal ini tidak berlaku bagi group band asal Inggris, Coldplay. 
           
            Setelah sukses dengan beberapa single-singlenya yang menghentak dunia musik selama beberapa tahun lalu, Coldplay kembali mengeluarkan masterpiecenya dalam album A Head Full Of Dream. single bertajuk Everglow yang dikemas secara melankolis benar-benar mampu menghipnotis para pendengarnya apalagi dengan balutan alunan piano dari sang vokalis Chris Martin. Apalagi konon single ini spesial dibuat Chris untuk sang mantan istri.
              
             Daripada berlama-lama dengan muqqamadimah dari Rizky Kusumo di atas, lebih baik kita langsung saja ke TKP untuk membahas prihal single tersebut. Tapi tentulah ini hanya pendapat saya semata karena yang tahu seutuhnya hanya sang empunya lagu tersebut. Okeh, langsung kita ke TKP.

Everglow - Coldplay 

                Lagu ini menceritakan tentang kepergian seseorang yang dikasihinya, "Oh, they say people come, say people go" (Oh, kata pepatah orang-orang datang dan pergi),, Padahal kekasihnya tersebut merupakan hal yang teramat istimewa baginya, "This particular diamond was extra special" (Berlian yang satu ini sangat istimewa),, Tapi dirinya berkeyakinan bahwa kekasihnya masih ada walau tidak bersamanya lagi sekarang, "And though you might be gone, and the world may not know, Still I see you, celestial" (Dan meskipun kau mungkin saja pergi, dan dunia mungkin tak tahu, Aku tetap melihatmu, kayangan).

                 Dirinya pun masih mengingat masa-masa indah bersama kekasihnya tersebut, bagaimana kekasihnya memandang dan menjalani hidup, "Like a lion you ran, a goddess you rolled, Like an eagle, you circle, in perfect purple" (Kau berlari bak singa, kau berayun bak dewi, kau berkeliling bak elang dalam warna merah jambu sempurna),, Bahkan dirinya pun bertanya kepada dunia yang masih bisa berjalan seperti biasa, padahal dirinya sedang kehilangan sesuatu yang berharga," So how come things move on? How come cars don’t slow? " (Jadi bagaimana mungkin segalanya terus bergerak, bagaimana bisa mobil-mobil tak melambat),, Apalagi dirinya masih tidak bisa melepas kenangan-kenangan bersama kekasihnya, "When it feels like the end of my world, When I should, but I can’t, let you go?" (Saat rasanya seperti akhir duniaku, saat aku seharusnya, tapi aku tak bisa, melepasmu?)

               Apalagi kenangan-kenangan bersama kekasihnya saat masa-masa sedih dan gembira masih menghantuinya, "But when I’m cold, cold, Oh, when I’m cold, cold" (Tapi saat aku kedinginan, Oh, saat aku kedinginan),, Terutama saat kekasihnya menemainya saat musim-musim duka, memberikan kehangatan saat dingin, memberi terang saat gelap,"There’s a light that you give me when I’m in shadow,  There’s a feeling you give me, an everglow" (Ada cahaya yang kau berikan kepadaku saat aku dalam bayangan, Ada perasaan yang kau beri padaku, yang terus bersinar)

              Dirinya pun sempat bertanya tentang janji setia mereka untuk selalu bersama hingga maut yang memisahkan, "Like brothers in blood, sisters who ride, And we swore on that night we’d be friends 'til we die" (Seperti saudara sedarah, saudari yang berkendara, Dan kita bersumpah di malam itu kita kan berteman hingga mati),, Tapi dirinya tidak menyangka bahwa perubahan pun menyentuh kehidupan mereka, membuat jalinan suci itupun perlahan pupus, "But the changing of winds, and the way waters flow, Life is short as the falling of snow, And now, I’m gonna miss you, I know" (Tapi perubahan angin, dan aliran air, Hidup ini singkat seperti aliran salju, Dan kini aku kan merindukamu, aku tahu)

           Namun, karena perasaannya tersebut dirinya pun akan berjanji menjaganya selalu sebagai pengingatnya saat gelap, "Oh, what I would give for just a moment to hold, Yeah, I live for this feeling, it’s everglow " (Ohh, yang kan kuberikan hanyalah sesaat untuk direngkuh, Yeah aku hidup demi perasaan ini, Yang terus bersinar),, Sebagai penutup dirinya pun berharap kepada semua orang untuk mengungkapkan rasa cintanya, sembari berharap rasa cintanya kepada sang kekasih masih terjaga,"So if you love someone, you should let them know, Oh, the light that you left me will everglow" (Maka jika kau mencintai seseorang, maka kau harus memberitahunya, Ohh cahaya yang kau tinggalkan untukku akan terus bersinar)

