Sejarah Palestina Cuma Satu : Maukah Kita Merubahnya?

Posted by Rizky kusumo On Rabu, 09 Juli 2014 0 komentar
                (09/07)  Perang? Darah? Pemberontakan? Pembantaian? Perebutan kekuasaan? itulah sejarah negara yang tercatat berdiri pada tahun 1988, Palestina. Ironi sejarah kah?

                  Tapi Palestina tidaklah sesederhana itu, semua ironi sejarah itulah yang membentuk "negara?" tersebut dari zaman batu hingga kuda besi (kalau kata kaum evolusionis). Kalau kata kaum evolusionis bisa jadi itu bukan ironi sejarah, toh itu adalah kebutuhan, seperti makan, tempat tinggal, dll, manusia lah yang membuat sejarah atau tersingkirkan. Naifkah? 

                   Pertanyaan nya? kenapa hal-hal itu tidak terjadi pada negara-negara disekitar Palestina, Yordania misal atau Mesir? Itulah logika dasar saya, toh Yordania memiliki minyak berlimpah atau Mesir yang dalam literatur-literatur kuno pun sudah terbrand sebagai bangsa berperadaban maju. Lalu kenapa Palestina? 
                  
                    Lalu kenapa Palestina? Lalu kenapa Palestina? Kenapa negara ini selalu menjadi "medan perang" dari zaman Yosua bin Nun (yg tercatat), Babilonia, Romawi, pemberontakan Yahudi, Perang Salib hingga Israel sekarang. Masyarakat yang katanya kaum evolusionis subjek dari pembuat sejarah, setiap detik  menjadi korban.

                     Berbicara tentang Palestina berarti kita bicara tentang land atau daratan atau tanah. Inilah yang menjadi teori kaum evolusionis tentang pendudukan wilayah. Tapi Palestina bukanlah tanah biasa, seperti Mesir, Yordania, bahkan Amerika Serikat sekalipun. Ladang perebutan "tanah yang dijanjikan" menurut versi masing-masing. Saya sendiri tidak mau bergerak ke ranah situ (agama) terlebih dahulu, karena nantinya seperti kata masyarakat sangat "sensitif". 

                     Tapi, memang kita tidak bisa melepas motif tanah tersebut dari alasan keadaan yang terjadi pada Palestina. Dulu Yosua bin Nun yang mendapat tongkat estafet kepemimpinan dari Moses (Nabi Musa A.S) untuk membawa umat Israel pun melakukan 'tragedi' sejarah dengan membunuh warga asli Palestina (zaman itu) di kota Jericho. Kemudian rentetan-rentetan tragedi sejarah pun menjadi sebuah gelombang ada pasang ada surut.

                     Saya sendiri tidak mau berpanjang lebar menceritakan tragedi sejarah itu, toh ada beberapa faktor terutama karena saya bukan lulusan fakultas sejarah (nanti terlihat sok tau), kemudian walaupun saya tidak menjelaskan pun kita dapat mencarinya lewat google atau literatur. Lalu yang terakhir toh tidak ada mamfaatnya kalau kita tidak mau merekonstruksi dan mengambil pelajaran dari sejarah.

                     Ahh, saya terlalu kritis tentang hal itu (mudah-mudah-an saja tidak ke arah destruktif), skeptiskah kalau kita berharap masyarakat Palestina bisa beribadah ke Tembok Ratapan? Masjid Al-Aqsa atau Doom Of Rock? atau Gereja Kebangkitan dengan tenang. Ilusikah kalau kita berharap anak-anak kecil Palestina ataupun Israel bersama-sama bermain di pesisir Gaza.

                   Ya, ironik sekali toh anak-anak kecil itu belum pasti paham keadaan di mata kepala mereka, di teras rumah mereka, di altar-altar sekolah mereka. Tapi roket, bom, pasukan bersenjata yang mengajari bahwa mereka harus hidup dalam suasana tragis setiap saat. Itulah ironi sejarah, merekalah objek sejarah yang tidak pernah tahu mengapa dan kenapa? Negara yang mereka tempati dari nenek moyang hingga bayi-bayi kecil lahir, belum ada tanda udara perdamaian.

                  Hingga Al-Masih datang kah? Ahh, hal ini pun menjadi motif untuk melegalkan serangan-serangan itu. Lalu apakah Al-Masih akan rela umat manusia harus saling membunuh untuk "prasyarat" kedatanganya? Entahlah itu berada dalam tataran gaib, kalau pun berdebat dengan ilmu yang terbatas sama halnya menghela kain sarung,, tak ada habisnya. Toh lagi-lagi tidak semua masyarakat Palestina akan paham dan memaklumi ini.

                     Lagi-lagi masalah agama kah? Ahh, kadang kita terlalu menyederhanakan masalah, saat buntu agama jadi solusi pragmatis atau dibilang biang permasalahan. Padahal agama pun sudah terdistorsi maknanya semakin dalam. Butuh lebih dari pemikiran kritis untuk menyadari bahwa rahmatan agama adalah untuk semua umat manusia. Karena itulah tidaklah patut kita menaruh agama dalam pusaran ego peperangan yang terjadi saat ini, sangat tidak layak.

                    Apakah kita setidaknya mau belajar dari para pembawa risalah agama besar itu? Moses (Musa. A.S), Yesus (Isa. A.S), dan Muhammad S.A.W. Apakah mereka saat mengajarkan agamnya melakukan tuntutan terhadap tanah yang dijanjikan? Menuntut pengusaan wilayah dengan kekerasaan? Bukankah yang mereka perjuangan adalah harkat martabat manusia, Musa bagi umat Israel di Mesir, Isa bagi umat Yahudi di Palestina, lalu Muhamaad bagi umat Islam di Arab. Tidaklah ini menjadi pelajaran untuk menciptakan perdamaian secara universal. 

                      Sekarang kita bertanya tentang PBB? Mungkin bagi kita sudah mafhum belaka kenapa organisasi bangsa-bangsa ini tak berkutik melawan ketidakadilan di Palestina. Mereka kadang lebih galak menangani pemberontak "primitif" di Sudan ataupun di Somalia. Yah, sudah mafhum kita dengan itu semua. Atau lebih nyaring mengumandangkan declaration Of Human Right jauh lebih kencang saat mengkampanyekan Demokrasi ke negara-negara otoriter. Ya, lagi-lagi sudah mafhum belaka.

                       Kalau begitu kita harus menggugat, mana pasal 1 dari declaration yaitu hak hidup bagi masyarakat Palestina? bukankah seorang anak petani Palestina akan dijamin hidupnya sama seperti anak pangeran William? anak nelayan Palestina dijamin hidupnya sama seperti anak presiden Amerika Serikat? Bukakah itu yang tertera dalam deklarasi itu? Kalau logika saya tidak sesuai bolehlah kita bersama-sama mengurainya.

                      Ya itulah yang terjadi dalam dunia hidup warga Palestina terutama Gaza, apa asal mula dari konflik ini? apa motif dari konflik ini? apa kepentingan dari konflik ini? Bagi kita biarlah itu berada dalam tataran masyarakat, terlalu akademis bagi kita untuk mengurai konlik tapi tidaklah pernah selesai mengatasinya. Rakyat Palestina dan masyarakat dunia lainya sekarang membutuhkan ketegasaan dari pemimpin dunia untuk mengecam kekejaman atas nama apapaun. Lalu, mimpi-mimpi semua anak dunia akan semakin bersemi, tidak lagi berurusan dengan tragedi sejarah. Bismillah.
                  

0 komentar:

Posting Komentar