Arti Lagu Coldplay - Everglow

Posted by Rizky kusumo On Rabu, 27 April 2016 2 komentar
         
         Sebuah lagu entah bagaimana bukan hanya terlihat indah dari komposisi iramanya ataupun melodinya, tapi harus juga diimbangi dengan kekuatan liriknya yang gahar. Beberapa musisi hanya memiliki yang pertama kadang juga hanya begitu istimewa karena kemampuan mengelola lirik. Tapi hal ini tidak berlaku bagi group band asal Inggris, Coldplay. 
           
            Setelah sukses dengan beberapa single-singlenya yang menghentak dunia musik selama beberapa tahun lalu, Coldplay kembali mengeluarkan masterpiecenya dalam album A Head Full Of Dream. single bertajuk Everglow yang dikemas secara melankolis benar-benar mampu menghipnotis para pendengarnya apalagi dengan balutan alunan piano dari sang vokalis Chris Martin. Apalagi konon single ini spesial dibuat Chris untuk sang mantan istri.
              
             Daripada berlama-lama dengan muqqamadimah dari Rizky Kusumo di atas, lebih baik kita langsung saja ke TKP untuk membahas prihal single tersebut. Tapi tentulah ini hanya pendapat saya semata karena yang tahu seutuhnya hanya sang empunya lagu tersebut. Okeh, langsung kita ke TKP.

Everglow - Coldplay 

                Lagu ini menceritakan tentang kepergian seseorang yang dikasihinya, "Oh, they say people come, say people go" (Oh, kata pepatah orang-orang datang dan pergi),, Padahal kekasihnya tersebut merupakan hal yang teramat istimewa baginya, "This particular diamond was extra special" (Berlian yang satu ini sangat istimewa),, Tapi dirinya berkeyakinan bahwa kekasihnya masih ada walau tidak bersamanya lagi sekarang, "And though you might be gone, and the world may not know, Still I see you, celestial" (Dan meskipun kau mungkin saja pergi, dan dunia mungkin tak tahu, Aku tetap melihatmu, kayangan).

                 Dirinya pun masih mengingat masa-masa indah bersama kekasihnya tersebut, bagaimana kekasihnya memandang dan menjalani hidup, "Like a lion you ran, a goddess you rolled, Like an eagle, you circle, in perfect purple" (Kau berlari bak singa, kau berayun bak dewi, kau berkeliling bak elang dalam warna merah jambu sempurna),, Bahkan dirinya pun bertanya kepada dunia yang masih bisa berjalan seperti biasa, padahal dirinya sedang kehilangan sesuatu yang berharga," So how come things move on? How come cars don’t slow? " (Jadi bagaimana mungkin segalanya terus bergerak, bagaimana bisa mobil-mobil tak melambat),, Apalagi dirinya masih tidak bisa melepas kenangan-kenangan bersama kekasihnya, "When it feels like the end of my world, When I should, but I can’t, let you go?" (Saat rasanya seperti akhir duniaku, saat aku seharusnya, tapi aku tak bisa, melepasmu?)

               Apalagi kenangan-kenangan bersama kekasihnya saat masa-masa sedih dan gembira masih menghantuinya, "But when I’m cold, cold, Oh, when I’m cold, cold" (Tapi saat aku kedinginan, Oh, saat aku kedinginan),, Terutama saat kekasihnya menemainya saat musim-musim duka, memberikan kehangatan saat dingin, memberi terang saat gelap,"There’s a light that you give me when I’m in shadow,  There’s a feeling you give me, an everglow" (Ada cahaya yang kau berikan kepadaku saat aku dalam bayangan, Ada perasaan yang kau beri padaku, yang terus bersinar)

              Dirinya pun sempat bertanya tentang janji setia mereka untuk selalu bersama hingga maut yang memisahkan, "Like brothers in blood, sisters who ride, And we swore on that night we’d be friends 'til we die" (Seperti saudara sedarah, saudari yang berkendara, Dan kita bersumpah di malam itu kita kan berteman hingga mati),, Tapi dirinya tidak menyangka bahwa perubahan pun menyentuh kehidupan mereka, membuat jalinan suci itupun perlahan pupus, "But the changing of winds, and the way waters flow, Life is short as the falling of snow, And now, I’m gonna miss you, I know" (Tapi perubahan angin, dan aliran air, Hidup ini singkat seperti aliran salju, Dan kini aku kan merindukamu, aku tahu)

           Namun, karena perasaannya tersebut dirinya pun akan berjanji menjaganya selalu sebagai pengingatnya saat gelap, "Oh, what I would give for just a moment to hold, Yeah, I live for this feeling, it’s everglow " (Ohh, yang kan kuberikan hanyalah sesaat untuk direngkuh, Yeah aku hidup demi perasaan ini, Yang terus bersinar),, Sebagai penutup dirinya pun berharap kepada semua orang untuk mengungkapkan rasa cintanya, sembari berharap rasa cintanya kepada sang kekasih masih terjaga,"So if you love someone, you should let them know, Oh, the light that you left me will everglow" (Maka jika kau mencintai seseorang, maka kau harus memberitahunya, Ohh cahaya yang kau tinggalkan untukku akan terus bersinar)

        Terkadang mencintai seseorang merupakan perkara mudah, tapi kita pun luput bahwa kehilangan merupakan keniscayaan. Walau kadang kita akan bertanya, mengapa ada sebuah pertemuan bila akhirnya juga akan ada kepergian? Tapi pertanyaan terhadap hidup ini pun, sama juga dengan pertanyaan kita terhadap cinta. Karena seperti sebuah ungkapan, Cinta Itu Datang Terlambat...

       Okehh, itulah hasil resensi lagu Everglow,, semoga resensi ini memberikan nuansa baru kepada para pembaca sekalian, kalaupun teman-teman sedang merasakanya bisa saja lagu ini menjadi sahabat setia dalam kesepian yang abadi ini hahah. Terima kasih sudah mampir di blog ini.

