Negeri Raja-Raja : Palagan (Abadi) Kecoa dan Wanita Tua dengan Gagang Sapu

Posted by Rizky kusumo On Minggu, 14 Mei 2017 0 komentar
      

               

              Wanita tua itu memegang gagang sapunya sementara mangsanya terus berlari mengitari ruangan tersebut. Mangsa yang jelas mempunyai masa dan daya lebih rendah dari sang wanita tersebut terus berjuang agar tidak mati konyol hari ini. Sementara wanita tua dengan gagang sapunya itu terlihat tidak memperdulikan semangat hidup sang mangsa. Dengan kekuatan dan kekuasaan yang dianugerahkan oleh sang pencipta kepadanya. Dirinya menjadi merasa layak untuk menentukan hidup dan mati mangsanya tersebut terutama bila kita tahu siapa mangsanya, karena baginya siapa juga yang peduli terhadap mangsanya itu?

"Tak bisa lari kau jahanam," hardiknya kepada sang mangsa.

            Wanita itu sendiri merupakan penjaga kantin di sebuah kantor lembaga kenegeraan di negeri raja-raja ini. Sementara mangsa yang menjadi sasaran hardiknya tersebut adalah makhluk serangga bernama kecoa. Saya sendiri berada dalam kantin tersebut sejak 5 menit sebelum pertempuran antara wanita tua tersebut dengan si kecoa. Sementara kantin tersebut memang telah ramai seperti biasa dengan muda-mudi, hingga kaum pekerja tentunya tidak ada pengemis ataupun pengamen, Berada di pojok ruangan dengan buku dan satu buah kopi hangat, saya pun mulai memperhatikan pertempuran itu.

             Pertempuran itu sendiri sudah berjalan bertahun-tahun lamanya melewati satu generasi ke generasi lainya. Wanita itu dari yang kudengar merupakan generasi ke-lima dari peletak penjaga kantin di lembaga negara tersebut. Sementara koloni si kecoa jelas lebih tua dari generasi-generasi wanita tua tersebut karena dalam hikayat, serangga termasuk mahluk awal di Bumi. Tapi jelas hikayat bukanlah hukum, tak ada perdulinya. karena semua hal di negeri raja-raja ini bedasarkan akal hingga semuanya harus berlandaskan kesepakatan,

            Pertempuran ini sendiri merupakan salah satu yang abadi karena terlihat mempertemukan antara putih dan hitam. Kalau kita lihat konteksya, kecoa tersebut berada dalam sisi yang hitam, karena kita tahu bedasarkan kesepakatan, kecoa itu kotor dan segala yang kotor berada dalam sisi hitam, berada dalam sisi yang hitam berarti lumrah dibinasakan oleh si putih. Sementara sisi putih itu ada dalam wanita tua dengan gagang sapunya tersebut. Karena siapa yang tidak suka dengan kebersihan? Kebersihan kan sebagian dari iman? Jadi berlandaskan kesepakatan tidak ada perlindungan bagi kecoa tersebut.

"Hihh sayanggggggggg, kecoa," teriak salah satu pengunjung kantin yang kulihat adalah wanita muda.

Sementara kekasihnya memegang tangan sang wanita dan mencoba menenangkan, "tenang-tenang, itu bude lagi mau ngusir," ucapnya berharap bude atau si wanita penjaga kantin tersebut mampu mengusir serangga tersebut. Dan tidak menggangu jalanya waktu makan siang mereka.

"Tidak Mas, saya tidak akan mengusirnya kali ini, akan saya bunuh dia, ingatkan itu nanti," tegas wanita tua itu sembari mencari keberadaan serangga tersebut.

             Saya sendiri hanya pernah melihat lima kali pertempuran antara wanita tua dengan para serangga yang bernama kecoa tersebut. Tapi sepanjang hidupnya jelas sudah puluhan kecoa harus bertarung untuk tidak mati konyol. Selama lima kali pertempuran yang ku tahu pun, tiga pertempuran membuat para kecoa harus merenggang nyawa, sementara hanya dua kali serangga tersebut barhasil lari, mungkin termasuk yang sekarang, Tapi karena dunia terlalu kecil, persilangan antara waktu dengan ruang membuat kecoa tersebut kembali menemukan takdirnya, bertemu dengan orang yang akan mencoba membunuhnya. Tapi ada takdir lain yang si kecoa sadari di depanya, bisa lari dengan bangga atau akhirnya mati konyol dengan gagang sapu.

            Tapi benarkah wanita tua tersebut benar-benar membenci serangga tersebut hingga mati-mati an akan membunuhnya? Apakah dirinya memilih takdir untuk menjadi pembunuh para kecoa selama ini? Ataukah dirinya merupakan salah satu korban sama seperti kecoa yang tidak bisa memilih kebebasanya atau menentukan keadilanya sendiri. Karena selama yang ku tahu hampir mayoritas pengunjung kantin tersebut tidak suka dengan kekotoran terlebih lagi itu kecoa. Tapi tidak semua orang pada ruang itu mau berkotor-kotor mengusir atau membunuh serangga tersebut. Hingga wanita tua itu pun harus mengangkat gagang sapunya lagi bertarung dengan kecoa.

