Kehidupanku Dan Jurnalisme : Dibentuk oleh Lembaga Pers Mahasiswa

Posted by Rizky kusumo On Minggu, 08 Juli 2012 2 komentar

         



          Hai kawan, thred kali ini akan menceritakan pengalamanku sebagai Jurnalis kampus dan bagaimana menempatkan posisiku sebagai Mahasiswa dan juga penulis yang sering mengkritik. Tulisan ini terinspirasi dari pelatihan pers mahasiswa yang saya ikuti selama 3 hari (Kamis, Juma't, dan Sabtu). Salah satu yang menarik dalam beberapa hari itu adalah pertemuanku dengan para wartawan yang dahulunya berkecimpung di (Lembaga Pers Mahasiswa) LPM. Menurut mereka "Para wartawan yang berasal dan dibentuk di LPM, pastilah memiliki kualitas dibanding dari jurusan komunikasi". 
      Hal ini dilandasi sifat LPM yang sering "memaksa" para anggotanya untuk membaca buku dan melakukan diskusi. hal ini membuat mereka (wartawan LPM) mempunyai kemampuan dalam hal riset dan analisa. Tetapi yang lebih penting, kemampuan wartawan dari LPM adalah sikap militannya. hal ini diketahui dari  ungkapan bahwa "kebanyakan wartawan sekarang malah masuk angin dan muntah-muntah kalau diberi tugas", ujar pengisi materi dilatihan Pers.
          pendapat ini tentunya beralasan karena sebagai anggota LPM, kami dituntut untuk membagi waktu antara masuk kuliah dan mencari berita. hal ini tentunya dibutuhkan kerja yang keras dan kondisi fisik yang harus selalu fit. Nampaknya, hal inilah yang membuat alumni dari LPM lebih dipandang diberbagai media massa. Namun, para anggota LPM kadang mengalami sebuah dilema karena mereka bukan hanya berperan sebagai wartawan, tetapi juga merupakan seorang MAHASISWA. Sebagai Mahasiswa tentulah dituntut untuk belajar dengan rajin, sering masuk, dan kadang-kadang "ngelobi"  Dosen supaya mendapat nilai A (ya, gitu deh kalo ketemu sama dosen subjektif hehe). 
          terus bagaimana dengan orang-orang kayak saya yang sering ngeritik dosen yang beler? yaa, kawan-kawan bisa menebak sendirilah, bagaimana kehidupan saya ini dihadapkan pada posisi yang terus mengkritik dosen-dosen tersebut, tetapi tetap harus diajari oleh yang bersangkutan. Seringnya terjadi benturan membuat banyak kawan-kawan saya menjadi kendur nyalinya. Kawan saya sendiri pernah bilang "bisa hancur nilai gua lah Ky, kalau sering ngeritik dosen apalagi pelajaran yang penting, hari gini mendingan jadi Mahasiswa yang bener aje", emang Mahasiswa yang bener tuh kayak gimana? Pola pikir seperti ini yang kadang menurunkan sikap kritis mahasiswa, kebanyakan kawan-kawan saya tidak ada bedanya dengan Kerbau yang dicocok hidungnya, disuruh itu mau aja, yaa, asal bapak senang pokoknya. 
       Keadaan seperti inilah yang membuat saya sering menulis dan mengkritik keadaan Kampus (tentulah dengan kawan-kawan saya di LPM), Kegiatan mengkritik lewat menulis memang jauh lebih efektif daripada berkoar-koar di depan dosen yang kadang-kadang Sok imut/pura-pura gak tau. Namun tentulah beresiko, yaa, bisa-bisa nilai hancur, dicenginn sama Dosen di Kelas, atau paling parah di DO (Drop Out). Beberapa hari yang lalu kawan saya mendapat masalah gara-gara tulisannya dinilai menyebarkan fitnah, Orang tuanya hampir saja dipanggil (yee, dosen sekarang emang rada-rada aneh kalau ngancem hehe). Berbagai benturan inilah yang sering dihadapi oleh kawan-kawanku yang intens mengkritik.
        Berbagai penilaian negatif pun sering dilontarkan oleh para dosen dan civitas akademik, berbagai permintaan seperti "jangan nulis yang jelek-jelek aja, mendingan yang bagus kan lebih enak dibaca". Namun hal ini tidaklah bisa diwujudkan "yaa, kalau ada yang bagus pastilah ditulis, tapi kenyaatan adanya beritanya jelek mulu sih", ujar kawanku (hehe betul juga). Tapi yang perlu ditekankan sebagai Pers Mahasiswa adalah mendidik para anggotanya untuk melakukan analisa permasalahan dan mencoba memperbaikinya. yaa, kalau dari analisa tersebut memang ditemukan sebuah permasalahan, apakah kita harus diam saja?
           Pengalaman inilah yang saya dapat setelah berperan dalam kegiatan pers mahasiswa selama satu tahun. Seringnya muncul konflik, bukan hanya antar orang yang baru dikenal tetapi dengan teman akrab. Membuat saya mampu melakukan manajemen konflik, hal inilah yang bermamfaat untuk diri saya pribadi. Manajemen konflik tentulah berperan penting, di mana kita harus memisahkan antara kedekatan personal dan permasalahan yang harus dikritisi. Hal ini sangat penting karena sebagai Jurnalis, kita diharuskan mengungkapkan perbuatan-perbuatan yang tidak sesuai walaupun terhadap teman kita sendiri. 
       hal lain yang didapat seorang wartawan dari LPM adalah mereka bisa langsung melakukan praktek layaknya wartawan Pro. Wartawan LPM biasanya meanalogikan Kampus sebagai miniatur Negara. Hal ini disadari karena masalah di Kampus hampir sama dengan keadaan di Negara ini, misalnya, masalah pemilihan BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) yang didominasi oleh satu golongan. Tentulah hal ini membuat para wartawan LPM tidak akan kaget dengan keadaan yang terjadi di Negara ini.
           Namun yang patut disadari adalah wartawan dari LPM tetaplah seorang mahasiswa yang dihadapi dilema akademika. Hal ini disadari karena saya sendiri tidak mau mendapat nilai jelek hanya sikap subjektif para dosen. Keadaan inilah yang membuat teman-teman termasuk saya sendiri agak ragu-ragu untuk mengeksekusi sebuah masalah. Namun, seperti sebuah takdir yang sudah memilih kami untuk melakukan kritik. Membuat rasa takut dan Parnoisme yang diberikan oleh dosen layaknya angin lalu ataupun ibarat pepatah "Anjing Menggonggong, Kafilah Berlalu". Hal yang selalu menjadi landasan kami setiap dihadapi oleh sebuah dilema. 
           Hal yang  bermamfaat lainnya dalam Jurnalisme LPM adalah kita didik untuk membuka pengetahuan seluas mungkin. Hal ini, membuat kita dituntut untuk bertemu dan berdiskusi dengan banyak orang. Sikap ini membuat kita menjadi militan dan tidak malu bertemu dengan seseorang. Karena seperti yang diungkapkan di awal paragraf, para orang-orang media massa tidak mau mempekerjakan wartawan yang "muntah-muntah" saat mengejar sebuah berita. yaa, sifat militan inilah yang membentuk saya, tentulah berkat masuk menjadi anggota LPM. 

              
              

2 komentar:

fadhline mengatakan...

wah lanjutkan! Jadi anggota LPM itu tantangan yg mengasikan, hal asik yg menantang. Salut sama LPM Kontak yang bisa berdikari :)

Rizky kusumo mengatakan...

thanks bro,, semoga tulisan gua bermamfaat dan sering kunjungin blog ini yaa :)

Poskan Komentar