Resensi Film Thailand Heart Attack : Saat Freelancer Terkena Serangan Hati

Posted by Rizky kusumo On Selasa, 09 Februari 2016 0 komentar


           

               Tatapanya begitu nanar, lelah terjaga selama 5 hari akibat deadline, hingga penyakit yang mulai menjangkiti, badanya yang begitu lesu membawanya ke rumah sakit umum, menghindari tagihan rumah sakit swasta yang begitu besar, walau harus mengantri hingga ratusan, saat panggilan nomer antrinya disebut, hidupnya terasa begitu salah saat melihat tatapan, manis

          Rizky-Kusumo - Film Thailand memang menjadi jadi belakangan tahun ini, tidak hanya menhentak para horor freak, tapi mulai menembus dedek gemes plus bujak lapuk (:P) penyembah drama melankolia, masih perlulahkah saya menulis judulnya satu persatu? Memakan waktu, mungkin?  Karena begitu padatnya-sepadat deretan pemukiman kampung pulo yang digeser tempo lalu , Tapi begitu menyesakkan karena jarak Thailand yang begitu dekatnya dengan Indonesia (perjalanan 3 jam), Namun, begitu melihat cerita-cerita film Indonesia yang hanya berkutat pada Asuu..dahlah !!


               Bermula dari seorang freelancer grafis Yoon (Sunny Suwanmethanont), kemampuanya menyelesaikan tugas dengan cepat, membuatnya selalu mendapat job besar melalui agen dan teman satu-satunya Je (Violette Wautier),  Tapi karena kebiasaanya bekerja non-stop, bahkan hingga tidak tidur, akhirnya menimbulkan dampak, saat tubuhnya memunculkan bintik-bintik merah. Bintik-bintik merah ini pun terus menyebar apalagi dirinya menolak beristirahat barang semenit pun.
                                      
            Begitu kesalnya dengan pelayanan rumah sakit dan juga biayanya yang  begitu besar, membuat Yoon memilih pergi ke rumah sakit umum, walau harus mengantri dari pagi dengan jumlah antrian hingga ratusan orang. Berjam-jam menunggu dirinya pun mulai muak karena kegiatan tersebut apalagi prinsipnya yang tidak bisa membuang-buang waktu, tapi setelah namanya dipanggil dan masuk ke ruang perawatan, munculnya sosok Imm (Davika Hoorne) membuat pekerjaanya selama ini terasa salah                                  

              
Dokter cantik ini pun mendiagnosis kalau Yoon terkena alergi akibat konsumsi makanan saat lembur selama ini. Ketertarikan Yoon dengan sosok Imm memberikan dilema besar terhadap kegiatannya. Apalagi desakannya supaya Yoon mau beristirahat, tidur tepat waktu dan berlibur, berbenturan dengan deadline job desain grafisnya. Tapi bayang-bayang sang dokter cantik yang harus ditemuinya setiap bulan, mulai membuatnya sedikit membangkang

              Kisah film Heart Attack ini memang berjalan secara datar bahkan sangat minim dengan gimick antar pemain, tapi Nawapol Thamrongrattanarit sebagai sutradara mampu mengembangkan kekuatan antar karakter, hingga memunculkan konflik satu sama lain. Sebagai sutradara, Nawapol pun mampu mengemas cerita yang sederhana ini dengan kekuatan drama dan komedi khas film Thailand. Apalagi pengambilan kamera yang berbeda dengan beberapa film selama ini, memberikan nuansa baru bagi penikmat film itu sendiri.
               Tentunya munculnya beberapa nama tenar seperti Sunny Suwanmethanont sebagai tokoh utama yang pernah sukses berperan di film I Fine Thank You Love You, menjadi kekuatan tersendiri dalam film ini. Lalu adanya Violette Wautier  (walau bukan pemeran utama) menambah sisi konflik dengan karakternya (Jujur saya langsung jatuh hati dengan penyanyi satu ini :P), tentunya nama Davika Hoorne (Senyumanya sangat subhanallah walau tanpa hijab halal ;D) tidak boleh dilupakan, gaya khas seorang dokter muda benar-benar total dibawa oleh peragawati belasteran Thailand dan Belgia tersebut.

                                     

        Minim drama dan komedi yang lebay seperti haru biru ataupun lawakan garing ternyata memberikan kesan tersendiri. Para penonton seperti bisa masuk merasakan dilema seorang Yoon, menanti moment-moment romantisnya saat datang ke rumah sakit, hingga kelucuaan saat dirinya merasa bersalah dengan sulitnya menjaga janji. Bahkan saya nampak berharap adanya moment yang melankoli di akhir film ini. Tapi ya Asu dahlaah hahah

         Nampaknya ini yang ingin dihadirkan oleh sutradara satu ini, mengisahkan drama melankoli dan komedi tanpa melepaskan unsur realitanya sebagai manusia. Tapi dengan film ini kita setidaknya bisa berkaca-kaca bahwa negeri tetangga bisa menampilkan kekayaan cerita, tidak berkutat dalam dagangan bertema melow-drama, ekspolitasi penyakit, hingga jual-jual an kesedihan wanita yang dipoligami :P.

READ MORE