Resensi Buku : Teosofi, Nasionalisme, Dan Elite Modern Indonesia (Iskandar P Nugraha)

Posted by Rizky kusumo On Kamis, 27 Februari 2014 0 komentar
               

                       Pada pembukaan buku berjudul Di Bawah Lentera Merah, yang merupakan hasil tulisan Soe Hok Gie. Gie kurang lebih pernah beranalisa, bahwa bangsa/masyarakat Indonesia merupakan bentukan dari tiga ideologi besar yaitu Islam, Nasionalis, dan Komunis. tiga ideologi inilah yang membentuk pondasi masyarakat Indonesia hingga Indonesia merdeka. Sebagai tiga ideologi besar dengan massa besar pula, pertempuran pengaruh menjadi semakin tajam pada masa-masa awal kemerdekaan. Hal yang nantinya menimbulkan "bara dalam sekam" dalam perebutan pengaruh tipe kenegaraan. Dalam pertempuran itu, ideologi Nasionalis secara simbolis dianggap yang paling "mewakili" karakter ke-nusantaraa-an. 
                    Tapi bagaimana karakter nasionalis terbentuk? Bangsa Indonesia sendiri terdiri dari beberapa suku, agama, bahasa, dan budaya. Satu sama lain saling tertutup, karena sistem feodal Indonesia yang masih tetap dipertahankan bangsa Belanda untuk memuluskan penjajahan. Hasilnya ide persatuan dan kesatuan selalu dianggap barang Utopis banyak pemikir saat itu. Namun, setelah adanya sumpah pemuda (28 mei 1928) dengan mengumpulkan beberapa elemen perjuangan, anggapan Utopis itu pun sirna. Tapi, melacak pondasi Nasionalis tetap lah sulit, bagaimana Indonesia dengan beberbagai ras, agama, bahasa, budaya akhirnya mau berkumpul tanpa membedakaan satu sama lain.
                  Hal ini yang mau diungkapkan oleh Iskandar P Nugraha dalam bukunya Teosofi, Nasionalisme, Dan Elite Modern Indonesia. Pada buku cetakan 2001 itu, beliau setidaknya ingin mengungkapkan sepak terjang Teosofi pada tahun-tahun 1901-1930 an. Bahwa gerakan inilah yang paling berpengaruh menamkan pemikiran Nasionalis kepada masyarakat khususnya pribumi saat itu. Bahkan berdirinya Budi Utomo (1908), tidak bisa terlepas dari pengaruh gerakan yang berpusat di Adyar, Madras, India tersebut. Apalagi ketua pertama BO, Dr, Radjiman Wedyodiningrat merupakan anggota Teosofi.
               Karena itulah, Seperti pengantar dari David Reeve dalam buku ini, "Sejak 1880 sampai akhir 1920-an, gerakan Teosofi merupakan suatu bagian penting dalam kehidupan Intelektual dan sosial di Eropa, Amerika, Australia, dan "Asia", terutama di negara-negara kolonial". Menjadi perhatian saya untuk meresensi buku ini, sehingga "setidaknya" menjadi jembatan para pembaca untuk mengetahui isi buku tersebut. Sehingga menjadi cakrawala pengetahuan tentang asal usul lahirnya benih Nasionalis bangsa.
                  Dalam buku ini, Iskandar mulai menarasikan gerakan Teosofi dari tahun 1901 saat organisasi itu diresmikan di Semarang. Gerakan ini sendiri menarik simpati masyarakat Hindia Belanda yang bercorak mistis-okultis. Bahkan, beberapa nama yang nantinya termasuk jajaran pahlawan nasional pun pernah terdaftar dalam gerakan ini. Sebut saja Goenawan dan Tjipto Mangoenkoesomo, H Agus Salim, Amir Sjarifoedin, bahkan R Soekemi (ayah IR. Soekarno).
                  Menjadi perhatian lebih karena sekolah Arjuna (gerakan pendidikan Teosofi) dan Taman Siswa (sekolah yang didirikan Ki Hajar Dewantara), sama-sama mendapat pengaruh dari Montessori dan Rabindranath Tagore. Kemudian menjadi perhatian, karena dalam sekolah Arjuna ini para murid-murid diajarkan untuk bersikap patriot (cinta tanah air), hal itu dimulai dari mengasah keterampilan seni lokal, seperti drama, sastera, dll. Hal itu yang dianggap membekas bagi para alumni nya, bahkan mereka pun mengenalkan hal tersebut kepada lembaga lain seperti Taman Siswa. Seperti kata Mohammad Yamin dan Sanoesi Pani, saat mereka bermain seni tersebut nantinya akan membuahkan rasa kesadaran kebangsaan yang kuat.
