Resensi Buku : Teosofi, Nasionalisme, Dan Elite Modern Indonesia (Iskandar P Nugraha)

Posted by Rizky kusumo On Kamis, 27 Februari 2014 0 komentar
               

                       Pada pembukaan buku berjudul Di Bawah Lentera Merah, yang merupakan hasil tulisan Soe Hok Gie. Gie kurang lebih pernah beranalisa, bahwa bangsa/masyarakat Indonesia merupakan bentukan dari tiga ideologi besar yaitu Islam, Nasionalis, dan Komunis. tiga ideologi inilah yang membentuk pondasi masyarakat Indonesia hingga Indonesia merdeka. Sebagai tiga ideologi besar dengan massa besar pula, pertempuran pengaruh menjadi semakin tajam pada masa-masa awal kemerdekaan. Hal yang nantinya menimbulkan "bara dalam sekam" dalam perebutan pengaruh tipe kenegaraan. Dalam pertempuran itu, ideologi Nasionalis secara simbolis dianggap yang paling "mewakili" karakter ke-nusantaraa-an. 
                    Tapi bagaimana karakter nasionalis terbentuk? Bangsa Indonesia sendiri terdiri dari beberapa suku, agama, bahasa, dan budaya. Satu sama lain saling tertutup, karena sistem feodal Indonesia yang masih tetap dipertahankan bangsa Belanda untuk memuluskan penjajahan. Hasilnya ide persatuan dan kesatuan selalu dianggap barang Utopis banyak pemikir saat itu. Namun, setelah adanya sumpah pemuda (28 mei 1928) dengan mengumpulkan beberapa elemen perjuangan, anggapan Utopis itu pun sirna. Tapi, melacak pondasi Nasionalis tetap lah sulit, bagaimana Indonesia dengan beberbagai ras, agama, bahasa, budaya akhirnya mau berkumpul tanpa membedakaan satu sama lain.
                  Hal ini yang mau diungkapkan oleh Iskandar P Nugraha dalam bukunya Teosofi, Nasionalisme, Dan Elite Modern Indonesia. Pada buku cetakan 2001 itu, beliau setidaknya ingin mengungkapkan sepak terjang Teosofi pada tahun-tahun 1901-1930 an. Bahwa gerakan inilah yang paling berpengaruh menamkan pemikiran Nasionalis kepada masyarakat khususnya pribumi saat itu. Bahkan berdirinya Budi Utomo (1908), tidak bisa terlepas dari pengaruh gerakan yang berpusat di Adyar, Madras, India tersebut. Apalagi ketua pertama BO, Dr, Radjiman Wedyodiningrat merupakan anggota Teosofi.
               Karena itulah, Seperti pengantar dari David Reeve dalam buku ini, "Sejak 1880 sampai akhir 1920-an, gerakan Teosofi merupakan suatu bagian penting dalam kehidupan Intelektual dan sosial di Eropa, Amerika, Australia, dan "Asia", terutama di negara-negara kolonial". Menjadi perhatian saya untuk meresensi buku ini, sehingga "setidaknya" menjadi jembatan para pembaca untuk mengetahui isi buku tersebut. Sehingga menjadi cakrawala pengetahuan tentang asal usul lahirnya benih Nasionalis bangsa.
                  Dalam buku ini, Iskandar mulai menarasikan gerakan Teosofi dari tahun 1901 saat organisasi itu diresmikan di Semarang. Gerakan ini sendiri menarik simpati masyarakat Hindia Belanda yang bercorak mistis-okultis. Bahkan, beberapa nama yang nantinya termasuk jajaran pahlawan nasional pun pernah terdaftar dalam gerakan ini. Sebut saja Goenawan dan Tjipto Mangoenkoesomo, H Agus Salim, Amir Sjarifoedin, bahkan R Soekemi (ayah IR. Soekarno).
                  Menjadi perhatian lebih karena sekolah Arjuna (gerakan pendidikan Teosofi) dan Taman Siswa (sekolah yang didirikan Ki Hajar Dewantara), sama-sama mendapat pengaruh dari Montessori dan Rabindranath Tagore. Kemudian menjadi perhatian, karena dalam sekolah Arjuna ini para murid-murid diajarkan untuk bersikap patriot (cinta tanah air), hal itu dimulai dari mengasah keterampilan seni lokal, seperti drama, sastera, dll. Hal itu yang dianggap membekas bagi para alumni nya, bahkan mereka pun mengenalkan hal tersebut kepada lembaga lain seperti Taman Siswa. Seperti kata Mohammad Yamin dan Sanoesi Pani, saat mereka bermain seni tersebut nantinya akan membuahkan rasa kesadaran kebangsaan yang kuat.