Nb : Kalau teman-teman mau nonton atau dengerin lagu Everglow, bisa kok di akses di youtube, gua kasih link nya deh

                
READ MORE

Narasi Sejarah Islam : Antara Historiografi Kebajikan Atau Glorifikasi Tukang Dagang

Posted by Rizky kusumo On Selasa, 05 April 2016 0 komentar

               
  •   Tulisan ini dibuat atas tugas Review untuk materi Urgensi Memahami Sejarah Peradaban Islam & Pengantar Metodologi Sejarah (oleh Dr Abdurahman) di Sekolah Sejarah & Peradaban Islam. Awalnya hanya berencana untuk menulis review namun karena beberapa hal, penulis merasa punya tanggung jawab untuk menjadikanya sebuah gagasan. Semoga bisa menjadi literasi yang menarik bagi para pecinta sejarah dan pemuda-pemuda islam khususnya.     
                       Segala yang berbau Islam kadang dipahami dalam kerangka berpikir yang sangat tidak pada tempatnya, terutama pada sejarah. Pada satu sisi, saya mengerti masih banyak penulisan tentang "sejarah islam" yang masih termarjinalkan dalam teks buku-buku pengetahuan, kerja-kerja orientalisme yang sering mengaburkan, dan ditambah masih minimnya sejarawan muslim. Namun, pada lain tempat saya berfikir bahwa respon kawan-kawan untuk melawan teks tersebut pun terkesan berlebihan. 

                     Salah satu topik yang baru-baru terjadi adalah prihal sejarah "sebenarnya" tentang perayaan April Mop (April Fools Days). Banyak kawan-kawan dikalangan muslim yang melarang kita untuk merayakanya, banyak yang tidak memperdulikan hal ini tapi lebih banyak juga yang menanggapinya dengan serius. Terutama karena kisah-kisah nukilan tentang sejarah April Mop yang dilemparkan oleh beberapa portal berita islam ataupun blog-blog pribadi, salah satunya seperti April Mop Pembantaian Muslim Spanyol. Sebagai salah satu sumber untuk melarang umat islam untuk merayakan kegiatan tersebut.

                     Beberapa portal berita dan kawan-kawan yang mengindentitaskan diri mereka sebagai muslim ini pun. Mencoba menjelaskan bahwa "barat" telah mengaburkan sejarah "kelam" umat islam ini dengan perayaan bernama April Mop yang dirayakan tiap tahunnya. Telaah sejarahnya pun terkesan sangat valid dengan diselingi data tanggal dan juga cerita yang sangat naratif (walau lebih melodrama). Hampir disemua portal berita dipaparkan bahwa kejadian kelam tersebut terjadi pada tanggal 1 April 1487 M atau 892 H. 

"Umat Islam sangat tidak pantas merayakan “April Mop” atau “The April Fool Day” karena kebiasaan itu dilatarbelakangi peringatan peristiwa pembantaian umat Islam di Spanyol pada 1 April 1487 Masehi.

“Umat Islam banyak yang “latah” dan merayakan April Mop tanpa mengetahui dasar dan asal muasal peristiwa tersebut, ” kata Cendikiawan Muslim Ir.H.Asmara Dharma dalam tulisannya yang dirilis, di Medan, kemarin.

Ia menjelaskan, perayaan April Mop itu diawali peristiwa penyerangan besar-besaran oleh tentara Salib terhadap negara Spanyol yang ketika itu di bawah kekuasaan kekhalifahan Islam pada Maret 1487 Masehi.

Kota-kota Islam di Spanyol seperti Zaragoza dan Leon di wilayah Utara, Vigo dan Forto di wilayah Timur, Valencia di wilayah Barat, Lisabon dan Cordoba di Selatan serta Madrid di pusat kota dan Granada sebagai kota pelabuhan berhasil dikuasai tentara Salib.

Umat Islam yang tersisa dari peperangan itu dijanjikan kebebasan jika meninggalkan Spanyol dengan kapal yang disiapkan di pelabuhan Granada. Tentara Salib itu berjanji keselamatan dan memperbolehkan umat Islam menaiki kapal jika mereka meninggalkan Spanyol dan persenjataan mereka.

Namun, ketika ribuan umat Islam sudah berkumpul di pelabuhan, kapal yang tadinya sandar di pelabuhan langsung dibakar dan kaum muslim dibantai dengan kejam sehingga air laut menjadi merah karena darah.

Peristiwa pembantaian dan pengingkaran janji tersebut terjadi pada 1 April 1487 Masehi dan dikenang sebagai “The April Fool Day.”

Selanjutnya, Dharma menjelaskan, peristiwa “The April Fool Day” itu dipopulerkan menjadi April Mop dengan “ritual” boleh mengerjai, menipu dan menjahili orang lain pada tanggal tersebut tetapi bernuansa gembira,"

                     Hampir semua portal berita dan blog pribadi tersebut membubuhkan kalimat tersebut dalam teks tulisanya. Saya mengira hampir semua berita yang mewacanakan April Mop Pembantaian Umat Islam Spanyol, pasti menulis dengan body teks seperti diatas (kalau tidak mau dibilang copy paste). Entah itu karena kemalasan dari sang penulis untuk meriset data sebenarnya? Atau kebiasaan "goreng isu" yang mewabah dikalangan masyarakat? Toh, sayangnya kebiasaan ini malah tidak akan menjadi proses pencerdasaan umat atau kesadaran akan pentingnya sejarah. Malah akan membuat umat "terhegemoni" oleh kata-kata "pentingnya sejarah", lalu menjadi taklid apalagi bila umatnya pun sama seperti penulis tadi, malas untuk mengkritisi.