                  Pengaruh Teosofi pun pernah diungkapkan oleh Presiden pertama Indonesia, IR.Soekarno,"kami mempunyai sebuah perpustakaan yang besar di kota ini (Surabaya) yang diselenggarakan oleh perkumpulan Teosofi..., Aku menyelam lama sekali ke dalam kebatinan ini, dan disana aku bertemu dengan orang-orang besar, buah pikiran mereka menjadi buah pikiranku, cita-cita mereka adalah pendirian dasarku". Statement Soekarno ini akhirnya menjadi sebuah rujukan, bagaimana Bung Karno yang besar dalam lingkungan Sarikat Islam (SI) malah condong befikiran Nasionalis.             
                  Kemudian lambat laun, saat suasana pergerakan mulai mengalami masa-masa bergerak secara radikal. Organisasi "kultur" Teosofi pun mulai ditinggalkan, hal itu pun ditambah kecaman dari kalangan agama seperti Islam dan Kristen Katolik, akibat kegiatan Teosofi yang mengarah ke okultisme (kebatinanan) dan ajaran Islam atau Kristen yang diajarkan tidak sesuai. Kecaman dari beberapa pihak inilah yang membuat anggota Teosofi pun mulai menurun, apalagi para pejuang saat itu menganggap organisasi ini masih bagian dari Belanda. Akhirnya, pada tahun 1930-an terjadi penurunan besar-besaran anggota Teosofi dan organisasi yang sejenis seperti Budi Utomo (BO). 
                    Akhirnya bagi saya, ini menjadi babak di mana Iskandar sebagai penulis ingin menerangkan bahwa Teosofi sebagai "Bapak" yang mengenalkan rasa Patriotik sudah ditinggalkan secara organisasi oleh anak-anakya. Walau begitu, secara pemikiran, ajaran dasar Teosof selalu tertanam kepada para pribumi yang pernah belajar disana. Seperti ungkapan dari Achmad Soebardjo, "Meskipun banyak hal yang disetujuinya sepenuh hati walau ada beberapa yang dipaksakan, saya mendapat pengalaman berharga di dalam organisasi ini".
                  Hasilnya Iskaandar sendiri memang hanya berkisar menganalisa, bahwa jiwa patriotik (nasionalis) muncul dari jiwa-jiwa lulusan teosof dan organisasi sejenis. Sayangnya, saat era pra-kemerdekaan dan pasca kemerdekaan tidak mendapat tempat dalam buku ini. Walau, secara organisasi Teosofi sudah hilang sejak tahun 1930 an, tapi koneksi antar eks-Teosof tentu sangat penting. Kekuranganya dalam buku ini tidak menjelaskan, apakah masih ada pengaruh organisasi atau eks orang-orang Teosofi terhadap pergerakan saat itu? atau masih ada kah koneksi dan pengaruh eks anggota teosof disaat era-era pembentukan negara.
                            Tapi bagi saya pribadi, kajian sejarah dalam buku ini termasuk patut untuk dibaca oleh kawan-kawan. Apalagi untuk melihat pembawa akar kelahiran "kembali" jiwa-jiwa patriotik (Nasioanlis) bangsa. Tanpa melihat latar belakang sebuah gerakan terutama Teosofi, tentulah kita tidak akan mampu menilai peran yang sebenarnya mereka bawa. Menjadi lebih penting, karena hingga saat ini Indonesia secara "simbolis" akar Nasionalis atau persatuan dalam berbagai ras, agama, bahasa, budaya lah yang jauh lebih cocok dipakai. Hal yang memang sejak awal menjadi ajaran dasar Teosofi.
                                Kemudian dalam buku ini, para pembaca pun akan mengetahui inti ajaran Teosofi dan pergerakanya di dunia. Bagaimana organisasi ini sangat menarik bagi masyarakat yang masih mempercayai okultisme (kebatinan)-mistis, seperti Indonesia dan India. Tentulah yang paling menarik, Iskandar pun menampilkan nama-nama anggota Teosofi dari beberapa daerah seperti Surakarta, Malang, Semarang dll. Di mana banyak bupati atau bangsawan saat itu ternyata termasuk anggota Teosofi tersebut. Tentulah yang menarik, ternyata banyak tokoh nasional dan para perumus ketatanegaraan nantinya banyak terinspirasi atas ajaran Teosofi tersebut.  
                   

0 komentar:

Posting Komentar