                  Pengaruh Teosofi pun pernah diungkapkan oleh Presiden pertama Indonesia, IR.Soekarno,"kami mempunyai sebuah perpustakaan yang besar di kota ini (Surabaya) yang diselenggarakan oleh perkumpulan Teosofi..., Aku menyelam lama sekali ke dalam kebatinan ini, dan disana aku bertemu dengan orang-orang besar, buah pikiran mereka menjadi buah pikiranku, cita-cita mereka adalah pendirian dasarku". Statement Soekarno ini akhirnya menjadi sebuah rujukan, bagaimana Bung Karno yang besar dalam lingkungan Sarikat Islam (SI) malah condong befikiran Nasionalis.             
                  Kemudian lambat laun, saat suasana pergerakan mulai mengalami masa-masa bergerak secara radikal. Organisasi "kultur" Teosofi pun mulai ditinggalkan, hal itu pun ditambah kecaman dari kalangan agama seperti Islam dan Kristen Katolik, akibat kegiatan Teosofi yang mengarah ke okultisme (kebatinanan) dan ajaran Islam atau Kristen yang diajarkan tidak sesuai. Kecaman dari beberapa pihak inilah yang membuat anggota Teosofi pun mulai menurun, apalagi para pejuang saat itu menganggap organisasi ini masih bagian dari Belanda. Akhirnya, pada tahun 1930-an terjadi penurunan besar-besaran anggota Teosofi dan organisasi yang sejenis seperti Budi Utomo (BO). 
                    Akhirnya bagi saya, ini menjadi babak di mana Iskandar sebagai penulis ingin menerangkan bahwa Teosofi sebagai "Bapak" yang mengenalkan rasa Patriotik sudah ditinggalkan secara organisasi oleh anak-anakya. Walau begitu, secara pemikiran, ajaran dasar Teosof selalu tertanam kepada para pribumi yang pernah belajar disana. Seperti ungkapan dari Achmad Soebardjo, "Meskipun banyak hal yang disetujuinya sepenuh hati walau ada beberapa yang dipaksakan, saya mendapat pengalaman berharga di dalam organisasi ini".
                  Hasilnya Iskaandar sendiri memang hanya berkisar menganalisa, bahwa jiwa patriotik (nasionalis) muncul dari jiwa-jiwa lulusan teosof dan organisasi sejenis. Sayangnya, saat era pra-kemerdekaan dan pasca kemerdekaan tidak mendapat tempat dalam buku ini. Walau, secara organisasi Teosofi sudah hilang sejak tahun 1930 an, tapi koneksi antar eks-Teosof tentu sangat penting. Kekuranganya dalam buku ini tidak menjelaskan, apakah masih ada pengaruh organisasi atau eks orang-orang Teosofi terhadap pergerakan saat itu? atau masih ada kah koneksi dan pengaruh eks anggota teosof disaat era-era pembentukan negara.
                            Tapi bagi saya pribadi, kajian sejarah dalam buku ini termasuk patut untuk dibaca oleh kawan-kawan. Apalagi untuk melihat pembawa akar kelahiran "kembali" jiwa-jiwa patriotik (Nasioanlis) bangsa. Tanpa melihat latar belakang sebuah gerakan terutama Teosofi, tentulah kita tidak akan mampu menilai peran yang sebenarnya mereka bawa. Menjadi lebih penting, karena hingga saat ini Indonesia secara "simbolis" akar Nasionalis atau persatuan dalam berbagai ras, agama, bahasa, budaya lah yang jauh lebih cocok dipakai. Hal yang memang sejak awal menjadi ajaran dasar Teosofi.
                                Kemudian dalam buku ini, para pembaca pun akan mengetahui inti ajaran Teosofi dan pergerakanya di dunia. Bagaimana organisasi ini sangat menarik bagi masyarakat yang masih mempercayai okultisme (kebatinan)-mistis, seperti Indonesia dan India. Tentulah yang paling menarik, Iskandar pun menampilkan nama-nama anggota Teosofi dari beberapa daerah seperti Surakarta, Malang, Semarang dll. Di mana banyak bupati atau bangsawan saat itu ternyata termasuk anggota Teosofi tersebut. Tentulah yang menarik, ternyata banyak tokoh nasional dan para perumus ketatanegaraan nantinya banyak terinspirasi atas ajaran Teosofi tersebut.  
                   