                    Tapi mungkin ada beberapa kawan yang percaya dengan "fakta-fakta sejarah" diatas, kemudian menarasikannya dan menjadikanya sebuah wacana, tapi kita pun tahu bahwa sejarah sangat keras kepala, dia perlu bukti! Saya sendiri memang tidak bermaksud untuk menjadi pihak yang membantah "kemungkinan" adanya sejarah tersebut. Tapi kondisi ini pun saya pikir hampir-hampir sama dengan kawan-kawan yang mendukung sejarah tersebut, karena toh sumber sejarah yang mereka tuangkan sangat premature, apalagi bila tidak ada sumber yang valid akan cerita tersebut. Beberapa sumber sejarah yang sudah valid datanya pun menyebutkan bahwa Granada (sebagai kerajaan terakhir islam) baru jatuh ke tangan pasukan Raja Ferdinand dan Ratu Isabella, pada tanggal 2 Januari 1492 M, lalu kenapa disebutkan adanya pembantaian muslim Granada pada tahun 1487?

                   Kita pun bisa menjadi bertanya-tanya dengan pernyataan dari "cendikiawan muslim" tersebut, apalagi bila dihadirkan dengan kenyataan diatas lapangan saat itu (berbeda fakta dengan kenyataan). Karena buku-buku sejarah baik bersumber dari barat ataupun islam, sudah menyatakan bahwa penyerangan itu bukan dilakukan oleh tentara salib, tapi berasal dari dua kerajaan besar di semenanjung Iberia (walau beragama mayoritas Kristen). Bahkan Granada pun merupakan salah satu negara bawahan kerajaan Castile (salah satu kerajaan yang akhirnya menyerang Granada). Toh kita disini akan disesatkan pikir bahwa kerajaan Islam di Spanyol masih ada dan besar pada saat itu (Baca : Kekhalifahan). Padahal kenyataanya, peperangan saudara dan perebutan kekuasaan telah membuat kerajaan Islam terus menerus menjadi kecil (tha-ifah), hingga menyisakan hanya Granada sebagai kerajaan islam kecil (Sumber Lost Islamic History).


 (I)       Sekarang saya pun bekesempatan untuk bisa menimba ilmu di Sekolah Sejarah Dan Peradaaban Islam (SSPI) yang diselenggarakan di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia. Saya pun sangat bersyukur bisa terlibat di sana karena selain bisa menimba ilmu (baca : sejarah islam), ini pun bisa menjadi wadah silaturahmi antar saudara sesama muslim. Lalu cukup menarik lagi karena materi untuk mengawali sekolah sejarah (yang insya allah sampai bulan Juni) adalah metodologi sejarah. Saya sendiri mendapat kesempatan untuk mengetahui tools untuk memahami sejarah, memandang sejarah, dan juga mengkritisinya. Saya pikir pemateri (Dr. Abdurahman) sudah sangat baik "mengawal" para peserta yang hampir mayoritas masih awam dengan sejarah.

              Pada materi itu saya pun mulai mengerti bahwa menjadi sejarawan (pecinta sejarah) tidak hanya dituntut untuk merekontruksi sejarah dari masa lalu ke masa kini. Tapi mereka pun harus dituntut untuk sangat dispilin, melihat fakta di satu sisi dan kenyataan di sisi lain. Membedakan antara jiwa zaman saat itu dengan jiwa zaman saat ini. Pada beberapa aspek saya pun menjadi teringat kata-kata Pramoedya, "Seorang terpelajar harus berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi perbuatan." Tentulah pada saat ini sejarah sebagai multi disiplin harus disikapi secara adil baik para pemikir barat ataupun islam. Apalagi bila sebagai rahmatan lil alamin, Islam diturunkan untuk membawa kebenaran bagi umat manusia.

             Pada kondisi kontekstual yang sekarang menghinggapi umat islam, terutama dalam masalah sejarah. Kondisi ini ternyata juga sama terjadi dengan kondisi umat di era Ibnu Khaldun (1332-1406), hal ini pun tertuang dalam karya monumentalnya, Muqaddimah. Saat itu ilmu pengetahuan di dunia islam sedang jalan di tempat, sementara banyaknya intrik politik melemahkan rasa persatuan umat. Hal inilah yang menjadi salah satu latar belakang kemunduran islam yang ditandai dengan kehancuran kerajaan Abbasyiah (1258 M) dan juga kerajaan Islam di Spanyol beberapa tahun setelahnya. Alhasil masyarakat islam saat itu pun mengalami krisis identitas, sementara tidak adanya lembaga pengetahuan seperti di era kejayaan, lama kelamaan membuat masyarakat islam menjadi taklid (buta) salah satunya kepada sejarah.

            Hal ini disampaikan dengan tegas oleh Ibnu Khaldun," Para sejarawan muslim terkemuka telah membicarakan peristiwa-peristiwa penting secara luas dan mendalam. Mereka mengumpulkan dalam berbagai buku dan menyimpannya dengan baik-baik. Namun, orang-orang yang tidak berhak mencampuri sejarah - disadari atau tidak - telah memasukan gosip, dan cerita-cerita palsu itu sebagai bumbu penyegar. Tindakan ini dilakukan oleh orang-orang sesudahnya, kemudian mereka menyebarkan informasi ini kepada kita sebagaimana mereka telah mendengarkanya, "jelasnya.

            Dirinya pun kembali menegaskan dalam paragraph selanjutnya,"Upaya untuk membetulkan sangat sedikit dilakukan oleh orang-orang, sedangkan mata kritik umumnya tidak tajam. Kekeliruan dan asumsi tidak berdasar merupakan bagian yang akrab dalam berita-berita sejarah. Taklid buta mengikuti tradisi merupakan sifat warisan bani Adam. Mencampuri disiplin ilmu yang bukan bidangnya terus berkembang luas," Ungkapnya. Bahkan sejarawan asal Tunis (sekarang Tunisia) ini pun menggagap kebatilan telah menutupi kebenaran,"Tak seorang pun mampu menegakan kembali otoritas kebenaran, dan setan kebatilan menang dari perenungan penjernihan, "tutupnya (Muqaddimah, hal 3-4).