            Karena sekali lagi yang ku tahu, keberlanjutan sebuah tempat makan salah satunya adalah tentang kebersihanya, selama ada hal yang berbau kotor pastilah akan mengurangi kedatangan pengunjung. Berkurangnya pengunjung tentulah berhubungan langsung dengan masalah ekonomi sang wanita tua. Saat ekonomi terus berkurang pada saat itu kehidupan sang wanita tua dengan keluarganya akan terancam. Hingga pada dasarnya sang wanita pun hanya punya pilihan membunuh si kecoa atau mati oleh kejamnya hidup. Lalu hingga sekarang pun saya mengira bahwa sutradara pertempuran itu bukanlah wanita tua dengan objeknya si kecoa. Namun, kesepakatan mayoritas orang yang berada dalam ruangan tersebutlah yang sebenarnya pelaku-pelaku dalam pertempuran tersebut.

           "Budeeee, itu kecoanya," teriak salah seorang konsumen tempat makan tersebut.

           Sayup-sayup teriakan beberapa pengunjung membantu wanita tua tersebut mencari serangga jahanam tersebut. Beberapa dari mereka pun mengangkat bangku untuk memudahkan aksi si wanita tua menyerang kecoa tersebut. Suasana jelas begitu ramai siang hari tersebut dengan dukungan kepada wanita tua untuk memenangkan pertempuran tersebut. Semuanya jelas mendukung wanita tua tersebut hingga membuatnya terus bersemangat. Tentu tidak perlu diperdebatkan, walau negeri raja-raja hidup dengan prinsip demokrasi, jelas hak membela terhadap kecoa tidak pernah ada. Kecoa adalah mahluk yang tidak bisa membela diri, tidak punya hak bicara (jelas memang tidak bisa) atau diperjuangkan haknya. Tidak hingga sekarang saat negeri raja-raja memilih jalan demokrasi sebagai tujuanya.

            Negeri para raja-raja memang memilih jalan demokrasi setelah kungkungan panjang era awan-awan ketakutan. Sekarang semua orang berhak berbicara bahkan yang mati pun layak untuk "diperbicarakan" oleh para penikmat hidup. Semuanya memang punya hak bicara tapi tidak berarti semua terjamin memiliki hak untuk diperdengarkan, Termasuk bagi  kecoa-kecoa itu, mereka tidak bisa bahkan tidak layak didengarkan suaranya. Manusia memang terkadang berkhayal bahwa akhir perjuangan demokrasi ialah membuat sesuatu bisa bebas berbicara. Padahal seharusnya mereka pun harus melucuti kekuatan dari para orang-orang kuat, mereka yang memiliki massa terutama modal. Kemudian memberikan hal tersebut kepada mereka-mereka yang lemah untuk bisa merasakan demokrasi hakiki.

           Tapi siapa yang mau melucuti konsumen dalam kantin tersebut? Kemudian memberikan hal tersebut kepada para kecoa-kecoa itu? Jangankan sejak era awan-awan ketakutan, pada awal-awal negeri raja-raja membuka hutan pun para kecoa jelas tidak punya hak untuk diperdengarkan. Terkadang saya pun berharap para aktivis-aktivis lingkungan itu mau berjuang untuk meningkatkan harkat martabat para kecoa. Setidaknya toh mampu meningkatkanya menjadi salah satu hewan yang layak untuk masuk jajaran sistem produktifitas manusia. Setidaknya membuat mereka mampu mati secara terhormat daripada harus mati dengan gagang sapu setiap kali.

         Tapi saya pun paham bahwa para aktivis jelas pasti berjuang untuk para mereka-mereka yang lemah itu. Masalahnya yang lemah-lemah itu jelas semakin banyak bahkan berlipat ganda dalam skema globalisasi sekarang. Bisa jadi memang para kecoa itu tidak termasuk dalam skema perjuangan golongan yang lemah-lemah itu. Karena itu para kecoa tersebut harus bertarung habis-habis an untuk meperjuangkan hidupnya kelak. Saat para konsumen itu menjadi kaum moralis untuk menekan sang penjaga kantin menyerang kecoa itu. Sang serangga pun mengangkat pundaknya melawan hingga nafas penghabisan.

"Gubraaakkkkkk," terdengar jelas sang penjaga kantin tersebut terjatuh karena terpeleset, rasa sakit dan malu menggelapkan mata sang penjaga kantin,"tutup semua pintu, ambil semprotan serangga," tegasnya dengan lantang.

