#POKUS : Buku dan Wanita : Dua Cobaan yang Manis Walau Menyakitkan

Posted by Rizky kusumo On Jumat, 04 Maret 2016 0 komentar


BRUAK!!! Beberapa buku itu terbanting ke arah lantai entah mengapa hal itu menggugurkan rasa cuek. Setengah sadar dari lamunan siang bolong, ku arah kan mata ke atas, "Ohh, wanita, " ujarku dalam hati. Tapi wanita entah belajar dari rumus apa membuat hal-hal yang (bagi kita : laki-laki) sepele menjadi begitu sedap untuk diperbincangkan. Tanpa memberi kesempatan menuangkan sebuah pledoi,  gertakan itu meluncur dari mulutnya, "Punya buku rusak, buat apa mending gak punya sekalian, "tegas wanita tersebut. Pada saat ini permasalahan pun bergeser bukan benar atau salah (Karena kalau itu sudah pasti saya yang salah : Wanita itu selalu benar). Tapi kepada sebuah kebanggaan (semu) yang apapun alasanya patut saya perjuangkan saat itu.

Kebanggaan saya dikoyak satu persatu tanpa bisa melawan, makna saya tentang hal yang ingin diungkapkan percuma, walau sadar pembenaran apapun akan tetap salah. Kebenaraan saat itu di hegemoni menjadi sebuah makna tunggal tidak lupa ditambah bumbu (agar sedap). Perjuangaan yang saya lakukan pun bukan untuk menjadi, tapi hanya untuk pembebasaan bersya'rat. Toh, bagaimana kita bisa mengartikan semua itu, karena kata Bapak, "lari dari seorang "wanita" ehh masalah adalah pecundang. Sedangkan tetap berada ruang itu bangga saya dikoyak satu persatu, tidak fokus satu menit buku melayang, ahh dasar wanita.

Sedikit saja tentang saya yang lahir dari keluarga Jawa dengan begitu banyaknya corak budaya untuk dipertahankan. Dari lahir semua jalan hidup saya diberi makna, entah nama, tanggal kelahiran, mungkin jodoh *alah ngarep. Tapi itulah Jawa, karena tanpa makna semuanya tidak atau lebih halusnya ""kurang" pantas untuk dipertahankan. Terutamanya adalah budaya Tedhak Siten yang secara alhamdulilahnya pernah saya rasakan. Sebagaimana persepsi orang Jawa yang menganggap semuanya berfilosofi, masa depan saya pun difilosofikan saat itu (walau tetap dibatasi). Menggunakan beberapa instrumen yang dianggap bagus saat itu dan menjadi modal masa depan. Hebatnya Balita (7-8 bulan) yang bahkan masih mengeja kata-kata Mamah ini memilih satu instrumen sebagai teman dan yaaa cobaan : Buku.

Menjadi cobaan karena bagaimana anak kecil yang bandelnya kelewatan luar biasanya ditambah adanya dua unyeng-unyeng di kepala (bermakna sebagai anak nakal). Sulitlah bagi saya berpura-pura sebagai anak alim yang tidak akan berlari ke satu kolong meja hingga naik ke satu pohon ke pohon lain. Walau kita mungkin percaya bahwa kebaikan bisa kita tanam di satu hati ke hati lain. Tapi percayalah itu butuh waktu hingga semuanya berkembang, itu pun kalau belum dihitung badai atau pancaroba *apeslah kita. Selama itu waktu tidak kan pernah berhenti bahkan sadisnya membabat tanaman yang kita tanam. Akhirnya rekayasa yang kita buat untuk (menampilkan) kebaikan hanya percuma karena waktu tidak menyisakan apa-apa. Pada akhirnya buku menjadi sebuah cobaan sendiri karena waktu seapapun kejamnya tetap membuatnya bermakna.