            Disini saya pun mengingat beberapa pemaparan yang diberikan oleh Dr Abdurahman tentang metodologi sejarah. Ketua Departemen Sejarah FIB UI ini menegaskan bahwa sejarah bukan mitos, sejarah bukan juga filsafat, sejarah bukan ilmu alam bahkan sejarah bukan sastra. Dirinya pun menegaskan bahwa sejarah merupakan ilmu yang mempelajari manusia terutama kisah masa lampau dan juga rekontruksinya. Pada titik ini seorang sejarawan (pecinta sejarah) sangat dituntut untuk mencari hingga menemukan buktinya (Heuristik). Sehingga hal-hal tersebut bisa disebut fakta-fakta sejarah dan juga otentik (rill) bukan omong kosong.

           Selain itu kita pun dituntut untuk sangat ketat dalam pemilihan sumber-sumber sejarah yang akan diambil. Beberapa cara bisa kita ambil dalam pembuktian fakta sejarah, seperti sumber lisan, sumber tertulis, sumber benda. Teruntuk sumber lisan, bagi Dr Abdurahman hal ini memerlukan disiplin yang cukup tinggi. Karena bisa terdapat banyak perbedaan antara satu orang dengan orang lainnya, salah satunya yang terjadi pada peristiwa Rengasdengklok. Di mana banyak versi tulisan baik dari Mohammad Hatta, Achmad Soebardjo, dan juga Adam Malik. Tentulah di sini bisa dilihat konteks narasumber tersebut dengan peristiwa? latar belakang narasumber? hingga kedekatan statment narasumber itu dengan peristiwa.

(II)    Pada tanggal 29 Mei 1945, pada saat sidang Badan Penyelidik Usaha Kemerdekaan Indonesia, (BPUPKI), Mohammad Yamin memaparkan pandangannya tentang dasar kenegaraan. Pada saat itu Mohammad Yamin sudah terkenal sebagai seorang yang ultra nasionalis. Salah satunya glorifikasi tentang kisah-kisah kebesaran Majapahit yang menjadi gagasan nasionalismenya. Hal ini pun beberapa kali juga tersirat dari statement-statement Yamin, baik sebelum kemerdekaan ataupun setelahnya. Tapi kondisi ini tidak bisa diterima mentah-mentah oleh para founding father, bahkan mereka pun mengkritik gagasan Yamin. Terutama mulai dari gagasannya dan juga usulnya tentang batasan wilayah kesatuan Republik Indonesia.

           Perilaku glorifikasi atau dalam istilah umumnya melebih-lebihkan sesuatu hingga terkesan hebat, luar biasa, sangat suci, atau sempurna tanpa cela, patutlah dihindari oleh kaum terpelajar terutama pecinta sejarah. Peristiwa-peristiwa dalam sejarah pun sudah membuktikan bagaimana sebuah glorifikasi, menjadi sebuah malapetaka : tragedi kemanusian. contohlah Nazi dengan glorifikasi ras Aryanya, kisah kaum kulit putih dengan kulit hitam, bahkan penjajahan di atas bumi Indonesia pun berasas kan hal tersebut. Bagi saya menjadi sebuah malapetaka besar bila umat Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad S.A.W. Sebagai perlawanan kepada gagasan-gagasan glorifikasi jahiliyah malah merawat cara berfikir seperti itu.

           Hingga sekarang saya pun masih sangat yakin, kalau Islam cukup banyak mengajarkan kita untuk kritis atau mencari pemahaman tentang sebuah informasi. Salah satunya tertuang dalam surat Al-Isra, "Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya, sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggung jawabanya, (Al-Isra: 36). Sudah banyak juga ayat-ayat Al-Qur'an yang mengajarkan kita untuk lebih mengandalkan akal dibandingkan dengan hawa nafsu. Hal ini menandakan bahwa Islam sudah punya cukup modal untuk melawan ketaklidan atas sebuah sejarah.
       
           Saya pikir salah satu semangat yang harus ditanamkan kepada pemuda-pemuda islam (termasuk saya pribadi) adalah budaya literasi. Membangun kerangka berfikir yang kritis terlepas perbedaan mahzab yang kita anut. Dengan itu kita mungkin akan kembali bisa membangun puing-puing kejayaan intelektual Islam. Karena kalau tidak begitu umat Islam akan tetap terjerumus terhadap glorifikasi layaknya karakter tukang dagang. Kemudian pada saatnya sejarah akan mulai ditinggalkan dan kebatilan menyelimuti dunia. Umat Islam akan tetap sesuai dengan hadist Rasulullah S.A.W, hidangan di meja makan. Wallahu Alam Bissawab


READ MORE

Sebuah Epilog : Catatan-Catatan Seorang Mahasiswa Tua

Posted by Rizky kusumo On Jumat, 01 April 2016 0 komentar


           Bergelut dengan bundelan Tugas Akhir (TA) bukanlah perkara ringan, ditambah beban sebagai mahasiswa manula, tanpa teman dan motivasi. Di antara deru-deru wirausaha muda, karyawan muda necis dengan jas parlente, hingga mamah dan papah muda, saya masih saja terjebak dalam pergulatan sarjana muda. Kadang saya begitu kesal bagaimana bisa istilah Galau hanya menjadi monopoli kaum pubertas (baca : remaja)? Kemudian hari pun tersobek-sobek bagaikan kertas tak terkenang selain sebuah coret-coretan. Toh apa yang harus kita kenang dari waktu-waktu yang begitu bisu, begitu angkuh, begitu abu-abunya. Sebuah elegi saat arus itu berbalik kita bahkan hanya bisa terpatung melihat pantulan-pantulannya.
              