         Lalu berduyun-duyun anak-anak dari penjaga kantin tersebut keluar dari dapur dan meja resepsionis untuk membantu menghadapi si kecoa. Bala bantuan jelas menjadi salah satu resep ampuh bagi mereka untuk segera menyelesaikan pertarungan. Tidak hanya memberikan motivasi bagi sang penjaga kantin tapi jelas ampuh menghancurkan mental si kecoa tersebut. Karena bagi si kuat langkah awal untuk menghacurkan si lemah adalah menumpulkan sendi-sendi perjuanganya, pertama tentunya bungkam semua saluran mereka untuk bicara, setelah itu perjuangan akan terasa semakin berat, tapi saat perjuangan terus semakin menyebar berbelit menjadi militan, hancurkan harapanya.

"Ventilasi itu mungkin harapanku," mungkin itu yang diucapkan oleh si kecoa saat mulai mengepakan sayapnya dan terbang, tapi penjaga kantin jelas tidak rela mangsanya itu yang sudah jelas-jelas menghinanya lepas dari genggaman.

"Srootttttttttttt....Srottttttttttttt," bunyi semprotan serangga mulai menyerang si kecoa tersebut sebelum menjauh dari jangkauan. Para anak-anak dari si penjaga kantin pun mulai menjaga ventilasi dengan persenjataan lengkap.

        Kecoa itu pun mulai sempoyongan kehabisan tenaga, udara semakin menipis karena tercemar dengan semprotan serangga, ventliasi yang menjadi harapanya pun semakin menjauh. Nyatanya terbang tersebut menjadi salah satu perjuangan terakhirnya. Harapanya mungkin hanya orang-orang yang berada di kantin tersebut. Tapi jelas tidak ada dari mereka yang ingin menjadi pahlawan kesiangan, tentunya setelah masa para pahlawan-pahlawan. Mereka memilih untuk diam agar tidak terlihat lebih kejam, atau mungkin hanya tidak mau repot berdebat, selebihnya mungkin melihat kematian kecoa tersebut akan melepas beban mereka dari umpatan para pembenci kekotoran tersebut, hingga meraka tidak merasa bergabung dengan para pengumapat, karena sekali lagi memang tidak ada yang bisa netral dalam hidup itu sendiri.

        Saya pun berada dalam posisi itu, setelah perjuangan yang heroik dari si serangga tersebut tampaknya ku pun ingin bergelut dalam pertempuran itu. Ingin ku melemparkan buku ku dan menyingkirkan secangkir kopi yang telah habis itu, lalu menggemgam gagang sapu supaya tidak menghantam tubuh lemah si serangga itu. Ingin ku tarik lengan wanita itu, kulucuti kekuatanya dan kepongahan para konsumen yang berkeinginan menghancurkan si lemah itu. Tapi tak dianya awan-awan kekhawatiran malah lebih kuat menariku untuk tetap duduk manis termangu memangku buku serta cangkir kopi.

       Bergulatan itu memang tidak adil, kita tahu itu, tapi masuk ke dalam pergualatan itu tentu menjadi hal yang tidak bijak bagiku. Hal pertama tentunya saat ku ingin mencegah si penjaga kantin untuk memukul si serangga, pastilah tidak hanya butuh teguran halus. Serangan fisik harus dikerahkan, dorong mendorong tentu tidak terhindarkan. Lalu saat kekuatan ku sebagai lelaki lebih kuat untuk melawan si penjaga kantin yang perempuan, tentulah bisa saja ku berurusan dengan Komnas Perempuan. Atau kalaupun kuberhasil menyelamatkan si serangga itu, tak terhitung beberapa label yang akan melekat, mulai dari kecoakers, teman kecoa, Front Pembela Kecoa, Anti-Kebersihan, dan segala berondongan gerombolan-gerombolan istilah-istilah lainya.

       Saat pikiranku masih berada dalam awang-awang, si penjaga kantin itu pun akhirnya melancarkan pukulan pamungkasnya. Pukulan itu pun mengakhiri perjuangan dari si serangga itu untuk tidak mati komyol hari itu. Memberikan nafas lega bagi para muda-mudi dan konsumen lain untuk kembali menikmati santapan romantis. Menyesakan nafas bagi para orang-orang yang menolak kejadian tersebut bahwa perjuangan terkadang tidak semua terbayar lunas di dunia. Tapi semua pun menyadari satu hal dari pukulan si penjaga kantin tersebut. Saat pukulan menghantam tubuh si kecoa, semua darah dan kotoran si serangga pun berhamburan keluar, mengotori baik lantai ataupun baju si penjaga kantin. Selebihnya mungkin kita bisa paham bahwa "kebersihan" yang disepakati oleh manusia itu tetaplah ilusi.

"Yang nyata hanyalah parade kekuatan," ucapku dalam hati sebelum keluar dari kantin tersebut.

      
         





           

0 komentar:

Posting Komentar