Buku dan Wanita, dua benda ini punya entitas berbeda, walau memliki makna beragam, tapi kadang menjadi satu kesatuan yang terikat. Entahlah bila keduanya terikat dalam satu waktu dan tempat kemampuan multitasking seorang pria terlihat amatirnya. Jenakanya kita tak pernah bisa fokus menggoda wanita dengan menutup diri dalam tumpukan buku. Kecuali kita memang hanya ingin "menggoda" dalam artian "siul lalu buang muka" yaa di situ mungkin buku akhirnya punya makna. Tapi dalam arti yang lebih serius kedua hal ini bisa dibilang punya dua tarikan yang saling bunuh membunuh. Terlalu sekali kau.

Bayangkan saja bila kedua horizon yang memiliki energi yang sama-sama luar biasa itu berdiri di sekitar kita. Tanpa berbelas kasihan menarik kita dalam satu takdir yang sewajarnya kita pilih sendiri : membunuh salah satu. Saya hanya ingin membayangkan bahwa pada satu waktu Buku dan Wanita yang bertemu dalam horizon sama. Bisa saling bergaul satu sama lain tanpa adanya tuntuntan yang lebih prioritas. Bisa bersenda gurau bersama tanpa saling kecam mengecam, selo bareng hingga saling menyajikan kopi bersama. Tapi apalah artinya daya yang terlalu kecil dibanding massa hingga menjadikan sebuah llusi?

Toh, tafsiran ini pernah coba disuguhkan dalam beberapa film yang referensi tidak perlu jauh-jauh : Indonesia. Dua film yang menampilkan laki-laki penikmat buku garis keras, Rangga (Ada Apa Dengan Cinta?) dan Soe Hok Gie (Gie). Kedua laki-laki ini (Secara lucunya diperankan oleh orang yang sama) menghabiskan waktunya dengan buku tanpa menyentuh kegiatan lain. Tapi setelah muncul wanita dalam ruang-ruang kosong, hidup keduanya berubah makna. Tidak pernah terlintas dalam film itu Buku selalu menemani percakapan antara Rangga dan Cinta misal atau Gie dan Sinta atau Ira, yap Buku dibuang. Walau secara sadar pada akhirnya kedua wanita itu tidak lebih abadi dibanding buku (karya mereka).

Lain lagi dengan kisah hidup penulis asal Rusia Leo Tolstoy, mengalami benturan dengan berbagai hal yang tidak adil dalam hidup. Penulis Anna Karrerina ini meninggalkan semua harta, keluarga dan istrinya. Perbedaan visi misi Tolstoy dengan istri dan anak-anaknya membuatnya memilih mati dalam perjalanan di dalam Kereta. Selain itu sebuah film yang sangat beringas berjudul Into The Wild (2007), mengisahkan anak muda bernama Christopher Maccandles melarikan diri dari rumah, fasilitas dan kemewahaan. Mengganti namanya menjadi Alexander Supertramp, berkeliling dunia dengan berjalan kaki. Bisa kita baca bahwa akhir hidup Christopher sungguh tragis layaknya Tolstoy (lucunya dia pun ditemukan membawa buku Leo Tolstoy), mati di dalam mobil bekas di Alaska. Tapi apakah pilihan keduanya menjadi lebih tidak bermakna?

Kita memang tidak bisa beringas untuk menyajikanya keduanya dalam satu meja yang sama, menyatukannya dalam satu horizon, berharap keduanya bersikap adil. Setidaknya bila kita sama sama sadar sebagai orang merdeka. Tidaklah perlu saling diam termangu dan berharap salah satu dari kita memilih yang (dipaksa) terbaik. Seperti ungkapan Rendra dalam Aku Tulis Pamflet ini, marilah kita (bertiga) duduk berdebat menyatakan setuju dan tidak setuju.

Aku Tidak Melihat Alasan
Kenapa Harus Diam Tertekan dan Termangu
Aku Ingin Secara Wajar Kita Bertukar Kabar
Duduk Berdebat Menyatakan Setuju dan Tidak Setuju

Kenapa Ketakutan Menjadi Takbir Pikiran?
Kekhawatiran Telah Mencemarkan Kehidupan
Ketegangan Telah Mengganti Pergaulan Pikiran Yang Merdeka.