                Pada keadaan ini saya jadi teringat sosok Galeng dalam novel Arus Balik, Pramoedya Ananta Toer. Saya mendapati Galeng sebagai pemuda desa yang sangat tangkas, cerdas dan juga berani. Namun hidup saat kejayaan Majapahit hanya tinggal romantisme diselingi taklid buta untuk bumbu penyedap. Saya melihat sosok Galeng ini sebagai teman seperjuangan, seorang yang begitu tegar melihat arus berbalik, walau dirinya tidak menutupi kerentanannya sebagai manusia. Kadang saya pun ingin seperti itu, melihat cakrawala dengan tegar walau tahu arus telah berbalik, meninsafi diri bahwa ini tidak bisa dilawan. Menyadari bahwa kegemilangan-kegemilangan masa mahasiswa sudah usang dengan mengisakan bundel-bundel Tugas Akhir.

              Walau begitu masih bisa hidup dalam dunia organisasi kemahasiswaan yang saya geluti sedari awal kuliah. Seperti merekam sebuah pasang surut kejayaan, ada yang datang dan ada yang pergi, merekamnya menjadi epos petualangan kemenangan dan kehancuran. Pada saat itu saya berfikir berbundel-bundel draft Tugas Akhir itu layaknya embun di pagi hari, menguap. Saya kembali seperti sosok Galeng yang terpana mendengar takhzim-takhzim Rama Cluring kepada pemuda-pemuda desa, "Di jaman Majapahit para punggawa, disebarkan ke seluruh negeri bukan untuk memata-matai kawula. Mereka bicara dengan bocah-bocah. Bila anak-anak itu tak dapat menjawab pertanyaan mereka, baik kepala desa mau pun bapa-bapa mandala kena teguran. Dengan demikian setiap bocah dapat membaca dan menulis, tahu akan dewa-dewa dan hafal akan banyak lontar.” ujarnya.
              
               Kadang saya mulai menyadari bahwa manusia bisa hidup hanya dengan kejayaan-kejayaan masa lalunya. Merajutnya dengan seutas-utas tali hingga mampu menariknya ke dunia yang nampak sekarang. Tapi seperti nasib Rama Cluring yang ingin merajut tali-tali itu, harga yang harus dibayar untuk itu kadang (bahkan sering) mahal, harga yang dibayar dengan hidupnya. Saya sendiri tidak pernah mengikrarkan diri sebagai sang Rama. Begitu agung dan beruntungnya dia melihat kejayaan bangsanya, disegani bahkan dicintai bersama. Seperti Galeng, saya pun hanya mendengar epos itu dari para mahasiswa 90 an, para senior saya, para "Rama-Rama". Tak pernah saya bisa membantah, bahwa mahasiswa sekarang (saya pun) hidup di zaman yang berbeda. Tapi celakalah saya, karena Pram sendiri pernah berkata bahwa, "Kita semua harus menerima kenyataan, tapi menerima kenyataan saja adalah pekerjaan manusia yang tak mampu lagi berkembang. Karena manusia juga bisa membikin kenyataan-kenyataan baru. Kalau tak ada orang mau membikin kenyataan-kenyataan baru, maka “kemajuan” sebagai kata dan makna sepatutnya dihapuskan dari kamus umat manusia.” tegasnya.



             Lalu kesempatan itu datang seperti tarikan kartu judi, sebuah keberuntungan yang terkadang terjadi secara kebetulan tapi berarti. Undangan untuk hadir dan mengisi sebuah pemutaran film yang digelar oleh junior-junior di kampus, menjadi sebuah lentera merah dalam remang-remang. Bagi saya moment-moment itu benar-benar menjadi malam yang begitu progresif, bergelar seperti layar tancap yang begitu merakyat, dikelilingi oleh kopi (berbagai merk), kacang dan rokok (berbagai merk). Saya kembali meloncati zaman untuk menarik tali-tali kejayaaan mahasiswa. Pada beberapa moment saya sendiri melihat diri sebagai kawan-kawan yang lain, mereka yang menyempatkan hadir pada malam itu. Kita yang kehilangan sebuah zaman, tidak pernah merasakan kejayaan itu namun dituntut menjaganya. Begitu kejamnya kah sejarah bagi para generasai-generasi yang kurang (s)ada(r) ini?
  
              Lalu terang menerang pun berubah menjadi gelap, film pun diputar, cahaya lampu berganti dengan cahaya film yang bias. Romantisme yang terkadang dilarang untuk orang yang tidak berpasangan pun keluar satu persatu. Bagai kesadaran yang terlahir kembali, saya mulai meninsafi diri sebagai manusia yang berada dipersimpangan, seperti cahaya film itu yang menampilkan ironi-ironinya. Berbagai hal yang pernah saya lakukan saat dulu sebagai mahasiswa dan manusia pun keluar tanpa dibendung, kesadaran saya kembali.  Beberapa adegan dalam film itu pun hanya menjadi plot dalam kesadaran romantik yang membuncah dalam diri. Dalam kenangan mengingat malam-malam penuh terawang obor, plot-plot diskusi, hingga genjrengan gitar, menyadarkan saya bahwa masa kejayaan itu bisa dimiliki oleh setiap generasi. Entah bagaimana slogan Buku, Pesta, dan Cinta kembali hadir pada malam itu
             

              Film pun selesai diputar, terang cahaya film yang bias berganti dengan cahaya lampu yang angkuh. Saya seperti ditarik kembali ke realita dunia, meninggalkan romantika-romantika masa-masa kemahasiswaan, segala tentang Buku, Pesta, dan Cinta. Genggaman saya kepada secangkir kopi pun hilang daya, ditambah sudah habis pula dikerubungi para mahasiswa rantau. Bagi saya sendiri romantika bagi para kaum pejuang sangatlah perlu, layaknya rambu-rambu jalan, kita bisa berharap bahwa romantika itu sebagai sebuah keabadian. seperti kata Khalil Ghibran, "Cinta Tidak Menyadari Kedalamanya dan Terasa Pada Saat Perpisahan Pun Tiba. Dan Saat Tangan Laki-Laki Menyentuh Tangan Seorang Perempuan Mereka Berdua Telah Menyentuh Keabadian, "terangnya. Jadilah pada saat saya dipanggil ke depan, dengan yakin berkata bahwa saya sangat mencintai kehidupan mahasiswa, berbagai memorinya, berbagai romantikanya.