READ MORE

Sejarah Musik : Pembenturan & Pembentukan Budaya Masyarakat (Bagian 1)

Posted by Rizky kusumo On Senin, 24 Februari 2014 2 komentar
                 
                  Dalam sebuah kehidupan masyarakat, seni tidaklah bisa dilepaskan dalam unsur-unsur  pembentuk kebudayaan. Pada peradaaban-peradaaban besar, pastilah memiliki karya seni yang masih bisa rasakan hingga sekarang. Sebut saja kebudayaan Yunani, Mesir, Persia, Arab, bahkan sekarang Eropa yang selalu melahirkan seniman besar. Dari semua bidang seni, musik termasuk yang universal bisa dinikmati oleh semua kalangan. Hal inilah yang membuat banyak pemusik yang mampu mentransfer pemikiranya kepada masyarakat secara cepat.
                            Kali ini Rizky-Kusumo.Blogspot.com akan mencoba menganalisa sejarah kelahiran Musik dunia, kemudian efek yang diakibatkannya kepada masyarakat, kemudian bagaimana masyarakat terbentuk karena pengaruh musik itu. Beda dengan kawan-kawan lain yang membahas musik lebih ke arah nada-nada atau simfoni, ada juga yang lebih ke perkembangan alat musik, Atau pendefinisian musik itu tersendiri. Namun, Gua lebih ke arah bagaimana musik itu menjadi alat untuk membentuk budaya, melawan arus kekuasaan, dll. Tentulah ini lebih mengarah kepada aspek sisiologi yang diciptakan oleh musik itu sendiri, mulai dari pengaruh lagu, tokoh/band musik, atau aliran/genre tersebut.
                    Karena itulah, setidaknya akan ada pembagian zaman untuk membagi pengaruh musik terhadap masyarakat. Seperti era klasik, era Romantik, Modern, dsb. Sebagai penjabaran, tentulah mereka yang lahir pada zaman ini terkadang ter-influence terhadap seni yang sedang berkembang terutama musik. Bagaimana tokoh/genre mampu mentransferkan pemikiranya kepada masyarakat, kemudian betapa musik bisa menjadi indikator besarnya sebuah peradaaban. Kembali lagi yang terpenting, bagaimana musik menjadi "baju" yang selalu digunakan masyarakat pada setiap zamannya untuk membentuk/melawan budaya. Hal inlah yang menarik untuk kita bahas, Karena itu kita mulai saja threed nya....

1) Era Musik Zaman Kuno 
                              


                            Peradaban Yunani menjadi salah satu mercusuar dunia pada masanya (5-4 SM), selain msenguasai bidang filsafat, politik, bahasa. Masyarakat Yunani pun berhasil mengembangkan kebudayaan seni mereka. Puisi-puisi karya Homer seperti Iliad dan Odyssey, kemudian beberapa kisah dalam tulisan nya sangat berpengaruh terhadap masyarakat Yunani. Selain itu, seni musik pun sangat berkembang pada zaman itu dan memberikan pengaruh besar terhadap musik hingga sekarang. Saat itu musik selalu digunakan sebagai iringan teater, tarian dan nyayian.
                           Saat zaman itu, masyarakat Yunani menggunakan musik sebagai sarana pemujaan terhadap Dewi kesenian bangsa Yunani bernama Musae (cikal bakal nama musik). Hal itulah yang membuat musik tidak bisa lepas dari ritual keagamaan. Alat-alat musik seperti Lyra dan Aulos menjadi alat musik yang digunakan aliran pemuja Apollo dan Dionysus. Saat lahir tokoh-tokoh seperti Plato (427-347 SM), Aristoteles (384-322 SM), Aristoxenus (3500-300 SM). Mereka membagi musik menjadi 2 golongan (Yang bertahan hingga sekarang), yaitu Harmoni (Aristoxenus) dan Ethos disebarkan oleh Plato dan Aristoteles yang menganggap musik dapat berpengaruh terhadap para pendengarnya.
                          Pengaruh musik ini juga sangat berpengaruh terhadap peradabaan Yunani, karena kemajuan musik beriringian dengan kemjuan peradaban ilmu pengetahuan lainya. Selain itu, seni terutama musik menjadi interpertasi keadaan masyarakat Yunani saat itu, seperti kejadian perang, penaklukan, tentunya sebagai jembatan kepada dewa-dewa. Musik menjadi roh/spirit bagi masyarakat Yunani menjalani kehidupan-kehidupan yang penuh dengan intelekutualitas dan kerohanian.
                            Selain masyarakat Yunani, bangsa-bangsa besar lainya pun melahirkan karya musik-musik besar. Seperti musik Persia, Romawi, Mesir, bahkan Arab (Islam). Terutama saat itu, seperti bangsa Persia, Jepang, Mesir dan Yunani menggunakan musik sebagai sarana pemujaan kepada Dewa. Sedangkan pada Era kejayaan Abbasyiah (750-1258 M), saat itu musik menjadi sarana penyebaran agama. Tapi, beberapa filsuf besar zaman itu, seperti Al-Farabi (900-950), Ibnu-Sina (980-1037), Al-Kindi (897-976 M), mereka mengembangkan musik karena merupakan cabang dari Matamatika dan Filsafat. Beberapa hasil peradabaan musik saat itu seperti Gitar, Biola, dan beberapa komposisi yang bisa kita rasakan hingga sekarang.
                                 