        Terkadang mencintai seseorang merupakan perkara mudah, tapi kita pun luput bahwa kehilangan merupakan keniscayaan. Walau kadang kita akan bertanya, mengapa ada sebuah pertemuan bila akhirnya juga akan ada kepergian? Tapi pertanyaan terhadap hidup ini pun, sama juga dengan pertanyaan kita terhadap cinta. Karena seperti sebuah ungkapan, Cinta Itu Datang Terlambat...

       Okehh, itulah hasil resensi lagu Everglow,, semoga resensi ini memberikan nuansa baru kepada para pembaca sekalian, kalaupun teman-teman sedang merasakanya bisa saja lagu ini menjadi sahabat setia dalam kesepian yang abadi ini hahah. Terima kasih sudah mampir di blog ini.

Nb : Kalau teman-teman mau nonton atau dengerin lagu Everglow, bisa kok di akses di youtube, gua kasih link nya deh

                
READ MORE

Narasi Sejarah Islam : Antara Historiografi Kebajikan Atau Glorifikasi Tukang Dagang

Posted by Rizky kusumo On Tuesday, April 5, 2016 0 comments

               
  •   Tulisan ini dibuat atas tugas Review untuk materi Urgensi Memahami Sejarah Peradaban Islam & Pengantar Metodologi Sejarah (oleh Dr Abdurahman) di Sekolah Sejarah & Peradaban Islam. Awalnya hanya berencana untuk menulis review namun karena beberapa hal, penulis merasa punya tanggung jawab untuk menjadikanya sebuah gagasan. Semoga bisa menjadi literasi yang menarik bagi para pecinta sejarah dan pemuda-pemuda islam khususnya.     
                       Segala yang berbau Islam kadang dipahami dalam kerangka berpikir yang sangat tidak pada tempatnya, terutama pada sejarah. Pada satu sisi, saya mengerti masih banyak penulisan tentang "sejarah islam" yang masih termarjinalkan dalam teks buku-buku pengetahuan, kerja-kerja orientalisme yang sering mengaburkan, dan ditambah masih minimnya sejarawan muslim. Namun, pada lain tempat saya berfikir bahwa respon kawan-kawan untuk melawan teks tersebut pun terkesan berlebihan. 

                     Salah satu topik yang baru-baru terjadi adalah prihal sejarah "sebenarnya" tentang perayaan April Mop (April Fools Days). Banyak kawan-kawan dikalangan muslim yang melarang kita untuk merayakanya, banyak yang tidak memperdulikan hal ini tapi lebih banyak juga yang menanggapinya dengan serius. Terutama karena kisah-kisah nukilan tentang sejarah April Mop yang dilemparkan oleh beberapa portal berita islam ataupun blog-blog pribadi, salah satunya seperti April Mop Pembantaian Muslim Spanyol. Sebagai salah satu sumber untuk melarang umat islam untuk merayakan kegiatan tersebut.

                     Beberapa portal berita dan kawan-kawan yang mengindentitaskan diri mereka sebagai muslim ini pun. Mencoba menjelaskan bahwa "barat" telah mengaburkan sejarah "kelam" umat islam ini dengan perayaan bernama April Mop yang dirayakan tiap tahunnya. Telaah sejarahnya pun terkesan sangat valid dengan diselingi data tanggal dan juga cerita yang sangat naratif (walau lebih melodrama). Hampir disemua portal berita dipaparkan bahwa kejadian kelam tersebut terjadi pada tanggal 1 April 1487 M atau 892 H. 

"Umat Islam sangat tidak pantas merayakan “April Mop” atau “The April Fool Day” karena kebiasaan itu dilatarbelakangi peringatan peristiwa pembantaian umat Islam di Spanyol pada 1 April 1487 Masehi.

“Umat Islam banyak yang “latah” dan merayakan April Mop tanpa mengetahui dasar dan asal muasal peristiwa tersebut, ” kata Cendikiawan Muslim Ir.H.Asmara Dharma dalam tulisannya yang dirilis, di Medan, kemarin.