Pada akhir ini, semoga Buku dan Wanita bisa saling bersahabat hingga akhir hayat, Toh keduanya sama-sama manis dan menyakitkan ini kan, Aamiin.

READ MORE

#POKUS : Problemetika Para Sarinah

Posted by Rizky kusumo On Kamis, 03 Maret 2016 2 komentar


Beberapa waktu yang lalu, teman-teman perkumpulan selalu saja membahas gerakan wanita modern/ feminisme. Pembahasan ini memang sering dilakukan, setelah kita merasa suntuk membahas masalah politik, sosial, ataupun agama. Sebuah perbedaan pendekatan yang didapat antara wanita kota dengan desa, wanita karir dengan wanita housewive. Sepertinya memang jauh lebih menarik untuk dibahas, walaupun sangat sulit untuk mencari pendekatannya. 

Sebagai orang yang sangat puritan tentang wanita dan menjunjung kontak langsung sebagai bahan dasar sebuah analisa. Bagi saya sendiri, pembahasan tentang wanita memang terlalu sulit untuk dirasionalisasikan. Namun, sebagai pedoman awal untuk membahas permasalahan ini. Saya mengambil materi, melalui kelakuan yang sering dilakukan ibu saya dan buku Sarinah yang dikarang oleh IR. Soekarno. 

Sebagai seorang wanita dan ibu, beliau memang terlahir dari keluarga jawa pra-moderat. Kehidupannya yang sebagian besar dilalui di kota Jakarta, sepertinya sedikit mensaring beberapa nilai-nilai konservatif kultur-kultur orang Jawa. Hal ini sangat terlhat dengan pola pendidikan yang diberikan kepada anak-anaknya. Karena, pemecahan masalah secara analisa lebih ditekankan daripada melalui mitos. Hal inilah yang membuat saya bisa mendapatkan ciri-ciri wanita modern. Lalu bagaimana dengan wanita yang hidup di desa? Ataupun selalu dijejali pemikiran “desa”? pola-pola pemikiran desa ataupun konservatif memang sangat berbahaya untuk wanita. 

Kadang saya sering lihat, beberapa teman saya yang sedang menjalin hubungan. Baik pacaran maupun menikah. Sering sekali mereka salah ataupun tidak tepat menempatkan wanita sesuai wujudnya.  Hal yang terlihat, wanita sering diperlakukan sebagai blasteran antara dewi dan orang bodoh. Akhirnya para pria ini, selalu memperlakukan wanita sebagai seorang dewi yang harus dipuja dan dijaga. Namun dilain sisi, para wanita ini sering diperlakukan sebagai orang bodoh yang hidupnya hanya berkutat dalam urusan dapur. 

Perubahan ini menurut beberapa catatan sejarah, terjadi setelah perubahan gaya hidup orang-orang nomaden.  Orang-orang nomaden yang dahulunya memakai sistem berburu untuk mencari makan. Akhirnya berubah menjadi petani atau peternak setelah tekhnik menaman ditemukan. Hasilnya, peran wanita yang dahulunya sama seperti pria dengan ketangkasan berburunya. Akhirnya hanya ditempatkan menjadi seorang petani ataupun peternak,  walaupun kemampuan ini menjadi sangat vital. Setelah beberapa tahun ke depan, peran wanita pun akhirnya hanya berkutat dalam masalah masak ataupun menjaga barang. 

Akhirnya untuk melawan semua ini, pada sekitar tahun 1880-an muncullah gerakan feminisme. Gerakan ini menekankan pada pembelaan hak wanita baik secara politik, pekerjaan, dan sosial. Tentulah bagi saya, gerakan ini memang dibutuhkan sebagai garis terdepan dalam pembelaan terhadap wanita. Tapi, kadang saya tidak habis berpikir disaat para penganutnya malah menekankan persamaan gender antara pria dan wanita. Hal inilah yang membuat munculnya pengkotak-an antara pria dan wanita. Hasilnya gerakan ini hanya bisa diibaratkan sebagai ideologi untuk  melawan pemikiran masyarakat yang didominasi oleh pria. Hasilnya gerakan ini seperti menguap ke udara, karena tidak bisa merasuk ke sendi-sendi masyarakat. 

