Sebuah Epilog : Catatan-Catatan Seorang Mahasiswa Tua

Posted by Rizky kusumo On Jumat, 01 April 2016 0 komentar


           Bergelut dengan bundelan Tugas Akhir (TA) bukanlah perkara ringan, ditambah beban sebagai mahasiswa manula, tanpa teman dan motivasi. Di antara deru-deru wirausaha muda, karyawan muda necis dengan jas parlente, hingga mamah dan papah muda, saya masih saja terjebak dalam pergulatan sarjana muda. Kadang saya begitu kesal bagaimana bisa istilah Galau hanya menjadi monopoli kaum pubertas (baca : remaja)? Kemudian hari pun tersobek-sobek bagaikan kertas tak terkenang selain sebuah coret-coretan. Toh apa yang harus kita kenang dari waktu-waktu yang begitu bisu, begitu angkuh, begitu abu-abunya. Sebuah elegi saat arus itu berbalik kita bahkan hanya bisa terpatung melihat pantulan-pantulannya.
              
                Pada keadaan ini saya jadi teringat sosok Galeng dalam novel Arus Balik, Pramoedya Ananta Toer. Saya mendapati Galeng sebagai pemuda desa yang sangat tangkas, cerdas dan juga berani. Namun hidup saat kejayaan Majapahit hanya tinggal romantisme diselingi taklid buta untuk bumbu penyedap. Saya melihat sosok Galeng ini sebagai teman seperjuangan, seorang yang begitu tegar melihat arus berbalik, walau dirinya tidak menutupi kerentanannya sebagai manusia. Kadang saya pun ingin seperti itu, melihat cakrawala dengan tegar walau tahu arus telah berbalik, meninsafi diri bahwa ini tidak bisa dilawan. Menyadari bahwa kegemilangan-kegemilangan masa mahasiswa sudah usang dengan mengisakan bundel-bundel Tugas Akhir.

              Walau begitu masih bisa hidup dalam dunia organisasi kemahasiswaan yang saya geluti sedari awal kuliah. Seperti merekam sebuah pasang surut kejayaan, ada yang datang dan ada yang pergi, merekamnya menjadi epos petualangan kemenangan dan kehancuran. Pada saat itu saya berfikir berbundel-bundel draft Tugas Akhir itu layaknya embun di pagi hari, menguap. Saya kembali seperti sosok Galeng yang terpana mendengar takhzim-takhzim Rama Cluring kepada pemuda-pemuda desa, "Di jaman Majapahit para punggawa, disebarkan ke seluruh negeri bukan untuk memata-matai kawula. Mereka bicara dengan bocah-bocah. Bila anak-anak itu tak dapat menjawab pertanyaan mereka, baik kepala desa mau pun bapa-bapa mandala kena teguran. Dengan demikian setiap bocah dapat membaca dan menulis, tahu akan dewa-dewa dan hafal akan banyak lontar.” ujarnya.
              
               Kadang saya mulai menyadari bahwa manusia bisa hidup hanya dengan kejayaan-kejayaan masa lalunya. Merajutnya dengan seutas-utas tali hingga mampu menariknya ke dunia yang nampak sekarang. Tapi seperti nasib Rama Cluring yang ingin merajut tali-tali itu, harga yang harus dibayar untuk itu kadang (bahkan sering) mahal, harga yang dibayar dengan hidupnya. Saya sendiri tidak pernah mengikrarkan diri sebagai sang Rama. Begitu agung dan beruntungnya dia melihat kejayaan bangsanya, disegani bahkan dicintai bersama. Seperti Galeng, saya pun hanya mendengar epos itu dari para mahasiswa 90 an, para senior saya, para "Rama-Rama". Tak pernah saya bisa membantah, bahwa mahasiswa sekarang (saya pun) hidup di zaman yang berbeda. Tapi celakalah saya, karena Pram sendiri pernah berkata bahwa, "Kita semua harus menerima kenyataan, tapi menerima kenyataan saja adalah pekerjaan manusia yang tak mampu lagi berkembang. Karena manusia juga bisa membikin kenyataan-kenyataan baru. Kalau tak ada orang mau membikin kenyataan-kenyataan baru, maka “kemajuan” sebagai kata dan makna sepatutnya dihapuskan dari kamus umat manusia.” tegasnya.



             Lalu kesempatan itu datang seperti tarikan kartu judi, sebuah keberuntungan yang terkadang terjadi secara kebetulan tapi berarti. Undangan untuk hadir dan mengisi sebuah pemutaran film yang digelar oleh junior-junior di kampus, menjadi sebuah lentera merah dalam remang-remang. Bagi saya moment-moment itu benar-benar menjadi malam yang begitu progresif, bergelar seperti layar tancap yang begitu merakyat, dikelilingi oleh kopi (berbagai merk), kacang dan rokok (berbagai merk). Saya kembali meloncati zaman untuk menarik tali-tali kejayaaan mahasiswa. Pada beberapa moment saya sendiri melihat diri sebagai kawan-kawan yang lain, mereka yang menyempatkan hadir pada malam itu. Kita yang kehilangan sebuah zaman, tidak pernah merasakan kejayaan itu namun dituntut menjaganya. Begitu kejamnya kah sejarah bagi para generasai-generasi yang kurang (s)ada(r) ini?
  