2) Era Musik Zaman Klasik
                                     

                             Runtuhnya Romawi, kemunculan Kristen di Eropa menjadi awal afirmasi Gereja terhadap musik barat. Saat itu, Gereja mengambil alih musik yang tadinya sebagai hiburan, pengembangan intelektual manusia, dll menjadi jembatan ibadah mereka. Hal ini membuat perkembangan musik di barat mengalami penurunan, dibandingakan musik-musik Arab/Islam (Abbasyiah) saat itu. Walau masih ada satrawan-satrawan sekuler yang tidak terikat dengan Gereja, namun otomatis pengaruh musik mereka tidak begitu besar karena pengaruh Gereja terhadap masyarakat. Hal ini menyebabkan masyarakat Eropa saat itu, berada dalam "kekeringan" bukan hanya intelektual tapi juga kreativitas.
                                Tapi seperti roda yang telah berputar, berakhirya zaman pertengahan/ Dark Age (abad 15 M) membuat Euforia masyarakat Eropa pun mulai bangkit. Hal ini melanda bukan hanya kaum Intelektual tapi juga para seniman. Menurunya pamor Gereja, membuat para seniman mulai kembali kepada seni dan musik-musik Yunani. Seniman-seniman dari Florence dan Perancis menjadi pionir kelahiran musik Opera. Pada zaman Barok-Rakoko (1600 -1750 M), menjadi awal tonggak inovasi-inovasi musik yang dilakukan para seniman. Pada zaman itu pula lahir salah satu maestro terbesar dunia, Johann Sebastian Bach (1685-1750 M). Dia banyak melahirkan musik-musik Instrumental yang berpengaruh terhadap musik-musik klasik setelahnya.
                            Bangkitnya musik pada era ini, juga membangkitkan musik yang lebih rasional tidak seperti era sebelumnya, ini terus bergerak hingga era musik klasik yang melahirkan pemusik-pemusik berkelas seperti Mozart (1756-1791). Hasilnya masyarakat Eropa saat itu mulai melakukan improvisasi untuk "menyempurnakan" musik itu sendiri. Pada era Mozart ini terjadi demam musik, terutama opera dan instrumental melanda Eropa. Banyak Raja atau Pangeran yang memesan pertunjukan opera kepada komponis itu untuk menghibur para bangsawan. Kemudian, masuk ke era musik Romantik yang diusung oleh Ludwig Van Beethoven (1770-1827 M) menjadi landasan pacu krativitas pemusik barat.
                                    Hal yang menjadi menarik, pada era ini para komposer besar menampilkan unsur rasionalitas terhadap musik nya berbeda dengan era sebelumnya. Benturan pun terjadi dengan pemusik yang masih mengusung musik peribadatan terutama musik Gereja. Tapi, lebih rasional nya masyarakat Eropa saat itu setelah menjamurnya intelektualitas, mengakibatkan musik peribadatan mulai ditinggalkan. Hasilnya karya-karya Bach, Mozart, dan Beethoven jauh lebih digemari dan menjadi percontahan refrensi musik hingga sekarang.

3) Era Musik Zaman Modern (Akhir Abad 18 -  Awal Abad 20)
                                     

                           Pada masa ini, kekayaan musik dunia bertambah dengan kelahiran dua genre yang akan menginspirasi genre-genre music selanjutnya, Blues dan Jazz. Tidak seperti era sebelumnya, dimana musik selalu lahir di Eropa? kali ini dua genre tersebut lahir dalam suasana perbudakan (era Civil War) Amerika Serikat. Para budak-budak Afrika-Amerika yang saat itu memang mengalami tekanan dan penderitaan. Salah itu musik yang lahir pada era itu adalah Blues (diperkirakan sekitar tahun 1890/1895). Kebanyakan para pencipta musik ini memang berasal dari masyarakat kulit hitam Amerika, salah satunya adalah WC Handy (bapak Blues). Alhasil banyak lirik-lirik nya yang memang meinterpertasikan penderitaan dan harapan masyarakat kulit hitam Amerika saat itu
                             Musik Blues sendiri lahir dari asal nama Blue Devil, atau melankoli dan penuh kesedihan, tapi baru resmi dipakai pada era 1910-an. Berawal dari pertunjukan-pertunjukan formal lalu ke bar-bar, musik Blues pun mulai digemari masyarakat Amerika. Namun, masih adanya diskriminasi rasial saat itu, banyak musisi Blues yang tidak bisa mendokumentasikan hasil karyanya. Tapi, pada era-era berikutnya musik Blues ini pun menjadi pengaruh bagi lahirnya genre-genre musik lainya, apalagi setelah dibawa ke UK (United Kingdom) yang melahirkan Blues British, Rock & Roll, dll. Namun, banyak musisi Blues kulit putih yang tidak mampu menjiwai "Soul Blues" karena tidak pernah mengalami penderitaan seperti masyarakat kulit hitam.
                          Sama halnya dengan Blues, pada era itu pun lahir genre lain yang sekarang bahkan jauh lebih populer, Jazz. Jazz yang disebut sebagai musik paling "Demokratis", memang terus berimprovisasi pada setiap era nya. Pada saat itu, Jazz lahir dari benturan/konfortasi antara musik Afrika dan Amerika (Eropa) yang akhirnya melahirkan jenis musik baru. Hal inilah yang membuat Jazz selalu berimproviasi pada masanya, seperti munculnya Jazz Swing (1940-an) atau Jazz Blues. Dalam hal ini, musik Jazz memang membutuhkan improvisasi, hal yang terpenting adalah Jazz selalu mengikuti budaya atau keadaan masyarakat. Membuat pembendaraan Genre ini menjadi lebih kaya.                
                               Hasilnya dari dua genre musik ini (Terutama Blues), selalu menjadi refrensi gaya musik ke depanya.  Setelah nanti akan lahir, musik Rock & Roll, Britsh, Punk, R & B, Folk Song, Regge dll, Tapi, pada dasarnya saat itu musik/ lirik lagu menjadi sangat mainstreem dengan 4 lirik yang selalu diulang-ulang. Kemudian selalu menampilkan lirik-lirik yang diisi oleh kata-kata penderitaan dan harapan. Hal yang memang mendasari karena lahir dari penderitan masyarakat kulit hitam saat itu. Walau, pada era Perang Dunia (1 dan 2) perkembangan musik mengalami penurunan, namun dampak setelah itu malah menambah pembendarahaan lirik-lirik musik dengan isu perdamaian/ Anti-perang. Hal yang nanti dilakukan oleh Jhon Lenon (dengan gaya Rock & Roll nya). Akhirnya, pada nantinya interpetasi musik menambah cabangnya menjadi alat revolusi.


