Rendang masakan terlezat di dunia

Posted by Rizky kusumo On Minggu, 20 November 2011 0 komentar


Rendang daging adalah masakan tradisonal bersantan dengan daging sapi. Makanan khas Sumatera Barat, Indonesia. Selain daging sapi, rendang juga menggunakan Kelapa (Karambia), dan campuran dari berbagai bumbu khas Indonesia di antaranya cabai (lado), Lengkus, serai, bawang dan aneka bumbu lainnya yang biasanya disebut sebagai (pemasak). Sebagai suatu makanan khas, rendang berhasil keluar dari kulturnya dan mencapai popularitas tanpa dikontrol oleh pihak yang berkuasa di tiap-tiap zaman. Bahkan, kata ”Rendang” telah tersebut dalam banyak kesustraan Melayu Klasik, salah satunya pada Hikayat Amir Hamzah. Ini membuktikan bahwa rendang telah menjadi kuliner kegemaran kaum Melayu sedari 1550-an. Dalam perkembangannya, Rendang dikenal dalam beragam jenis. Ada rendang derek, rendang bukik, dan rendang pakuyumbuh. Perbedaan di antara jenis-jenis tersebut adalah hanyalah perbedaan di daerah mana rendang tersebut dibuat. Derek (atau ’’Darat’’ dalam bahasa minang) merupakan daereah perbukitan di Minangkabau. Wilayahnya mencangkup beberapa kabupaten/kota yang berada di kaki bukit barisan, seperti agam, tanah datar, limapuluhkota, dan wilayah sekitarnya. Di Minangkabau, darek juga biasa disebut Luhak Nan Tigo (luhak yang tiga) wilayah derek adalah tempat berasalnya adat Minang. Konon, rendang derek inilah yang lebih dikenal sebagai rendang asli Minang.


                                          ''masyarakat Minangkabau''
Makna Budaya
Di masanya, ada perjumpaan antara agama islam yang datang dari pesisir dan adat dari dataran. Perjumpaan ini menghasilkan filsafah dengan cukup terkenal,  syara’ mandaki, adat manurun” (agama mendaki, adat menurun). Hal ini bermakna Hal ini bermakna bahwa agama Islam yang berasal dari pesisir mengalami perkembangan dengan “mendaki” ke darat. Sementara sebaliknya, adat Minangkabau yang berasal dari darat bergerak “menurun” ke arah pesisir. Pertemuan adat Minang dan Islam inilah yang kemudian terjalin dalam falsafah “adat basandi syara’, syara’ basandi kitabullah” (adat bersendikan agama, dan agama bersendikan kitabullah). Secara filosofis, masyarakat Minang menyimbolkan unsur-unsur dalam rendang untuk merepresentasikan elemen-elemen dalam masyarakatnya. Mereka melambangkan dagiang (daging) sebagai lambang ninik mamak(para pemimpin adat), karambia (kelapa) sebagai lambang cadiak pandai (kaum intelektual), lado (cabe) sebagai lambang alim ulama yang pedas dan tegas, serta pemasak (bumbu) sebagai pelengkap yang merupakan lambang dari keseluruhan masyarakat Padang. Masyarakat Minang mempercayai bahwa untuk menciptakan kesejahteraan, dibutuhkan perpaduan empat unsur itu secara seimbang. Demikian pula  prinsip yang dipercaya untuk membuat rendang yang lezat.
                                               ''menikmati rendang''
Cita Rasa Rendang
Berbeda dengan kebanyakan makanan lain, rendang tak dibuat secara instan. Rahasia rendang yang enak dan gurih ditentukan oleh ketepatan memilih daging dan cara pengolahan. Daging yang dipilih untuk diolah adalah yang padat dan tanpa lemak. Sementara untuk kelapa, dipilih yang sudah tua untuk dapat menghasilkan santan yang kental. Untuk mengolah 1 kilogram daging menjadi rendang, dibutuhkan minimal 3 biji kelapa tua untuk diambil santannya. Demi menjaga kualitas rasa, rendang asli Minang pantang menggunakan santan kelapa yang dijual kotak per kotak macam di supermarket. Kelapa yang diambil ialah kelapa yang dipetik langsung dari pohonnya. Daging kelapa inilah yang kemudian diparut dan diperas sehingga menghasilkan santan kental. Santan ini kemudian dipanaskan dalam sebuah kuali hingga berubah warna menjadi kecoklatan dan mengeluarkan minyak beraroma khas. Kekhasan inilah yang menempatkan rendang menjadi masakan terlezat nomor 1 di dunia dari hasil riset yang dilakukan CNN yang melibatkan 35.000 responden dari seluruh dunia. Masyarakat Indonesia pun patut berbangga akan hasil ini dan harus terus dilestarikan agar bisa dinikmati oleh anak-cucu, dan supaya tidak diklaim oleh negara lain.
                                            

0 komentar:

Posting Komentar