Tapi, ada atau tidaknya gerakan feminisme ini, apakah berperan begitu besar terhadap wanita? Karena, semakin modernnya masyarakat baik secara sosial, ekonomi, maupun budaya. Tentulah akan memunculkan fungsi-fungsi wanita sesuai kodratnya. Pastinya, para wanita ini pun tidaklah mau disamakan dengan pria, begitu pun sebaliknya. Hal ini memang sudah menjadi kodrat alam, karena pria dan wanita pastinya dilahirkan untuk saling melengkapi. 

Sebagai seorang pria yang lahir di keluarga pra-moderat, saya memang tidak setuju dengan gagasan konservatif terhadap wanita. Namun, harus ada sebuah lembaga yang memang peduli terhadap wanita bukannya malah membuat sebuah ideologi. Karena, para wanita ini memang membutuhkan sebuah posisi yang sesuai kodrat sebenarnya. Bukannya diposisikan untuk melawan seorang pria. Pada akhirnya, para pria dan wanita akan tetep bergerak bersama sesuai kemampuan dan saling membantu. 

Mungkin sebagai bangsa, kita harus terus merenungkan apa makna terpenting dari semua perdebatan ini? apa hasilnya? Dan mamfaat bagi kedua belah pihak? Karena kalau hanya saling menghujat ataupun memberikan anti tesis. Hal ini tidaklah pernah memecahkan permasalahan yang ada. Tapi, mungkin kita akan mengetahui jawabannya setelah membaca pandangan IR. Soekarno tentang wanita,“Laki-laki  dan perempuan adalah sebagai dua sayapnya seekor burung. Jika dua sayap sama kuatnya, maka terbanglah burung itu sampai ke puncak yang setinggi-tingginya,  jika patah satu dari pada dua sayap itu, maka tak dapatlah terbang burung itu sama sekali.” Dalam bukunya Sarinah.

 Bila dihayati, tentulah kita semua akan mengetahui peran sesungguhnya dari pria dan wanita sesuai kodratnya. Sebagai pria, tidaklah boleh menempatkan wanita layaknya di sangkar emas. Sebagai wanita pun, pastinya mengetahui peran dan kodratnya yang sudah diatur oleh alam. Akhirnya, keseimbangan pun akan terjadi antara pria dan wanita dalam menjalani hidup. Karena, bukankah seorang pria yang hebat pasti dibelakangnya ada wanita yang hebat pula? 

                  
READ MORE

Resensi Film Searching For Sugar Man : Mencari Sang Maestro Di Pinggiran Kota Detroit

Posted by Rizky kusumo On Rabu, 02 Maret 2016 0 komentar

                                
      Di negara kelahiranya namanya sirna tanpa satupun jejak, Tidak ada yang mengenalnya kecuali kisah-kisah urban. Tapi beratus-ratus mill dari kota kelahiranya. Namanya menjadi Mitos, Karya-karyanya menjadikanya legenda, Sebuah simbol perjuangan. Sebuah pencarian atas nama bakat, atas nama kenyataan dan atas nama kebenaran?

       http://rizky-kusumo.blogspot.co.id/   Suara petikan gitar membelah sisi malam itu di pemukiman pinggiran Detroit, Amerika Serikat. Daerah yang termasuk pemukiman miskin di negeri Paman Sam ini menyimpan satu bakat, Sugar Man. Sosoknya tidak segemilang Bob Dylan, dia misterius walau bakatnya tetap terekam di masyarakat. Namanya bahkan tidak masuk dalam jajaran musisi-musisi dunia. Kisahnya hanya terekam di masyarakat pinggiran sebagai sebuah cerita urban yang bahkan ditambah dengan bumbu.