Bersambung (Bagian 2)

                                       
                    


READ MORE

Resensi Novel : Arus Balik (Pramoedya Ananta Toer)

Posted by Rizky kusumo On Selasa, 11 Februari 2014 3 komentar
       
 
Thread kali ini akan membahas salah satu novel legendaris Indonesia, kenapa legendaris? karena karya ini di buat oleh salah satu novelis terbesar di negara ini, Pramoedya Ananta Toer. Apakah teman-teman mengenal sosok ini? Beliau adalah sosok Masterpiece dalam bidang seni dan budaya terutama novel. berapa hasil karyanya seperti Tetralogi Bumi Manusia, Arus Balik, Gadis Pantai, dll. Keterlibatan Pram di organisasi Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat) membuat dirinya pernah di penjara di Pulau Buru, bahkan beberapa bukunya pernah dibakar.uu
                     Kali ini Gua sendiri akan meresensi bukunya yang berjudul Arus Balik, yang sebernanya merupakan Tetralogi 4 novel lainya (Arok Dedes, Arus Balik, Mangir, dan satu naskah yang masih hilang). Novel ini mengisahkan sebuah arus yang berbalik, setelah keruntuhan kerajaan Majapahit (1478 M) membuat Nusantara yang dahulunya merupakan mercusuar dari Selatan dan membawa arus ke arah Utara, akhirnya harus menerima kenyataaan bahwa arus telah berbalik. Hingga pada akhirnya Indonesia dan sekitarnya (Nusantara saat itu) harus menerima kenyataan sekian abad lamanya terjajah. Kemahiran Pram, mengisahkan suasana yang terjadi saat itu dengan gaya cerita, membuat kita akan sangat mudah mengetahui kebudayaan, pola pikir, perjuangan masyarakat Nusantara saat itu. Karena itulah, Gua akan membahas sekilas Novel tersebut dalam resensi kali ini, Oke selamat membaca....

