#POKUS : Problemetika Para Sarinah

Posted by Rizky kusumo On Kamis, 03 Maret 2016 2 komentar


Beberapa waktu yang lalu, teman-teman perkumpulan selalu saja membahas gerakan wanita modern/ feminisme. Pembahasan ini memang sering dilakukan, setelah kita merasa suntuk membahas masalah politik, sosial, ataupun agama. Sebuah perbedaan pendekatan yang didapat antara wanita kota dengan desa, wanita karir dengan wanita housewive. Sepertinya memang jauh lebih menarik untuk dibahas, walaupun sangat sulit untuk mencari pendekatannya. 

Sebagai orang yang sangat puritan tentang wanita dan menjunjung kontak langsung sebagai bahan dasar sebuah analisa. Bagi saya sendiri, pembahasan tentang wanita memang terlalu sulit untuk dirasionalisasikan. Namun, sebagai pedoman awal untuk membahas permasalahan ini. Saya mengambil materi, melalui kelakuan yang sering dilakukan ibu saya dan buku Sarinah yang dikarang oleh IR. Soekarno. 

Sebagai seorang wanita dan ibu, beliau memang terlahir dari keluarga jawa pra-moderat. Kehidupannya yang sebagian besar dilalui di kota Jakarta, sepertinya sedikit mensaring beberapa nilai-nilai konservatif kultur-kultur orang Jawa. Hal ini sangat terlhat dengan pola pendidikan yang diberikan kepada anak-anaknya. Karena, pemecahan masalah secara analisa lebih ditekankan daripada melalui mitos. Hal inilah yang membuat saya bisa mendapatkan ciri-ciri wanita modern. Lalu bagaimana dengan wanita yang hidup di desa? Ataupun selalu dijejali pemikiran “desa”? pola-pola pemikiran desa ataupun konservatif memang sangat berbahaya untuk wanita. 

Kadang saya sering lihat, beberapa teman saya yang sedang menjalin hubungan. Baik pacaran maupun menikah. Sering sekali mereka salah ataupun tidak tepat menempatkan wanita sesuai wujudnya.  Hal yang terlihat, wanita sering diperlakukan sebagai blasteran antara dewi dan orang bodoh. Akhirnya para pria ini, selalu memperlakukan wanita sebagai seorang dewi yang harus dipuja dan dijaga. Namun dilain sisi, para wanita ini sering diperlakukan sebagai orang bodoh yang hidupnya hanya berkutat dalam urusan dapur. 

Perubahan ini menurut beberapa catatan sejarah, terjadi setelah perubahan gaya hidup orang-orang nomaden.  Orang-orang nomaden yang dahulunya memakai sistem berburu untuk mencari makan. Akhirnya berubah menjadi petani atau peternak setelah tekhnik menaman ditemukan. Hasilnya, peran wanita yang dahulunya sama seperti pria dengan ketangkasan berburunya. Akhirnya hanya ditempatkan menjadi seorang petani ataupun peternak,  walaupun kemampuan ini menjadi sangat vital. Setelah beberapa tahun ke depan, peran wanita pun akhirnya hanya berkutat dalam masalah masak ataupun menjaga barang. 

Akhirnya untuk melawan semua ini, pada sekitar tahun 1880-an muncullah gerakan feminisme. Gerakan ini menekankan pada pembelaan hak wanita baik secara politik, pekerjaan, dan sosial. Tentulah bagi saya, gerakan ini memang dibutuhkan sebagai garis terdepan dalam pembelaan terhadap wanita. Tapi, kadang saya tidak habis berpikir disaat para penganutnya malah menekankan persamaan gender antara pria dan wanita. Hal inilah yang membuat munculnya pengkotak-an antara pria dan wanita. Hasilnya gerakan ini hanya bisa diibaratkan sebagai ideologi untuk  melawan pemikiran masyarakat yang didominasi oleh pria. Hasilnya gerakan ini seperti menguap ke udara, karena tidak bisa merasuk ke sendi-sendi masyarakat. 

Tapi, ada atau tidaknya gerakan feminisme ini, apakah berperan begitu besar terhadap wanita? Karena, semakin modernnya masyarakat baik secara sosial, ekonomi, maupun budaya. Tentulah akan memunculkan fungsi-fungsi wanita sesuai kodratnya. Pastinya, para wanita ini pun tidaklah mau disamakan dengan pria, begitu pun sebaliknya. Hal ini memang sudah menjadi kodrat alam, karena pria dan wanita pastinya dilahirkan untuk saling melengkapi. 

Sebagai seorang pria yang lahir di keluarga pra-moderat, saya memang tidak setuju dengan gagasan konservatif terhadap wanita. Namun, harus ada sebuah lembaga yang memang peduli terhadap wanita bukannya malah membuat sebuah ideologi. Karena, para wanita ini memang membutuhkan sebuah posisi yang sesuai kodrat sebenarnya. Bukannya diposisikan untuk melawan seorang pria. Pada akhirnya, para pria dan wanita akan tetep bergerak bersama sesuai kemampuan dan saling membantu. 

Mungkin sebagai bangsa, kita harus terus merenungkan apa makna terpenting dari semua perdebatan ini? apa hasilnya? Dan mamfaat bagi kedua belah pihak? Karena kalau hanya saling menghujat ataupun memberikan anti tesis. Hal ini tidaklah pernah memecahkan permasalahan yang ada. Tapi, mungkin kita akan mengetahui jawabannya setelah membaca pandangan IR. Soekarno tentang wanita,“Laki-laki  dan perempuan adalah sebagai dua sayapnya seekor burung. Jika dua sayap sama kuatnya, maka terbanglah burung itu sampai ke puncak yang setinggi-tingginya,  jika patah satu dari pada dua sayap itu, maka tak dapatlah terbang burung itu sama sekali.” Dalam bukunya Sarinah.

 Bila dihayati, tentulah kita semua akan mengetahui peran sesungguhnya dari pria dan wanita sesuai kodratnya. Sebagai pria, tidaklah boleh menempatkan wanita layaknya di sangkar emas. Sebagai wanita pun, pastinya mengetahui peran dan kodratnya yang sudah diatur oleh alam. Akhirnya, keseimbangan pun akan terjadi antara pria dan wanita dalam menjalani hidup. Karena, bukankah seorang pria yang hebat pasti dibelakangnya ada wanita yang hebat pula? 

                  

2 komentar:

Bung.Bel mengatakan...

Emansipasi wanita dlm memajukan negara sgt mumpuni,namun saat ini peran wanita kebablasan dgn mengambil hak pekerjaan laki2 sehingga jumlah pengangguran makin merajalela.judul di edit dikit y

Rizky Kusumo mengatakan...

Heheh siap bang, judulnya emang agak kurang beringas...

Posting Komentar