Ia menjelaskan, perayaan April Mop itu diawali peristiwa penyerangan besar-besaran oleh tentara Salib terhadap negara Spanyol yang ketika itu di bawah kekuasaan kekhalifahan Islam pada Maret 1487 Masehi.

Kota-kota Islam di Spanyol seperti Zaragoza dan Leon di wilayah Utara, Vigo dan Forto di wilayah Timur, Valencia di wilayah Barat, Lisabon dan Cordoba di Selatan serta Madrid di pusat kota dan Granada sebagai kota pelabuhan berhasil dikuasai tentara Salib.

Umat Islam yang tersisa dari peperangan itu dijanjikan kebebasan jika meninggalkan Spanyol dengan kapal yang disiapkan di pelabuhan Granada. Tentara Salib itu berjanji keselamatan dan memperbolehkan umat Islam menaiki kapal jika mereka meninggalkan Spanyol dan persenjataan mereka.

Namun, ketika ribuan umat Islam sudah berkumpul di pelabuhan, kapal yang tadinya sandar di pelabuhan langsung dibakar dan kaum muslim dibantai dengan kejam sehingga air laut menjadi merah karena darah.

Peristiwa pembantaian dan pengingkaran janji tersebut terjadi pada 1 April 1487 Masehi dan dikenang sebagai “The April Fool Day.”

Selanjutnya, Dharma menjelaskan, peristiwa “The April Fool Day” itu dipopulerkan menjadi April Mop dengan “ritual” boleh mengerjai, menipu dan menjahili orang lain pada tanggal tersebut tetapi bernuansa gembira,"

                     Hampir semua portal berita dan blog pribadi tersebut membubuhkan kalimat tersebut dalam teks tulisanya. Saya mengira hampir semua berita yang mewacanakan April Mop Pembantaian Umat Islam Spanyol, pasti menulis dengan body teks seperti diatas (kalau tidak mau dibilang copy paste). Entah itu karena kemalasan dari sang penulis untuk meriset data sebenarnya? Atau kebiasaan "goreng isu" yang mewabah dikalangan masyarakat? Toh, sayangnya kebiasaan ini malah tidak akan menjadi proses pencerdasaan umat atau kesadaran akan pentingnya sejarah. Malah akan membuat umat "terhegemoni" oleh kata-kata "pentingnya sejarah", lalu menjadi taklid apalagi bila umatnya pun sama seperti penulis tadi, malas untuk mengkritisi.

                    Tapi mungkin ada beberapa kawan yang percaya dengan "fakta-fakta sejarah" diatas, kemudian menarasikannya dan menjadikanya sebuah wacana, tapi kita pun tahu bahwa sejarah sangat keras kepala, dia perlu bukti! Saya sendiri memang tidak bermaksud untuk menjadi pihak yang membantah "kemungkinan" adanya sejarah tersebut. Tapi kondisi ini pun saya pikir hampir-hampir sama dengan kawan-kawan yang mendukung sejarah tersebut, karena toh sumber sejarah yang mereka tuangkan sangat premature, apalagi bila tidak ada sumber yang valid akan cerita tersebut. Beberapa sumber sejarah yang sudah valid datanya pun menyebutkan bahwa Granada (sebagai kerajaan terakhir islam) baru jatuh ke tangan pasukan Raja Ferdinand dan Ratu Isabella, pada tanggal 2 Januari 1492 M, lalu kenapa disebutkan adanya pembantaian muslim Granada pada tahun 1487?

                   Kita pun bisa menjadi bertanya-tanya dengan pernyataan dari "cendikiawan muslim" tersebut, apalagi bila dihadirkan dengan kenyataan diatas lapangan saat itu (berbeda fakta dengan kenyataan). Karena buku-buku sejarah baik bersumber dari barat ataupun islam, sudah menyatakan bahwa penyerangan itu bukan dilakukan oleh tentara salib, tapi berasal dari dua kerajaan besar di semenanjung Iberia (walau beragama mayoritas Kristen). Bahkan Granada pun merupakan salah satu negara bawahan kerajaan Castile (salah satu kerajaan yang akhirnya menyerang Granada). Toh kita disini akan disesatkan pikir bahwa kerajaan Islam di Spanyol masih ada dan besar pada saat itu (Baca : Kekhalifahan). Padahal kenyataanya, peperangan saudara dan perebutan kekuasaan telah membuat kerajaan Islam terus menerus menjadi kecil (tha-ifah), hingga menyisakan hanya Granada sebagai kerajaan islam kecil (Sumber Lost Islamic History).