            Waktu pun kembali dengan angkuhnya mengambil moment-moment itu, menambah kenangan dalam sebuah memori. Pada saat itu dalam hati saya teringat dengan tulisan salah satu mahasiswa yang bukunya menjadi bacaan selingan, saat saya kuliah, Soe Hok Gie. Saat pengumuman kelulusannya dari Fakultas Sastra jurusan Sejarah, dalam memoar yang ditulis oleh sahabat-sahabatnya bertajuk Sekali Lagi, saat itu setelah lulus Gie menulis, "Masa-masa mahasiswa akan segera berakhir, hari-hari esok sudah tidak akan sama lagi, terutama untuk saya, "lirihnya.  Bagaimana saya menyadari, Gie, ataupun teman-teman lain memiliki kenangan sendiri dengan dunia mahasiswanya, tapi menjadi begitu indah saat irisan-irisan kenangan itu bertemu dan bertubrukan.

          Dunia pun kembali beredar, waktu terus berjalan, para lakon akan berpergian satu persatu, pahlawan dan pecundang dilemparkan dari ring tanpa bisa mengugat nasibnya. Bagi saya mahasiswa tua yang bisa mendapatkan kesempatan untuk kembali merasakan "dunia mahasiswa", malah mendapatkan sebuah kesadaran ironi bahwa "dunia mahasiswa" juga merupakan embun, akan menguap. Mereka yang menjadi penerus kita pun satu persatu akan menguap membawa romantika masing-masing. Lalu kepada siapakah kita akan berharap? Kepada para karibku dan saudaraku, kadang kita hanya bisa berharap kepada mereka yang memiliki cita-cita, layaknya bibit yang berharap kepada hujan. 

Ia merangkak
di atas bumi yang dicintainya
Ia sudah tua
luka-luka di badannya

Bagai harimau tua
susah payah maut menjeratnya
Matanya bagai saga
menatap musuh pergi dari kotanya

Sesudah pertempuran yang gemilang itu
lima pemuda mengangkatnya
di antaranya anaknya
Ia menolak
dan tetap merangkak
menuju kota kesayangannya

Gugur ~ WS Rendra

READ MORE

#POKUS : Buku dan Wanita : Dua Cobaan yang Manis Walau Menyakitkan

Posted by Rizky kusumo On Jumat, 04 Maret 2016 0 komentar


BRUAK!!! Beberapa buku itu terbanting ke arah lantai entah mengapa hal itu menggugurkan rasa cuek. Setengah sadar dari lamunan siang bolong, ku arah kan mata ke atas, "Ohh, wanita, " ujarku dalam hati. Tapi wanita entah belajar dari rumus apa membuat hal-hal yang (bagi kita : laki-laki) sepele menjadi begitu sedap untuk diperbincangkan. Tanpa memberi kesempatan menuangkan sebuah pledoi,  gertakan itu meluncur dari mulutnya, "Punya buku rusak, buat apa mending gak punya sekalian, "tegas wanita tersebut. Pada saat ini permasalahan pun bergeser bukan benar atau salah (Karena kalau itu sudah pasti saya yang salah : Wanita itu selalu benar). Tapi kepada sebuah kebanggaan (semu) yang apapun alasanya patut saya perjuangkan saat itu.

Kebanggaan saya dikoyak satu persatu tanpa bisa melawan, makna saya tentang hal yang ingin diungkapkan percuma, walau sadar pembenaran apapun akan tetap salah. Kebenaraan saat itu di hegemoni menjadi sebuah makna tunggal tidak lupa ditambah bumbu (agar sedap). Perjuangaan yang saya lakukan pun bukan untuk menjadi, tapi hanya untuk pembebasaan bersya'rat. Toh, bagaimana kita bisa mengartikan semua itu, karena kata Bapak, "lari dari seorang "wanita" ehh masalah adalah pecundang. Sedangkan tetap berada ruang itu bangga saya dikoyak satu persatu, tidak fokus satu menit buku melayang, ahh dasar wanita.

Sedikit saja tentang saya yang lahir dari keluarga Jawa dengan begitu banyaknya corak budaya untuk dipertahankan. Dari lahir semua jalan hidup saya diberi makna, entah nama, tanggal kelahiran, mungkin jodoh *alah ngarep. Tapi itulah Jawa, karena tanpa makna semuanya tidak atau lebih halusnya ""kurang" pantas untuk dipertahankan. Terutamanya adalah budaya Tedhak Siten yang secara alhamdulilahnya pernah saya rasakan. Sebagaimana persepsi orang Jawa yang menganggap semuanya berfilosofi, masa depan saya pun difilosofikan saat itu (walau tetap dibatasi). Menggunakan beberapa instrumen yang dianggap bagus saat itu dan menjadi modal masa depan. Hebatnya Balita (7-8 bulan) yang bahkan masih mengeja kata-kata Mamah ini memilih satu instrumen sebagai teman dan yaaa cobaan : Buku.