Arus Balik




                    Nusantara menjadi saksi bisu, kehebatan kerajaan besar penguasa arus selatan hingga mampu menerjang penguasa kerajaan utara. Majapahit, menjadi kekuatan maritim terbesar pada abad nya (1350 - 1389 M), mengusai hampir seluruh bagian dari negara Indonesia saat ini, hingga Singapura (Tumasik), Malaysia (Malaya), dan beberapa negera ASEAN lainya. Tapi, itu hanya kisah dongeng masa lalu bagi masyarakat desa saat itu. Kerajaan Majapahit sudahlah hancur dalam perang saudara tak berkesudahan, wafatnya sang Mahapatih Gajah Mada menjadi titik awal, kemudian berturut-turut peristiwa menggrogoti kerajaan ini, dan akhirnya lenyap setelah kedatangan agama Islam.
                     Setelah itu Arus pun berbalik, kerajaan-kerajaan yang dahulunya berada dalam kekuasaan Majapahit akhirnya melepaskan diri. Para keturunan bangsawan Majapahit pun lebih memilih berkonsentrasi kepada kekusaaan yang tersisa, termasuk Raja Tuban Wilwatika. Tidak seperti nenek moyangnya, Wilwatika tidaklah berhasrat untuk menguasai atau memperluas kekuasaanya,"Perdamaian jauh lebih berarti buat rakyat, ucapnya. Tapi, hidupnya akan berubah drastis bukan saja bergeraknya arus dari eksternal (kedatangan Portugis) dan internal (munculnya Demak), namun yang lebih penting munculnya sosok Galeng pemuda desa yang muncul dalam hingar bingar arus tersebut.
              Galeng adalah pemuda desa yang memiliki ketangkasan, kecerdasaan, dan keberanian dibandingkan pemuda lain. Kemampuan nya itu pun di tambah selama masih tinggal di desa, dia sering mendengar "ocehan" dari Rama Cluring yang katanya pernah merasakan kehebatan Majapahit. Kemampuan fisik disertai luasnya wawasan, menjadi modal penting Galeng untuk masuk sebagai pemeran dalam arus balik Nusantara saat itu. Hasilnya babak itu di mulai saat Galeng menghadiri kejuaraan di Tuban bersama kekasihnya Idayu. 
                          Kemenengan Galeng sebagai juara dalam kejuaran itu menjadi titik awal pergulatan pemuda desa itu. Munculnya konflik seperti pengkhianatan, kehidupan feodal, munculnya para "penjilat", menambah konflik dalam kerajaan Tuban. Kedatangan Portugis menguasai Kerajaan Malaka menjadi babak awal Galeng sebagai duta Tuban dalam peperangan merebut Malaka, yang di pimpin oleh Adipati Unus (Laksamana Demak), walau akhirnya pasukan Nusantara kalah karena belum bersatunya pasukan kerajaan tersebut.
                      Selain kisah peperangan, dalam novel ini Pram pun mengisahkan bagaimana akulturasi budaya masyarakat Jawa yang dahulunya Hindu-Buddha menjadi Islam. Walau peran Wali Songo tidak terlalu ditonjolkan tapi sosok Muhammad Firman (Pada) menjadi rujukan bagaimana Islam mulai masuk ke masyarakat Jawa. Muncullah drama di sini, bagaimana Firman berperang melawan budaya Hindu -Buddha yang masih kental saat itu. Akhirnya sangat sedikit dari masyrakat jawa pedalaman yang me ameluk agama Islam.
                      Sosok Firman ini menjadi sosok penting karena merupakan Musafir yang langsung diutus oleh Sunan Bonan untuk menyebarkan agama Islam. Namun, setelah wafatnya Adipati Unus dan digantikan Raden Trenggono mengubah arus politik Demak. Arus yang tadinya mengarah ke peperangan terhadap Portugis (Peranggi) berubah setahap demi setahap ke arah perluasan wilayah oleh Raden Trenggono. Hal yang menggugurkan cita-cita Adipati Unus.
                        Pram pun menyungguhkan, bagaimana bangsa-bangsa Nusantara saat itu bisa berkerja sama dengan pasukan Portugal (Peranggi). Mulai dari Kerajaan Blambangan dan para pasukan pemberontak Ki Aji Benggala, membuat kita mengetahui cara para penjajah setahap demi setahap mendapat peluang untuk menaklukan Nusantara. Tapi disini, kemampuan Galeng sebagai tokoh Protagonis akhirnya muncul dan daya karismanya mengalahkan aura Raja Walwatika.
                         Akhirnya peperangan demi peperangan pun bermunculan di tanah Jawa, pulau yang tenang itu berubah menjadi daerah peperangan. Galeng, nantinya menjadi Wiragaleng akhirnya menjadi tokoh yang ditunggu untuk mengusir penjajah, menghentikan peperangan saudara, mempersatukan Nusantara layaknya Gajah Mada. Tapi, seperti kata Pram bahwa Arus saat itu sudah berbalik, apakah Galeng mampu membalikan arus itu seperti dahulu kala? Atau tentu Arus -nya tetap Balik?

                          Novel Arus Balik ini katanya merupakan karya terbaik dari Pramoedya Ananta Toer selain novel-novel ciptaanya. Tapi, kehebatan Pram menyajikan realisme sosial dalam kisah novel tentulah menjadi kekuatanya. Hal inilah yang membuat Pram bahkan bisa dibandingkan (Bahkan lebih) dengan J.K.Rowling (pencipta Harry Potter), Dan Brown (Da Vnci Code, dll). Tapi, diskriminasi terhadap Pram membuat karya-karya nya tidak pernah muncul. Padahal, sajian Novel Pram merupakan "Real" yang terjadi pada masyarakat. Mungkin Pram benar, sekarang Arus telah berbalik....
                       

            