 (I)       Sekarang saya pun bekesempatan untuk bisa menimba ilmu di Sekolah Sejarah Dan Peradaaban Islam (SSPI) yang diselenggarakan di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia. Saya pun sangat bersyukur bisa terlibat di sana karena selain bisa menimba ilmu (baca : sejarah islam), ini pun bisa menjadi wadah silaturahmi antar saudara sesama muslim. Lalu cukup menarik lagi karena materi untuk mengawali sekolah sejarah (yang insya allah sampai bulan Juni) adalah metodologi sejarah. Saya sendiri mendapat kesempatan untuk mengetahui tools untuk memahami sejarah, memandang sejarah, dan juga mengkritisinya. Saya pikir pemateri (Dr. Abdurahman) sudah sangat baik "mengawal" para peserta yang hampir mayoritas masih awam dengan sejarah.

              Pada materi itu saya pun mulai mengerti bahwa menjadi sejarawan (pecinta sejarah) tidak hanya dituntut untuk merekontruksi sejarah dari masa lalu ke masa kini. Tapi mereka pun harus dituntut untuk sangat dispilin, melihat fakta di satu sisi dan kenyataan di sisi lain. Membedakan antara jiwa zaman saat itu dengan jiwa zaman saat ini. Pada beberapa aspek saya pun menjadi teringat kata-kata Pramoedya, "Seorang terpelajar harus berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi perbuatan." Tentulah pada saat ini sejarah sebagai multi disiplin harus disikapi secara adil baik para pemikir barat ataupun islam. Apalagi bila sebagai rahmatan lil alamin, Islam diturunkan untuk membawa kebenaran bagi umat manusia.

             Pada kondisi kontekstual yang sekarang menghinggapi umat islam, terutama dalam masalah sejarah. Kondisi ini ternyata juga sama terjadi dengan kondisi umat di era Ibnu Khaldun (1332-1406), hal ini pun tertuang dalam karya monumentalnya, Muqaddimah. Saat itu ilmu pengetahuan di dunia islam sedang jalan di tempat, sementara banyaknya intrik politik melemahkan rasa persatuan umat. Hal inilah yang menjadi salah satu latar belakang kemunduran islam yang ditandai dengan kehancuran kerajaan Abbasyiah (1258 M) dan juga kerajaan Islam di Spanyol beberapa tahun setelahnya. Alhasil masyarakat islam saat itu pun mengalami krisis identitas, sementara tidak adanya lembaga pengetahuan seperti di era kejayaan, lama kelamaan membuat masyarakat islam menjadi taklid (buta) salah satunya kepada sejarah.

            Hal ini disampaikan dengan tegas oleh Ibnu Khaldun," Para sejarawan muslim terkemuka telah membicarakan peristiwa-peristiwa penting secara luas dan mendalam. Mereka mengumpulkan dalam berbagai buku dan menyimpannya dengan baik-baik. Namun, orang-orang yang tidak berhak mencampuri sejarah - disadari atau tidak - telah memasukan gosip, dan cerita-cerita palsu itu sebagai bumbu penyegar. Tindakan ini dilakukan oleh orang-orang sesudahnya, kemudian mereka menyebarkan informasi ini kepada kita sebagaimana mereka telah mendengarkanya, "jelasnya.

            Dirinya pun kembali menegaskan dalam paragraph selanjutnya,"Upaya untuk membetulkan sangat sedikit dilakukan oleh orang-orang, sedangkan mata kritik umumnya tidak tajam. Kekeliruan dan asumsi tidak berdasar merupakan bagian yang akrab dalam berita-berita sejarah. Taklid buta mengikuti tradisi merupakan sifat warisan bani Adam. Mencampuri disiplin ilmu yang bukan bidangnya terus berkembang luas," Ungkapnya. Bahkan sejarawan asal Tunis (sekarang Tunisia) ini pun menggagap kebatilan telah menutupi kebenaran,"Tak seorang pun mampu menegakan kembali otoritas kebenaran, dan setan kebatilan menang dari perenungan penjernihan, "tutupnya (Muqaddimah, hal 3-4).