Menjadi cobaan karena bagaimana anak kecil yang bandelnya kelewatan luar biasanya ditambah adanya dua unyeng-unyeng di kepala (bermakna sebagai anak nakal). Sulitlah bagi saya berpura-pura sebagai anak alim yang tidak akan berlari ke satu kolong meja hingga naik ke satu pohon ke pohon lain. Walau kita mungkin percaya bahwa kebaikan bisa kita tanam di satu hati ke hati lain. Tapi percayalah itu butuh waktu hingga semuanya berkembang, itu pun kalau belum dihitung badai atau pancaroba *apeslah kita. Selama itu waktu tidak kan pernah berhenti bahkan sadisnya membabat tanaman yang kita tanam. Akhirnya rekayasa yang kita buat untuk (menampilkan) kebaikan hanya percuma karena waktu tidak menyisakan apa-apa. Pada akhirnya buku menjadi sebuah cobaan sendiri karena waktu seapapun kejamnya tetap membuatnya bermakna.

Buku dan Wanita, dua benda ini punya entitas berbeda, walau memliki makna beragam, tapi kadang menjadi satu kesatuan yang terikat. Entahlah bila keduanya terikat dalam satu waktu dan tempat kemampuan multitasking seorang pria terlihat amatirnya. Jenakanya kita tak pernah bisa fokus menggoda wanita dengan menutup diri dalam tumpukan buku. Kecuali kita memang hanya ingin "menggoda" dalam artian "siul lalu buang muka" yaa di situ mungkin buku akhirnya punya makna. Tapi dalam arti yang lebih serius kedua hal ini bisa dibilang punya dua tarikan yang saling bunuh membunuh. Terlalu sekali kau.

Bayangkan saja bila kedua horizon yang memiliki energi yang sama-sama luar biasa itu berdiri di sekitar kita. Tanpa berbelas kasihan menarik kita dalam satu takdir yang sewajarnya kita pilih sendiri : membunuh salah satu. Saya hanya ingin membayangkan bahwa pada satu waktu Buku dan Wanita yang bertemu dalam horizon sama. Bisa saling bergaul satu sama lain tanpa adanya tuntuntan yang lebih prioritas. Bisa bersenda gurau bersama tanpa saling kecam mengecam, selo bareng hingga saling menyajikan kopi bersama. Tapi apalah artinya daya yang terlalu kecil dibanding massa hingga menjadikan sebuah llusi?

Toh, tafsiran ini pernah coba disuguhkan dalam beberapa film yang referensi tidak perlu jauh-jauh : Indonesia. Dua film yang menampilkan laki-laki penikmat buku garis keras, Rangga (Ada Apa Dengan Cinta?) dan Soe Hok Gie (Gie). Kedua laki-laki ini (Secara lucunya diperankan oleh orang yang sama) menghabiskan waktunya dengan buku tanpa menyentuh kegiatan lain. Tapi setelah muncul wanita dalam ruang-ruang kosong, hidup keduanya berubah makna. Tidak pernah terlintas dalam film itu Buku selalu menemani percakapan antara Rangga dan Cinta misal atau Gie dan Sinta atau Ira, yap Buku dibuang. Walau secara sadar pada akhirnya kedua wanita itu tidak lebih abadi dibanding buku (karya mereka).

Lain lagi dengan kisah hidup penulis asal Rusia Leo Tolstoy, mengalami benturan dengan berbagai hal yang tidak adil dalam hidup. Penulis Anna Karrerina ini meninggalkan semua harta, keluarga dan istrinya. Perbedaan visi misi Tolstoy dengan istri dan anak-anaknya membuatnya memilih mati dalam perjalanan di dalam Kereta. Selain itu sebuah film yang sangat beringas berjudul Into The Wild (2007), mengisahkan anak muda bernama Christopher Maccandles melarikan diri dari rumah, fasilitas dan kemewahaan. Mengganti namanya menjadi Alexander Supertramp, berkeliling dunia dengan berjalan kaki. Bisa kita baca bahwa akhir hidup Christopher sungguh tragis layaknya Tolstoy (lucunya dia pun ditemukan membawa buku Leo Tolstoy), mati di dalam mobil bekas di Alaska. Tapi apakah pilihan keduanya menjadi lebih tidak bermakna?

Kita memang tidak bisa beringas untuk menyajikanya keduanya dalam satu meja yang sama, menyatukannya dalam satu horizon, berharap keduanya bersikap adil. Setidaknya bila kita sama sama sadar sebagai orang merdeka. Tidaklah perlu saling diam termangu dan berharap salah satu dari kita memilih yang (dipaksa) terbaik. Seperti ungkapan Rendra dalam Aku Tulis Pamflet ini, marilah kita (bertiga) duduk berdebat menyatakan setuju dan tidak setuju.

Aku Tidak Melihat Alasan
Kenapa Harus Diam Tertekan dan Termangu
Aku Ingin Secara Wajar Kita Bertukar Kabar
Duduk Berdebat Menyatakan Setuju dan Tidak Setuju

Kenapa Ketakutan Menjadi Takbir Pikiran?
Kekhawatiran Telah Mencemarkan Kehidupan
Ketegangan Telah Mengganti Pergaulan Pikiran Yang Merdeka.

Pada akhir ini, semoga Buku dan Wanita bisa saling bersahabat hingga akhir hayat, Toh keduanya sama-sama manis dan menyakitkan ini kan, Aamiin.

READ MORE

#POKUS : Problemetika Para Sarinah

Posted by Rizky kusumo On Kamis, 03 Maret 2016 2 komentar


Beberapa waktu yang lalu, teman-teman perkumpulan selalu saja membahas gerakan wanita modern/ feminisme. Pembahasan ini memang sering dilakukan, setelah kita merasa suntuk membahas masalah politik, sosial, ataupun agama. Sebuah perbedaan pendekatan yang didapat antara wanita kota dengan desa, wanita karir dengan wanita housewive. Sepertinya memang jauh lebih menarik untuk dibahas, walaupun sangat sulit untuk mencari pendekatannya. 