READ MORE

Sejarah Tidak (Selalu) Membutuhkan Gelar

Posted by Rizky kusumo On Senin, 10 Februari 2014 0 komentar
             
            
                Jam 06.00 WIB tertanggal 1 Maret 1949, terjadi sebuah peristiwa yang menjadi epik sejarah bangsa ini dan termasuk sub bab “Merdeka 100%”. Yogyakarta, menjadi saksi sejarah serangan umum 1 maret yang digagas oleh salah satu putra bangsa, Soedirman. Semua tentunya kenal Soedirman, Bapak tentara Republik Indonesia, salah satu Jenderal yang memiliki 5 bintang TNI, tentulah gelar pahlawan bangsa atas jasa-jasa beliau dengan aksi-aksi heroiknya. Tapi, siapakah Soedirman 5-10 tahun sebelum peristiwa itu?
          Konon, ada yang bilang bahwa Jendral A.H.Nasution sebagai perwira terlatih meremehkan kemampuan strategi Soedirman. Hal ini pantas muncul, karena selama hidupnya Soedirman lebih banyak berkutat pada bidang mengajar bahkan puncaknya beliau menjabat sebagai Kepala Sekolah. Beliau pun baru masuk PETA (Pasukan Pembela Tanah Air) sekitar tahun 1944. Tentulah menjadi menarik, begitu cepatnya Soedirman mendapatkan tapuk tertinggi TNI (2 tahun). Karena, pada 1945 Sudirman akhirnya terpilih menjadi pemimpin TKR (cikal bakal TNI).
            Soedirman bukanlah nama dengan gelar, beliau hanya lahir dari keluarga sederhana di daerah Purbalingga, Jawa Tengah. Nama “Raden-nya” ditutupi karena memang berasal dari pamanya yang bertindak sebagai ayah angkatnya. Hidup sebagai anak desa yang sederhana lah yang membuat Soedirman menjadi pemuda bangsa yang tangguh. Kecakapnya dalam bekerja walau upahnya kecil lah yang membuat beliau dicintai oleh rakyatnya, Membangkitkan kisah-kisah legenda tentang pemuda desa yang menggucang nusantara.
            Kisa-kisah atau babad jawa pun penah mengisahkan kejadian yang latar belakangnya hampir sama. Pramoedya Ananta Toer dalam novelnya berjudul Arus Balik, dengan bangga mengisahkan perjuangan Galeng yang berasal dari desa tapi mampu menjadi Mahapatih kerajaan Tuban. Dalam novel itu Galeng yang kelak bernama Wiragaleng, memiliki kecakapan, keuletan dan keberanian beriringan dengan kesederhanaan hidup dibandingkan pemuda pada zamanya.
            Menggunakan latar belakang runtuhnya kerajaan Majapahit, mulai berkembangnya kerajaan Islam, dan datangnya Portugis ke Nusantara. Membuat kehidupan Galeng tak ubahnya kehidupan Soedirman yang berada dalam proses Penjajahan,  Kemerdekaan, dan Invansi Sekutu. Kemampuan Galeng membuat dirinya setahap demi setahap masuk dalam jajaran elit ketentaraan kerajaan Tuban.
            Walau sejarah Galeng ini belum tentu asli, karena dibangun secara novel oleh Pramoedya. Tetapi karakter nya sebagai anak desa yang mampu mendapatkan kepercayaan dalam posisi penting, bahkan berhasil mengusir Portugis tentulah menjadi pelajaran sejarah yang amat sangat penting. Layaknya Soedirman dan Galeng pemuda desa tanpa gelar mampu mencetak sejarah bangsanya.
            Dalam kisah-kisah Raja-Raja Jawa, pernah mengisahkan salah satu tokoh penting permersatu Nusantara bernama Gajah Mada. Tokoh yang selalu dipakai sebagai simbol kebesaran, pemersatu, kehebatan Nusantara. Latar belakangnya sebagai anak desa pun selalu menjadi kisah kontroversial beriringan dengan asal-usulnya yang masih misteri hingga saat ini. Tapi kisahnya sebagai patih yang mengesankan dengan ketegasan dan kecakapan membuat dirinya mampu masuk ke strata bangsawan saat itu.
            Gajah Mada merupakan simbol dari pahlawan tanpa gelar pada awalnya, atau From Zero To Hero ala Indonesia. Sayang, kisahnya jarang diceritakan kepada para pewaris bangsa yang kadang jauh lebih gandrung kepada pahlawan dengan title atau pahlawan luar negeri. Tapi, peristiwa sejarah yang selalu berulang-ulang ini walau dengan latar belakang yang berdeda, haruslah kita resapi.
Gajah Mada pernah mengucapkan sumpah, bahwa bila telah mengalahkan (menguasai) Nusantara, saya (baru akan) melepaskan puasa, bila telah mengalahkan Gurun, Seram, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, demikianlah saya (baru akan) melepaskan puasaApakah para pemimpin dan tokoh bangsa yang kebanyakan “gelar” mau melakukan hal itu? Atau setidaknya membaca perjuangan para pemuda desa sebagai bahan pelajaran?
Sejarah memang membutuhkan tokoh, latar belakang, waktu/setting lokasi layaknya pertunjukan teater. Tapi sejarah bukanlah pesanan dari penguasa tapi arus masyarakatlah yang membentuk atau menarik dirinya sendiri. Itulah yang membuat para Zero berubah menjadi Hero pada akhirnya. Karena itulah kepada para tokoh atau “calon” tokoh masa depan kenapa kalian memusingkan gelar? Sejarah tidak (selalu) membutuhkan gelar.

Tulisan ini untuk Sejarahri.com

READ MORE

Arti Lagu Coldplay - The Scientist

Posted by Rizky kusumo On Minggu, 09 Februari 2014 7 komentar
                 


               Beberapa hari ini  Gua mendapat permintaan untuk meresensi lagu-lagu dari Coldplay, Permintaan yang sudah sangat lama itu belum bisa Gua realisasikan karena masih padet nya jadwal (Belagu dikit hahah), Tapi mengingat sekarang sedang moment libur semester, akhirnya adalah waktu untuk sekedar meresensi  memenuhi permintaan beberapa teman. Akhirnya sesuai permintaan, Gua akan meresensi lagu Coldplay berjudul The Scientist (ProkProk)

               Lagu The Scientist merupakan single kedua dari Album A Rush Of  Blood To The Head (2002), Dengan alunan piano yang di mainkan oleh Chris Martin (Vokalis) membuat lagu ini pernah masuk 10 lagu terbaik di UK Chart dan 18 lagu terbaik di US Billboard Modern Rock Track saat di rilis. Dan menjadi lagu yang sangat populer di Album tersebut. Tentu yang menjadi daya pikatnya adalah lirik dalam lagu tersebut, yang memang menjadi kekuatan band ini.
                   
