Sejarah Tidak (Selalu) Membutuhkan Gelar

Posted by Rizky kusumo On Senin, 10 Februari 2014 0 komentar
             
            
                Jam 06.00 WIB tertanggal 1 Maret 1949, terjadi sebuah peristiwa yang menjadi epik sejarah bangsa ini dan termasuk sub bab “Merdeka 100%”. Yogyakarta, menjadi saksi sejarah serangan umum 1 maret yang digagas oleh salah satu putra bangsa, Soedirman. Semua tentunya kenal Soedirman, Bapak tentara Republik Indonesia, salah satu Jenderal yang memiliki 5 bintang TNI, tentulah gelar pahlawan bangsa atas jasa-jasa beliau dengan aksi-aksi heroiknya. Tapi, siapakah Soedirman 5-10 tahun sebelum peristiwa itu?
          Konon, ada yang bilang bahwa Jendral A.H.Nasution sebagai perwira terlatih meremehkan kemampuan strategi Soedirman. Hal ini pantas muncul, karena selama hidupnya Soedirman lebih banyak berkutat pada bidang mengajar bahkan puncaknya beliau menjabat sebagai Kepala Sekolah. Beliau pun baru masuk PETA (Pasukan Pembela Tanah Air) sekitar tahun 1944. Tentulah menjadi menarik, begitu cepatnya Soedirman mendapatkan tapuk tertinggi TNI (2 tahun). Karena, pada 1945 Sudirman akhirnya terpilih menjadi pemimpin TKR (cikal bakal TNI).
            Soedirman bukanlah nama dengan gelar, beliau hanya lahir dari keluarga sederhana di daerah Purbalingga, Jawa Tengah. Nama “Raden-nya” ditutupi karena memang berasal dari pamanya yang bertindak sebagai ayah angkatnya. Hidup sebagai anak desa yang sederhana lah yang membuat Soedirman menjadi pemuda bangsa yang tangguh. Kecakapnya dalam bekerja walau upahnya kecil lah yang membuat beliau dicintai oleh rakyatnya, Membangkitkan kisah-kisah legenda tentang pemuda desa yang menggucang nusantara.
            Kisa-kisah atau babad jawa pun penah mengisahkan kejadian yang latar belakangnya hampir sama. Pramoedya Ananta Toer dalam novelnya berjudul Arus Balik, dengan bangga mengisahkan perjuangan Galeng yang berasal dari desa tapi mampu menjadi Mahapatih kerajaan Tuban. Dalam novel itu Galeng yang kelak bernama Wiragaleng, memiliki kecakapan, keuletan dan keberanian beriringan dengan kesederhanaan hidup dibandingkan pemuda pada zamanya.
            Menggunakan latar belakang runtuhnya kerajaan Majapahit, mulai berkembangnya kerajaan Islam, dan datangnya Portugis ke Nusantara. Membuat kehidupan Galeng tak ubahnya kehidupan Soedirman yang berada dalam proses Penjajahan,  Kemerdekaan, dan Invansi Sekutu. Kemampuan Galeng membuat dirinya setahap demi setahap masuk dalam jajaran elit ketentaraan kerajaan Tuban.
            Walau sejarah Galeng ini belum tentu asli, karena dibangun secara novel oleh Pramoedya. Tetapi karakter nya sebagai anak desa yang mampu mendapatkan kepercayaan dalam posisi penting, bahkan berhasil mengusir Portugis tentulah menjadi pelajaran sejarah yang amat sangat penting. Layaknya Soedirman dan Galeng pemuda desa tanpa gelar mampu mencetak sejarah bangsanya.
            Dalam kisah-kisah Raja-Raja Jawa, pernah mengisahkan salah satu tokoh penting permersatu Nusantara bernama Gajah Mada. Tokoh yang selalu dipakai sebagai simbol kebesaran, pemersatu, kehebatan Nusantara. Latar belakangnya sebagai anak desa pun selalu menjadi kisah kontroversial beriringan dengan asal-usulnya yang masih misteri hingga saat ini. Tapi kisahnya sebagai patih yang mengesankan dengan ketegasan dan kecakapan membuat dirinya mampu masuk ke strata bangsawan saat itu.
            Gajah Mada merupakan simbol dari pahlawan tanpa gelar pada awalnya, atau From Zero To Hero ala Indonesia. Sayang, kisahnya jarang diceritakan kepada para pewaris bangsa yang kadang jauh lebih gandrung kepada pahlawan dengan title atau pahlawan luar negeri. Tapi, peristiwa sejarah yang selalu berulang-ulang ini walau dengan latar belakang yang berdeda, haruslah kita resapi.
Gajah Mada pernah mengucapkan sumpah, bahwa bila telah mengalahkan (menguasai) Nusantara, saya (baru akan) melepaskan puasa, bila telah mengalahkan Gurun, Seram, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, demikianlah saya (baru akan) melepaskan puasaApakah para pemimpin dan tokoh bangsa yang kebanyakan “gelar” mau melakukan hal itu? Atau setidaknya membaca perjuangan para pemuda desa sebagai bahan pelajaran?
Sejarah memang membutuhkan tokoh, latar belakang, waktu/setting lokasi layaknya pertunjukan teater. Tapi sejarah bukanlah pesanan dari penguasa tapi arus masyarakatlah yang membentuk atau menarik dirinya sendiri. Itulah yang membuat para Zero berubah menjadi Hero pada akhirnya. Karena itulah kepada para tokoh atau “calon” tokoh masa depan kenapa kalian memusingkan gelar? Sejarah tidak (selalu) membutuhkan gelar.

Tulisan ini untuk Sejarahri.com

0 komentar:

Posting Komentar