Siapakah Saya?

Posted by Rizky kusumo On Jumat, 17 Agustus 2012 0 komentar



Belum lama berselang, saya pernah menonton sebuah film Brazil berjudul City Of God. Film ini menceritakan seorang anak yang hidup dan tumbuh di kota dengan kondisi sosial yang rusak. Sebuah film yang menceritakan bagaimana akhirnya dia harus melihat teman-teman kecil nya mati di depannya? Dan bagaimana dia memilih jalan hidupnya sendiri? Pengambilan lokasi yang mengambarkan realitas sosial di Brazil dengan gangsternya, peredaran dan pemakaian narkotika, dan seks bebas. Sepertinya mengingatkan saya dengan kehidupan di Indonesia pada masa-masa silam, bahkan hingga sekarang.
Kisahnya tentang seorang anak yang harus tumbuh di lingkungan yang sangat buruk. Semenjak kecil dia harus melihat kelakuan orang-orang tua yang sering melakukan pembunuhan, dan memakai narkoba. Bahkan beberapa temannya akhirnya memilih atau dipaksa untuk menjadi seorang pembunuh. Namun, akhirnya dia memilih untuk menjadi seorang jurnalis dan menolak kebiasaan di lingkungannya. Tentulah dalam film ini menimbulkan pertanyaan bagi kita semua, apa kehidupan ini merupakan sebuah pilihan? Ataukah semuanya sudah diatur oleh alam?
Persoalan yang dilontarkan pada kita di film ini adalah sebuah realitas sosial. Apalagi sebagai anak muda yang sedang mencari jawaban “Siapakah saya?“ Sebagai seorang anak muda yang lahir di lingkungan yang sering dipertontonkan kisah-kisah tentang pemimpin yang korup, anak muda yang apatis dan hedonis, dan hilangnya sikap gotong royong. Apakah generasi setelahnya pun hanya mewarisi sikap-sikap seperti itu?  Seperti yang terjadi di film City Of God yang hanya mewarisi kehidupan gangster, peredaran narkoba yang diwarisi pendahulunya.
Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, kita harus menanyakan pada diri kita sendiri “Siapakah saya?” dan jawaban kita menentukan pilihan itu sendiri. Sang anak tadi pun harus menjawab pertanyaan besar tersebut. Jika dia memilih untuk hidup seperti lingkungannya, menjadi seorang gangster, dan pengedar narkoba. Tentulah dia tidak akan dipencundangi oleh teman-temannya. Dia pun pastinya akan menjadi kaya, ataupun punya banyak wanita dan pastinya dia tidak akan dipersalahkan karena lingkungannya pun seperti itu. Tetapi pilihannya untuk keluar dari kebiasaan dan memutuskan menjadi seorang fotografer lah yang menentukan “Siapakah dirinya.” Karena, pilihanya tersebut bisa saja membuat dia dibunuh oleh teman-temannya.
Seperti yang banyak terjadi di negara ini, di mana setiap hari lahir para orang-orang korup baru. Padahal orang-orang itu pastinya telah diajarkan tentang prinsip kejujuran sejak kecil. Namun, prinsip itu sepertinya telah hilang, saat mereka mengetahui lingkunganya pun korup. Karena hal yang sudah biasa dilakukan, pastinya tidak menimbulkan rasa berdosa apalagi lingkungannya pun mendukung.  Jadi apakah kehidupan ini merupakan sebuah pilihan? Ataukah kita hanya mewarisi kebiasaan dari orang-orang tua.
Anak muda sekarang pun amat mudah merasionalisasikan keadaan. Kemalasaan mereka dirasionalisasikan sebagai sikap apatisme ataupun slogan-slogan golongan dirasionalisasikan sebagai gerakan revolusi. Kadang-kadang kita selalu bertanya apa yang sebenarnya kita lakukan selama ini? kritikan kita tidak merubah keadaan, malah menambah musuh saja? Ataukah kita adalah orang yang ingin mengkritisi segala sesuatu walaupun pengetahuan dan pengalaman kita terbatas? Hal inilah yang akhirnya menimbulkan rasa kemalasan ataupun dengan julukan gaulnya “apatisme” yang sering menjangkiti beberapa teman kita.
Pertanyaan itu pun sering datang kepada saya. Namun saya selalu berkata pada diri saya sendiri. Bahwa saya adalah seorang mahasiswa, sebagai seorang yang masih harus belajar dan mengejar cita-cita. Karena itu saya akan berani untuk berterus terang, walaupun ada kemungkinan saya salah. Lebih baik bertindak keliru daripada tidak bertindak karena takut salah. Karena kebenaran bukanlah dalam bentuk instruksi dari siapa pun, tetapi harus dihayati secara kreatif sebagai manusia yang selalu berpikir.
Hal yang lebih lucu lagi adalah saya sering bertemu dengan teman-teman, baik dari kampus ini maupun kampus lain. Disaat kami melakukan perjuangan dalam tulisan ataupun pergerakan, saya pun sering bertanya “Kenapa kalian melakukan semua ini?” seorang dari mereka pun menjawab “saya melakukan semua ini, karena merupakan perintah dari ormas dan bergeraknya saya merupakan perintah dari pimpinan, dan bagi saya itu adalah kebenaran.” Hal ini lah yang meracuni penerus-penerus bangsa, kebenaran mereka hanya dibatasi oleh perkataan Ormas inilah, golongan inilah, atau ideologi inilah. Sebuah hal yang menjadikan bangsa ini selalu berada dalam kotak-kotak yang saling membenarkan satu sama lain.
Padahal sebagai anak muda apalagi mahasiswa, kita haruslah mempunyai prinsip dan sebuah indepedensi. Kita harus berkata itu benar karena memang itu benar, bukan karena slogan ormas, hasutan dari tokoh-tokoh, ataupun kepentingan ideologi. Sebagai seorang mahasiswa seharusnya kita memilih apakah nantinya terpaksa menjadi seperti kata-kata pimpinan ormas pilihan kita? Ataukah menjadi seorang mahasiswa yang sesuai wujud sebenarnya? Pilihan inilah yang bebas dipilih oleh manusia. Namun, seperti cerita film tersebut  apakah teman-teman mau tetap hidup dalam kebiasaan seperti itu? Ataukah memilih jalan lain.




0 komentar:

Posting Komentar