Resensi Film Searching For Sugar Man : Mencari Sang Maestro Di Pinggiran Kota Detroit

Posted by Rizky kusumo On Rabu, 02 Maret 2016 0 komentar

                                
      Di negara kelahiranya namanya sirna tanpa satupun jejak, Tidak ada yang mengenalnya kecuali kisah-kisah urban. Tapi beratus-ratus mill dari kota kelahiranya. Namanya menjadi Mitos, Karya-karyanya menjadikanya legenda, Sebuah simbol perjuangan. Sebuah pencarian atas nama bakat, atas nama kenyataan dan atas nama kebenaran?

       http://rizky-kusumo.blogspot.co.id/   Suara petikan gitar membelah sisi malam itu di pemukiman pinggiran Detroit, Amerika Serikat. Daerah yang termasuk pemukiman miskin di negeri Paman Sam ini menyimpan satu bakat, Sugar Man. Sosoknya tidak segemilang Bob Dylan, dia misterius walau bakatnya tetap terekam di masyarakat. Namanya bahkan tidak masuk dalam jajaran musisi-musisi dunia. Kisahnya hanya terekam di masyarakat pinggiran sebagai sebuah cerita urban yang bahkan ditambah dengan bumbu.

                   Karirnya timbul tenggelam layaknya bakat lain di tarung jagat musik. Bakatnya tidak diterima di negara kelahirannya, Amerika Serikat Menolaknya. Isu pun beredar tentangnya, bunuh diri di sebuah konser. Beberapa konser yang gagal menjadi kronologi kematian "musisi jalanan" tersebut. Walau bakatnya dianggap lebih cemerlang dari nama besar seperti Bob Dylan, karirnya tidak tertolong. Nama Sugar Man (sesuai salah satu judul lagunya) pun menjadi abu, ironi?

                  Tapi berpuluh-puluh mill jauhnya di Cape Town, Afrika Selatan. Namanya dan karyanya di elu-elu kan. Dua Albumnya (Could Fact dan Coming From Reality) terjual setengah juta kopi. Sosoknya bahkan lebih terkenal dibanding Elvis Presly. Bahkan menjadi Theme Song Anti-Aphartide di era 70-80 an, lagunya menjadi theme song perjuangan. Bahkan beberapa albumnya di cekal di radio, TV bahkan hanya untuk beredar butuh sebuah perjuangan. Lagunya menjadi sebuah makna "Pemberontakan" bagi anak-anak muda dan terus diputar beberapa generasi.

                          Sixto Rodriguez di Cover Albumnya "Coming From Reality" (1971)


                   Searching For Sugar Man, entah bagaimana saya menceritakan prihal film dokumententer tersebut, menggetarkan. Mengisahkan dua orang detektif musik yang berjuang mencari sosok Sugar Man. Tanpa ada satu pun petunjuk karena namanya tidak terekam di sejarah. Sixto Rodriguez (Sugar Man), sekarang siapa yang kenal dengan nama tersebut? Di era itu, namanya tenggelam oleh kebesaran Elvis Presly, Hingar Bingar Jhon Lenon bahkan kharisma Bob Dylan. 

                 Tapi di Afrika Selatan, namanya melambung bersama kisahnya yang menjadi mitos, film ini sendiri mendapat penghargaan Oscar pada tahun 2013 silam. Keberhasilan sang sutradara Malik Bendjelloul merekam kisah sang "Sugar Man", dari perkampungan pinggrian Detroit, hingga mencari jejak nya dari satu label musik ke label musik lain, juga berkeliling kota Afrika Selatan. Membangun film dokumenter ini jadi layaknya sebuah novel fiction.

                 Pada satu sisi kita dibawa ke dalam kisah urban legend tentang Sixto Rodriguez terutama saat di Detroit, lalu bagaimana bakatnya tidak mampu membawanya ke puncak. Pada sisi yang lain pun kita akan di giring untuk mengagumi bakatnya setelah karyanya menjadi pujaan di negeri Nelson Mandela. Kehebatan Malik Bendjelloul merakit kisah sang maestro dari awal karir beriringan dengan kisah-kisah orang disekitarnya. Membuat sosok misterius tersebut menjadi lebih dekat walau beberapa hal belum terjawab.

                Toh dibeberapa part dalam film ini kita akan di bawa dengan sosok misterius Rodriguez, bakatnya yang bahkan disebut lebih hebat dari Bob Dylan, pertanyaan bagaimana sosok Rodriguez tewas, bahkan pertanyaan apakah Rodriguez sudah tewas? Sebuah film dokumenter dengan twist yang mendebarkan.

              Pada film ini pun kita akan ditemani lantunan lagu Sixto Rodriguez dari dua albumnya. Beberapa lagu seperti Sugar Man, I Wonder, Crucify Your Mind yang pernah jadi anthem pemuda Afrika Selatan era 70 an. Bahkan saya merasa Amerika telah menyia-nyiakan bakat dari pria keturunan Mexico tersebut. Sebagai musisi nama Rodriguez memang layaknya bakat lain yang timbul tenggelam. Tapi lumpur tidak akan mampu menyembunyikan emas. Hanya pencariaan sungguh-sungguhlah yang akan menemukannya. Inilah yang dilakukan Para Searching For Sugar Man di film tersebut.
             

0 komentar:

Posting Komentar