Sebagai orang yang sangat puritan tentang wanita dan menjunjung kontak langsung sebagai bahan dasar sebuah analisa. Bagi saya sendiri, pembahasan tentang wanita memang terlalu sulit untuk dirasionalisasikan. Namun, sebagai pedoman awal untuk membahas permasalahan ini. Saya mengambil materi, melalui kelakuan yang sering dilakukan ibu saya dan buku Sarinah yang dikarang oleh IR. Soekarno. 

Sebagai seorang wanita dan ibu, beliau memang terlahir dari keluarga jawa pra-moderat. Kehidupannya yang sebagian besar dilalui di kota Jakarta, sepertinya sedikit mensaring beberapa nilai-nilai konservatif kultur-kultur orang Jawa. Hal ini sangat terlhat dengan pola pendidikan yang diberikan kepada anak-anaknya. Karena, pemecahan masalah secara analisa lebih ditekankan daripada melalui mitos. Hal inilah yang membuat saya bisa mendapatkan ciri-ciri wanita modern. Lalu bagaimana dengan wanita yang hidup di desa? Ataupun selalu dijejali pemikiran “desa”? pola-pola pemikiran desa ataupun konservatif memang sangat berbahaya untuk wanita. 

Kadang saya sering lihat, beberapa teman saya yang sedang menjalin hubungan. Baik pacaran maupun menikah. Sering sekali mereka salah ataupun tidak tepat menempatkan wanita sesuai wujudnya.  Hal yang terlihat, wanita sering diperlakukan sebagai blasteran antara dewi dan orang bodoh. Akhirnya para pria ini, selalu memperlakukan wanita sebagai seorang dewi yang harus dipuja dan dijaga. Namun dilain sisi, para wanita ini sering diperlakukan sebagai orang bodoh yang hidupnya hanya berkutat dalam urusan dapur. 

Perubahan ini menurut beberapa catatan sejarah, terjadi setelah perubahan gaya hidup orang-orang nomaden.  Orang-orang nomaden yang dahulunya memakai sistem berburu untuk mencari makan. Akhirnya berubah menjadi petani atau peternak setelah tekhnik menaman ditemukan. Hasilnya, peran wanita yang dahulunya sama seperti pria dengan ketangkasan berburunya. Akhirnya hanya ditempatkan menjadi seorang petani ataupun peternak,  walaupun kemampuan ini menjadi sangat vital. Setelah beberapa tahun ke depan, peran wanita pun akhirnya hanya berkutat dalam masalah masak ataupun menjaga barang. 

Akhirnya untuk melawan semua ini, pada sekitar tahun 1880-an muncullah gerakan feminisme. Gerakan ini menekankan pada pembelaan hak wanita baik secara politik, pekerjaan, dan sosial. Tentulah bagi saya, gerakan ini memang dibutuhkan sebagai garis terdepan dalam pembelaan terhadap wanita. Tapi, kadang saya tidak habis berpikir disaat para penganutnya malah menekankan persamaan gender antara pria dan wanita. Hal inilah yang membuat munculnya pengkotak-an antara pria dan wanita. Hasilnya gerakan ini hanya bisa diibaratkan sebagai ideologi untuk  melawan pemikiran masyarakat yang didominasi oleh pria. Hasilnya gerakan ini seperti menguap ke udara, karena tidak bisa merasuk ke sendi-sendi masyarakat. 

Tapi, ada atau tidaknya gerakan feminisme ini, apakah berperan begitu besar terhadap wanita? Karena, semakin modernnya masyarakat baik secara sosial, ekonomi, maupun budaya. Tentulah akan memunculkan fungsi-fungsi wanita sesuai kodratnya. Pastinya, para wanita ini pun tidaklah mau disamakan dengan pria, begitu pun sebaliknya. Hal ini memang sudah menjadi kodrat alam, karena pria dan wanita pastinya dilahirkan untuk saling melengkapi. 

Sebagai seorang pria yang lahir di keluarga pra-moderat, saya memang tidak setuju dengan gagasan konservatif terhadap wanita. Namun, harus ada sebuah lembaga yang memang peduli terhadap wanita bukannya malah membuat sebuah ideologi. Karena, para wanita ini memang membutuhkan sebuah posisi yang sesuai kodrat sebenarnya. Bukannya diposisikan untuk melawan seorang pria. Pada akhirnya, para pria dan wanita akan tetep bergerak bersama sesuai kemampuan dan saling membantu. 

Mungkin sebagai bangsa, kita harus terus merenungkan apa makna terpenting dari semua perdebatan ini? apa hasilnya? Dan mamfaat bagi kedua belah pihak? Karena kalau hanya saling menghujat ataupun memberikan anti tesis. Hal ini tidaklah pernah memecahkan permasalahan yang ada. Tapi, mungkin kita akan mengetahui jawabannya setelah membaca pandangan IR. Soekarno tentang wanita,“Laki-laki  dan perempuan adalah sebagai dua sayapnya seekor burung. Jika dua sayap sama kuatnya, maka terbanglah burung itu sampai ke puncak yang setinggi-tingginya,  jika patah satu dari pada dua sayap itu, maka tak dapatlah terbang burung itu sama sekali.” Dalam bukunya Sarinah.

 Bila dihayati, tentulah kita semua akan mengetahui peran sesungguhnya dari pria dan wanita sesuai kodratnya. Sebagai pria, tidaklah boleh menempatkan wanita layaknya di sangkar emas. Sebagai wanita pun, pastinya mengetahui peran dan kodratnya yang sudah diatur oleh alam. Akhirnya, keseimbangan pun akan terjadi antara pria dan wanita dalam menjalani hidup. Karena, bukankah seorang pria yang hebat pasti dibelakangnya ada wanita yang hebat pula? 

                  
READ MORE