            Disini saya pun mengingat beberapa pemaparan yang diberikan oleh Dr Abdurahman tentang metodologi sejarah. Ketua Departemen Sejarah FIB UI ini menegaskan bahwa sejarah bukan mitos, sejarah bukan juga filsafat, sejarah bukan ilmu alam bahkan sejarah bukan sastra. Dirinya pun menegaskan bahwa sejarah merupakan ilmu yang mempelajari manusia terutama kisah masa lampau dan juga rekontruksinya. Pada titik ini seorang sejarawan (pecinta sejarah) sangat dituntut untuk mencari hingga menemukan buktinya (Heuristik). Sehingga hal-hal tersebut bisa disebut fakta-fakta sejarah dan juga otentik (rill) bukan omong kosong.

           Selain itu kita pun dituntut untuk sangat ketat dalam pemilihan sumber-sumber sejarah yang akan diambil. Beberapa cara bisa kita ambil dalam pembuktian fakta sejarah, seperti sumber lisan, sumber tertulis, sumber benda. Teruntuk sumber lisan, bagi Dr Abdurahman hal ini memerlukan disiplin yang cukup tinggi. Karena bisa terdapat banyak perbedaan antara satu orang dengan orang lainnya, salah satunya yang terjadi pada peristiwa Rengasdengklok. Di mana banyak versi tulisan baik dari Mohammad Hatta, Achmad Soebardjo, dan juga Adam Malik. Tentulah di sini bisa dilihat konteks narasumber tersebut dengan peristiwa? latar belakang narasumber? hingga kedekatan statment narasumber itu dengan peristiwa.

(II)    Pada tanggal 29 Mei 1945, pada saat sidang Badan Penyelidik Usaha Kemerdekaan Indonesia, (BPUPKI), Mohammad Yamin memaparkan pandangannya tentang dasar kenegaraan. Pada saat itu Mohammad Yamin sudah terkenal sebagai seorang yang ultra nasionalis. Salah satunya glorifikasi tentang kisah-kisah kebesaran Majapahit yang menjadi gagasan nasionalismenya. Hal ini pun beberapa kali juga tersirat dari statement-statement Yamin, baik sebelum kemerdekaan ataupun setelahnya. Tapi kondisi ini tidak bisa diterima mentah-mentah oleh para founding father, bahkan mereka pun mengkritik gagasan Yamin. Terutama mulai dari gagasannya dan juga usulnya tentang batasan wilayah kesatuan Republik Indonesia.

           Perilaku glorifikasi atau dalam istilah umumnya melebih-lebihkan sesuatu hingga terkesan hebat, luar biasa, sangat suci, atau sempurna tanpa cela, patutlah dihindari oleh kaum terpelajar terutama pecinta sejarah. Peristiwa-peristiwa dalam sejarah pun sudah membuktikan bagaimana sebuah glorifikasi, menjadi sebuah malapetaka : tragedi kemanusian. contohlah Nazi dengan glorifikasi ras Aryanya, kisah kaum kulit putih dengan kulit hitam, bahkan penjajahan di atas bumi Indonesia pun berasas kan hal tersebut. Bagi saya menjadi sebuah malapetaka besar bila umat Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad S.A.W. Sebagai perlawanan kepada gagasan-gagasan glorifikasi jahiliyah malah merawat cara berfikir seperti itu.

           Hingga sekarang saya pun masih sangat yakin, kalau Islam cukup banyak mengajarkan kita untuk kritis atau mencari pemahaman tentang sebuah informasi. Salah satunya tertuang dalam surat Al-Isra, "Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya, sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggung jawabanya, (Al-Isra: 36). Sudah banyak juga ayat-ayat Al-Qur'an yang mengajarkan kita untuk lebih mengandalkan akal dibandingkan dengan hawa nafsu. Hal ini menandakan bahwa Islam sudah punya cukup modal untuk melawan ketaklidan atas sebuah sejarah.
       
           Saya pikir salah satu semangat yang harus ditanamkan kepada pemuda-pemuda islam (termasuk saya pribadi) adalah budaya literasi. Membangun kerangka berfikir yang kritis terlepas perbedaan mahzab yang kita anut. Dengan itu kita mungkin akan kembali bisa membangun puing-puing kejayaan intelektual Islam. Karena kalau tidak begitu umat Islam akan tetap terjerumus terhadap glorifikasi layaknya karakter tukang dagang. Kemudian pada saatnya sejarah akan mulai ditinggalkan dan kebatilan menyelimuti dunia. Umat Islam akan tetap sesuai dengan hadist Rasulullah S.A.W, hidangan di meja makan. Wallahu Alam Bissawab


READ MORE