                   Karirnya timbul tenggelam layaknya bakat lain di tarung jagat musik. Bakatnya tidak diterima di negara kelahirannya, Amerika Serikat Menolaknya. Isu pun beredar tentangnya, bunuh diri di sebuah konser. Beberapa konser yang gagal menjadi kronologi kematian "musisi jalanan" tersebut. Walau bakatnya dianggap lebih cemerlang dari nama besar seperti Bob Dylan, karirnya tidak tertolong. Nama Sugar Man (sesuai salah satu judul lagunya) pun menjadi abu, ironi?

                  Tapi berpuluh-puluh mill jauhnya di Cape Town, Afrika Selatan. Namanya dan karyanya di elu-elu kan. Dua Albumnya (Could Fact dan Coming From Reality) terjual setengah juta kopi. Sosoknya bahkan lebih terkenal dibanding Elvis Presly. Bahkan menjadi Theme Song Anti-Aphartide di era 70-80 an, lagunya menjadi theme song perjuangan. Bahkan beberapa albumnya di cekal di radio, TV bahkan hanya untuk beredar butuh sebuah perjuangan. Lagunya menjadi sebuah makna "Pemberontakan" bagi anak-anak muda dan terus diputar beberapa generasi.

                          Sixto Rodriguez di Cover Albumnya "Coming From Reality" (1971)


                   Searching For Sugar Man, entah bagaimana saya menceritakan prihal film dokumententer tersebut, menggetarkan. Mengisahkan dua orang detektif musik yang berjuang mencari sosok Sugar Man. Tanpa ada satu pun petunjuk karena namanya tidak terekam di sejarah. Sixto Rodriguez (Sugar Man), sekarang siapa yang kenal dengan nama tersebut? Di era itu, namanya tenggelam oleh kebesaran Elvis Presly, Hingar Bingar Jhon Lenon bahkan kharisma Bob Dylan. 

                 Tapi di Afrika Selatan, namanya melambung bersama kisahnya yang menjadi mitos, film ini sendiri mendapat penghargaan Oscar pada tahun 2013 silam. Keberhasilan sang sutradara Malik Bendjelloul merekam kisah sang "Sugar Man", dari perkampungan pinggrian Detroit, hingga mencari jejak nya dari satu label musik ke label musik lain, juga berkeliling kota Afrika Selatan. Membangun film dokumenter ini jadi layaknya sebuah novel fiction.

                 Pada satu sisi kita dibawa ke dalam kisah urban legend tentang Sixto Rodriguez terutama saat di Detroit, lalu bagaimana bakatnya tidak mampu membawanya ke puncak. Pada sisi yang lain pun kita akan di giring untuk mengagumi bakatnya setelah karyanya menjadi pujaan di negeri Nelson Mandela. Kehebatan Malik Bendjelloul merakit kisah sang maestro dari awal karir beriringan dengan kisah-kisah orang disekitarnya. Membuat sosok misterius tersebut menjadi lebih dekat walau beberapa hal belum terjawab.

                Toh dibeberapa part dalam film ini kita akan di bawa dengan sosok misterius Rodriguez, bakatnya yang bahkan disebut lebih hebat dari Bob Dylan, pertanyaan bagaimana sosok Rodriguez tewas, bahkan pertanyaan apakah Rodriguez sudah tewas? Sebuah film dokumenter dengan twist yang mendebarkan.

              Pada film ini pun kita akan ditemani lantunan lagu Sixto Rodriguez dari dua albumnya. Beberapa lagu seperti Sugar Man, I Wonder, Crucify Your Mind yang pernah jadi anthem pemuda Afrika Selatan era 70 an. Bahkan saya merasa Amerika telah menyia-nyiakan bakat dari pria keturunan Mexico tersebut. Sebagai musisi nama Rodriguez memang layaknya bakat lain yang timbul tenggelam. Tapi lumpur tidak akan mampu menyembunyikan emas. Hanya pencariaan sungguh-sungguhlah yang akan menemukannya. Inilah yang dilakukan Para Searching For Sugar Man di film tersebut.
             
READ MORE