Resensi Buku : Manusia Indonesia (Mochtar Lubis)

Posted by Rizky kusumo On Jumat, 15 November 2013 0 komentar
             

                   Beberapa hari yang lalu, Tepatnya hari Minggu (10/10) bertepatan dengan hari pahlawan. Gua berkesempatan untuk mampir ke Gelora Bung Karno. Gua pun menyempatkan mampir ke Book Fire yang menjadi hari penutup. Cukup banyak Outlite penerbit buku yang buka seperti Mizan, Komunitas Bambu (KOBAM), Obor, dll. Sangking banyak buku dan sangking "Diskon", Gua sendiri sempet menyesal kenapa tidak dari awal mengunjungi event tersebut
                Tapi tentulah banyak buku yang layak untuk kita review seperti novel, buku sejarah ataupun buku politik dan hukum. Kemudian ada juga penerbit-penerbit yang memang layak dikunjungi Outlitenya, Salah satunya penerbit buku Obor.  Penerbit yang dibuat oleh Mochtar Lubis ini memang menyajikan buku yang layak untuk dibaca. Seperti Trilogi Tan Malaka karya Harry A Poeze, Tulisan tragedi 1965, dan Tulisan-tulisan Mochtar Lubis.
                  Karena itulah kali ini akan mereview salah satu buku yang Gua beli di Book Fire kemarin. Buku karya Mochtar lubis,berjudul Manusia Indonesia ini merupakan salah satu kumpulan dari tulisan salah satu wartawan Indonesia ini. Selain Nirbaya dan Senja di Jakarta. Buku ini menjadi layak dibaca sebagai bahan renungan walau lebih banyak menampilkan sisi negatif dari masyarakat Indonesia. Untuk itulah mari kita bahas buku tersebut dalam Thered ini.

Manusia Indonesia

               Buku ini merupakan salinan ceramah Mochtar Lubis yang di kemukakan oleh beliau di TIM (Taman Ismail Marzuki). Pidato ini menerangkan tentang karakter manusia Indonesia menurut prespektif Mochtar Lubis. Setidaknya ada 6 ciri yang diungkapkan oleh beliau yang dirangkum menjadi 6 bab pada buku tersebut. Ciri-ciri ini mungkin banyak yang masyrakat Indonesia sudah merasakannya sekarang, walau banyak juga krtik dalam buku tersebut.
               Setidaknya kita seperti dibawa pengenalan karakter masyasrakat Indonesia seperti Munafik, Lepas Tanggu jawab, ABS (Asal Bapak Senang, Neo-Feodalisme, bahkan sikap positifnya yaitu punya arsisitik yang tinggi. Tapi buku ini dianggap tidak menampilkan keseluruhan masyarakat Indonesia secara objektif karena tanpa didasari data-data. Itulah yang menjadi kritik beberapa tokoh setelah mendengar atau membaca tulisan Mochtar Lubis ini.
                Namun, buku ini cukup bagus untuk membuka wacana tentang Manusia Indonesia walau harus dikritisi dengan lebih analistis. Tapi, dalam buku ini kita bisa mengetahui bagaimana keberanian Mochtar Lubis untuk mengungkapkan pemikiranya. Tentulah bagus untuk terus ditelahah apalagi buku atau ceramah tersebut keluar pada dekade 70 an. Apakah, karakter manusia Indonesia sudah membaik? atau malah bertambah buruk?
                
\

0 komentar:

Posting Komentar