         Yap,... Daripada kelamaan denger Mukodimah dari Rizky Kusumo ini ntar malah ke buru basi (Heheh), Lebih baik kita memulai Thread yang menjawab arti lagu ini, Tentunya teman-teman udah tidak sabar menunggu resensi lagu ini (Huhuh),, Namun, tentulah ini hanya definisi dari pikiran Gua semata, Untuk lebih tau lebih baik bertanya ke Coldplay aja (Hehe)...

Coldplay - The Scientist 


                    Lagu ini menceritakan tentang seseorang yang ingin bertemu kemudian mengungkapan sesuatu, "Come up to meet you, Tell i'm sorry, You don't know how lovely you are" (Datang Temuimu, Katakan Sesalku, Kau tak tau betapa cantiknya dirimu),, Hal inilah yang selalu mengganjal dalam pikiranya, dia selalu berharap bisa menemuinya dan mengatakan hal-hal yang sangat ingin diungkapkan,"I had to find you, Tell you i need you, Tell i set you apart" (Harus kutemukan dirimu, Katakan padamu aku membutuhkanmu, Katakan padamu aku memilihmu)
                       
                   Kemudian dia pun ingin mengetahui apa yang disembunyikan dari dirinya, perasaan yang tidak pernah diungkapkan, pertanyaan yang selalu disimpan, dia menunggu untuk diberitahukan kepadanya supaya semua kembali lagi seperti di awal, "Tell me your secret, And ask me your question, Oh let's go back to the start" (Katakanlah rahasiamu, Dan ajukan pertanyaanmu, Oh ayo mulai dari awal lagi)

                    Karena hal ini seperti berputar-putar saja, tidak pernah menemui jalan keluar, Apalagi masa lalu yang selalu menghantui dan perasaan yang selalu menguasai, melemahkan logika, "Running in circles, Coming up tails, Head on since apart" (Berlari dalam lingkaran, Mengejar ekor, Kepala terpisah dalam ilmu pengetahuan) 
                     
                   Bagi dia semua ini tidaklah mudah, karena semua orang pun bilang seperti itu, hal yang membuat dirinya akan malu kalau memutuskan berpisah,"Nobody said it was easy, It's such a shame for us to a part" (Tidak ada yang bilang ini mudah, Sungguh memalukan jika kita berpisah),, Karena memang tidak ada yang bilang ini mudah, Namun betapa terkejutnya dia, kalau hal ini jauh lebih sulit daripada yang dipikirkanya, Hal itulah yang membuat dirinya ingin kembali ke awal lagi, "Nobody said it was easy, No ever said it would be this hard, Ohh take me back to the start" (Tak ada yang bilang ini mudah, (Tapi) Tak ada yang bilang ini akan sesulit ini, Ohh bawa aku ke awal lagi)

                Hal ini membuat dirinya hanya bisa menerka-nerka apa yang sedang dipikirkannya, Sebuah hal yang menjadi teka-teki yang harus dipecahkanya, "I was just guessing, At number and figures, Pulling the puzzle apart (Aku hanya menerka-nerka, Jumlah dan angka, Memecahkan belah teka-teki)
                    
          Karena pertanyaan Ilmu pengetahuan dan segala aspek kehebatanya tidaklah mengalahkan pertanyaan dari dalam dirinya sendiri,"Question of scientist, Science and progress, Do not speak as loud as my heart" (Pertanyaan ilmu pengetahuan, Ilmu pengetahuan dan kemajuan, Tidaklah sekeras suara hatiku)

                Kemudian dia pun ingin mendengar bahwa dirinya memang dicintai, Ingin kembali di hantui lagi dengan perasaan itu, Karena itu dia berharap akan kembali dan memulai dari awal lagi,"Tell you love me, Come back and haunt me, Oh, and I rush to the start (Katakan kau mencintaiku, Kembalilah dan hantui saya, dan aku akan bergegas kembali ke awal lagi)

               Beberapa teman-teman pastinya pernah mengalami hal seperti ini (Sedang mengalami heheh), tentulah hal ini akan membuat teman-teman memiliki persepsi dan pengalaman masing-masing terhadap lagu tersebut

                 Namun, seperti yang diungkapkan oleh lagu tersebut adalah hidup memang tidak mudah tapi dengan adanya tujuan dan cita-cita tinggi, hal itu tidak akan menjadi sulit lagi. Apalagi jikalau ada orang yang mencintai dirimu dan menjadi pendukung dalam hal apapun, Itu sih menurut persepi Gua semata yang kadang sotoy ini haha, Menurut temen-temen?

NB : Kalau temen-temen ingin nonton atau denger lagu The Scientist, bisa kok di akses aja di Bang Youtube ,, Gua kasih link nya dah...


Ok, Thanks atas kunjunganya, Jangan lupa Follow Blog ini dan Follow Twitter gua (Rizky_Kusumo7) hehheh
Ditunggu kritik dan saranya :D
READ MORE