Korupsi Bukan Budaya Kami

Posted by Rizky kusumo On Sabtu, 07 Juli 2012 0 komentar

       

                                 
                            ''Jangan hancurkan Bangsa ini dari Korupsi Budaya''


korupsi sepertinya sudah menjalar dan semakin subur di negara ini. apalagi kasus korupsi tersebut sangat sulit dibrantas oleh para penegak hukum dan bisa dibilang hanya diabaikan tanpa adanya tindakan. banyak yang bilang, korupsi merupakan budaya masyarakat indonesia karena begitu mengakarnya praktek kotor tersebut. tetapi, budaya yang merupakan hal yang dibentuk oleh masyarakat dan memiliki keindahan, karakteristik , dan menjadi ikon bagi eksistensi bangsa tersebut tidak bisa disamakan dengan praktek korupsi. 
      Korupsi yang secara harfiah merupakan, kebusukan,  menggoyahkan, memutarbalik, dan menyogok tidaklah bisa disamakan dengan pengertian budaya yang berwajah keindahaan. Hal lain yang membedakan korupsi dengan budaya adalah korupsi tidaklah mengakar hingga ke masyarakat kecil seperti para petani kecil, warga-warga di pegunungan terpencil, ataupun nelayan-nelayan. Korupsi bisa dilihat seperti  penyakit rawan yang menyerang para penguasa. Bagaikan, seorang manusia yang bila kehujanan bisa saja terkena penyakit, katakanlah, penyakit panas, influenza, dll. Jadi, korupsi yang merupakan penyakit, sangat rawan menyerang para penguasa di negara ini maupun di negara-negara lainya. Hal ini, membuat korupsi tidaklah bisa dikatakan karakteristik alamiah bangsa ini.
         Namun, banyak masyarakat yang menyangka budaya korupsi merupakan hasil pendidikan bangsa-bangsa kolonial selama 350 tahun menjajah Indonesia. Terlalu lamanya bangsa kolonial menjajah indonesia disebut-sebut meninggalkan benih-benih korup pada masyarakat indonesia. Sebut saja VOC yang merupakan salah satu perusahaan dagang terbesar di dunia saat itu, tiba-tiba hancur karena korupsi. hal ini ditambah kehancuran kerajaan-kerajaan besar di Indonesia  katakanlah, kerajaan Majapahit, Sriwijaya, dan Mataram. Kerajaan besar itu hancur karena tidak adanya penerus dan perang saudara, ditambah kelakuan para bangsawan tersebut yang ingin memperkaya diri. Tetapi, kelakuan para bangsawan kerajaan di Indonesia sebenarnya hampir sama dengan kelakuan para bangsawan di luar negeri saat itu. 

       Pada zaman kerajaan Mesir kuno para pendeta memeras rakyatnya dengan dalih untuk memberikan sesaji kepada Dewa. Pada zaman Romawi, perilaku korupsi, hedonis dan pembunuhan politik tampak jadi hal biasa. Bahkan, seseorang dengan mudah membunuh sahabat karibnya sendiri, seperti dilakukan oleh Brutus terhadap Julius Caesar, demi mengejar kekuasaan dan kehidupan yang hedonis. Dan hal yang sama, sebelumnya dilakukan oleh Julius Caesar terhadap Antonius yang merupakan sahabatnya sendiri. Sedangkan pada zaman kerajaan Prancis, Raja dengan seenaknya melakukan jual beli surat pengampunan dosa dan masyarakat yang tidak mampu membayarnya akan dimasukan ke dalam penjara. Hal ini yang membuat korupsi menjadi sangat angkrab dengan para bangsawan di Nusantara maupun luar negeri.
               
        Pada zaman itu, kekuasaan kerajaan yang tidak terkendali layaknya di kerajaan Inggris bersama magna cartanya,  membuat praktek-praktek korupsi oleh para bangsawan tidak bisa dikendalikan oleh hukum. Hal ini tentu sangat berbeda dengan yang terjadi di kerajaan Inggris yang sudah membatasi kekuasaan kerajaan dan membenihkan demokrasi (Magna Carta). Hal ini, baru dimulai dibeberapa negara eropa setelah terjadinya revolusi, katakanlah, revolusi prancis, dan revolusi bolshevik di Rusia. Tetapi, revolusi di Indonesia untuk merubah sistem monarki (Kerajaan) tidak pernah terjadi karena terlanjur dijajah oleh bangsa kolonial. Parahnya, sistem-sistem monarki masih berlaku dan dipelihara oleh para kolonialisme. Hal ini membuat sifat-sifat para penguasa di Indonesia masih tertanam benih-benih kerajaan yang sangat semena-mena terhadap rakyat, hanya mementingkan keluarga (Nepotisme), dan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kekuasaan. Nampaknya, hal ini yang menjangkiti para penguasa di Indonesia karena mereka tidak bisa melepas sifat-sifat kerajaan tempo dulu sehingga korupsi menjadi hal lumrah dilakukan.
                
          Banyak hal yang sudah dilakukan pemerintah untuk menghilangkan praktek korupsi di negara ini. katakanlah, membuat KPK (Komisi Pemberantas Korupsi), pengawasan pajak yang ketat, dan masih banyak lagi. Tetapi, praktek korupsi sepertinya tidaklah bisa dihilangkan, mungkin hingga nabi Isa turun ke bumi. Karena, masih longgarnya sistem yang memungkinkan para penguasa mengambil keuntungan apalagi sifat alamiah manusia yaitu egois, kadang melunturkan nilai-nilai nurani. Hal ini tentu harus diatasi selain memperketat peraturan hukum, dan memperberat hukuman bagi para koruptor. Pemerintah seharusnya melakukan pencegahan agar praktek korupsi tidak semakin mewabah di Indonesia. 

             Selama ini, pemerintah hanya melakukan tindakan setelah para pelaku tersebut tertangkap, katakanlah kasus korupsi Gayus tambunan, yang membuat pemerintah melakukan pengetatan peraturan pajak. Padahal permasalahan di kantor perpajakan sudah menjadi rahasia umum di masyarakat. Sikap pemerintah ini bisa kita analogikan, misalnya seseorang yang terkena penyakit, katakanlah, penyakit maag, atau influenza, padahal datangnya penyakit tersebut bisa dicegah dengan minum obat, misalnya, obat maag, atau obat flu. Banyak tindakan yang bisa dilakukan pemerintah untuk meminimalisir tindakan korupsi, seperti, memperbaiki tata cara pendidikan nasional, mengatur sistem pemerintahan tanpa kolusi ataupun nepotisme, dan melakukan seminar-seminar anti korupsi di sekolah dasar, menengah, ataupun atas, dan masih banyak lagi. Tentunya ini pekerjaan yang tidak mudah, butuh kesabaran, dan juga ketegasan. Tetapi, pemerintah harus melakukannya karena ibarat penyakit, bila tidak dicegah dan diobati akan terus menjalar ke seluruh tubuh bahkan akan menular. Korupsi pun sama, jika tidak dicegah dan dihukum akan terus menjangkiti para penguasa dan memberi dampak menghancurkan sifat alamiah budaya Indonesia yang berwajah keindahaan.

0 komentar:

Posting Komentar