              Lalu terang menerang pun berubah menjadi gelap, film pun diputar, cahaya lampu berganti dengan cahaya film yang bias. Romantisme yang terkadang dilarang untuk orang yang tidak berpasangan pun keluar satu persatu. Bagai kesadaran yang terlahir kembali, saya mulai meninsafi diri sebagai manusia yang berada dipersimpangan, seperti cahaya film itu yang menampilkan ironi-ironinya. Berbagai hal yang pernah saya lakukan saat dulu sebagai mahasiswa dan manusia pun keluar tanpa dibendung, kesadaran saya kembali.  Beberapa adegan dalam film itu pun hanya menjadi plot dalam kesadaran romantik yang membuncah dalam diri. Dalam kenangan mengingat malam-malam penuh terawang obor, plot-plot diskusi, hingga genjrengan gitar, menyadarkan saya bahwa masa kejayaan itu bisa dimiliki oleh setiap generasi. Entah bagaimana slogan Buku, Pesta, dan Cinta kembali hadir pada malam itu
             

              Film pun selesai diputar, terang cahaya film yang bias berganti dengan cahaya lampu yang angkuh. Saya seperti ditarik kembali ke realita dunia, meninggalkan romantika-romantika masa-masa kemahasiswaan, segala tentang Buku, Pesta, dan Cinta. Genggaman saya kepada secangkir kopi pun hilang daya, ditambah sudah habis pula dikerubungi para mahasiswa rantau. Bagi saya sendiri romantika bagi para kaum pejuang sangatlah perlu, layaknya rambu-rambu jalan, kita bisa berharap bahwa romantika itu sebagai sebuah keabadian. seperti kata Khalil Ghibran, "Cinta Tidak Menyadari Kedalamanya dan Terasa Pada Saat Perpisahan Pun Tiba. Dan Saat Tangan Laki-Laki Menyentuh Tangan Seorang Perempuan Mereka Berdua Telah Menyentuh Keabadian, "terangnya. Jadilah pada saat saya dipanggil ke depan, dengan yakin berkata bahwa saya sangat mencintai kehidupan mahasiswa, berbagai memorinya, berbagai romantikanya.

            Waktu pun kembali dengan angkuhnya mengambil moment-moment itu, menambah kenangan dalam sebuah memori. Pada saat itu dalam hati saya teringat dengan tulisan salah satu mahasiswa yang bukunya menjadi bacaan selingan, saat saya kuliah, Soe Hok Gie. Saat pengumuman kelulusannya dari Fakultas Sastra jurusan Sejarah, dalam memoar yang ditulis oleh sahabat-sahabatnya bertajuk Sekali Lagi, saat itu setelah lulus Gie menulis, "Masa-masa mahasiswa akan segera berakhir, hari-hari esok sudah tidak akan sama lagi, terutama untuk saya, "lirihnya.  Bagaimana saya menyadari, Gie, ataupun teman-teman lain memiliki kenangan sendiri dengan dunia mahasiswanya, tapi menjadi begitu indah saat irisan-irisan kenangan itu bertemu dan bertubrukan.

          Dunia pun kembali beredar, waktu terus berjalan, para lakon akan berpergian satu persatu, pahlawan dan pecundang dilemparkan dari ring tanpa bisa mengugat nasibnya. Bagi saya mahasiswa tua yang bisa mendapatkan kesempatan untuk kembali merasakan "dunia mahasiswa", malah mendapatkan sebuah kesadaran ironi bahwa "dunia mahasiswa" juga merupakan embun, akan menguap. Mereka yang menjadi penerus kita pun satu persatu akan menguap membawa romantika masing-masing. Lalu kepada siapakah kita akan berharap? Kepada para karibku dan saudaraku, kadang kita hanya bisa berharap kepada mereka yang memiliki cita-cita, layaknya bibit yang berharap kepada hujan. 

Ia merangkak
di atas bumi yang dicintainya
Ia sudah tua
luka-luka di badannya

Bagai harimau tua
susah payah maut menjeratnya
Matanya bagai saga
menatap musuh pergi dari kotanya

Sesudah pertempuran yang gemilang itu
lima pemuda mengangkatnya
di antaranya anaknya
Ia menolak
dan tetap merangkak
menuju kota kesayangannya

Gugur ~ WS Rendra

0 komentar:

Posting Komentar